Tiga Keluarga Owa Jawa Siap Menghadapi “ Kebiasaan Baru ”

Pusat Rehabilitasi Owa Jawa (Javan Gibbon Center, JGC) yang merupakan kerja sama antara Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) dengan Yayasan Owa Jawa (YOJ) terus masih berkomitmen penuh dalam upaya pelestarian owa jawa (Hylobates moloch), primata endemik jawa dengan status dilindungi peraturan perundang-undangan. Sejak tahun 2009 hingga saat ini tercatat sebanyak 32 individu owa jawa (11 keluarga) telah dilepasliarkan ke alam. Untuk pertama kalinya, satwa langka ini dilepasliaran dilakukan pada tahun 2009 sebanyak satu keluarga (dua individu) di Resort Pengelolaan Taman Nasional Wilayah Bodogol TNGGP.

Keberadaan owa jawa di alam penting untuk memelihara keseimbangan ekosistem. Owa jawa memakan buah dan menebarkan bijinya ke wilayah lain di wilayah jelajahnya (home range) dalam kawasan hutan.

Tahun 2020 merupakan tahun kebahagiaan tiga keluarga owa jawa yang akan dilepasliarkan di alam. Mereka menunggu cukup lama untuk bisa merasakan kebebasannya di alam liar. Keenam satwa ini berasal dari sitaan dan penyerahan secara sukarela, ada yang berasal dari Banten, Bandung, Garut, Sukabumi, dan Bogor. Pelepasliaran tidak dilakukan sembarangan, tapi didahului dengan upaya pemulihan (peliaran) di JGC sampai akhirnya mereka dinyatakan siap untuk dilepasliarkan di alam sebagai “kebiasaan baru” yang seharusnya “kebiasaan lama” mereka, ya kebiasaan baru ini kebiasaan lama yang tertunda. Kebiasaan lama ini tertunda, karena mereka sempat dipelihara manusia, diberikan makanan manusia, terkurung dalam kandang, dan sering berinteraksi dengan manusia. Sudah bisa dipastikan sifat liar mereka hilang direnggut manusia serakah dengan alasan “kami sayang mereka”. Padahal untuk satwa liar “menyayangi adalah melepaskan ke alam”, ini merupkan tindakan paling tepat dan terpuji.

Tanggal 27 Juli 2020 tibalah saatnya tiga keluarga owa jawa yang sudah lama “belajar” di JGC yaitu “Labuan” dan “Lukas”, “Nofri” dan “Yossi”, serta “Ukong” dan “Gomey” mengawali babak baru dalam hidupnya. Setelah melewati serangkaian uji kesehatan termasuk Covid-19, mereka harus menempuh perjalanan dari Resort PTN Bodogol di Desa Benda, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi menuju Gunung Puntang – Kawasan Hutan Lindung Gunung Malabar yang dikelola oleh Perhutani KPH Bandung Selatan. Tengah malam adalah waktu yang tepat agar mereka nyaman dan tidak stres dalam perjalanan. Setibanya di Gunung Puntang apakah mereka langsung bebas di alam? Tidak… Kesehatan mereka langsung dicek kembali sebelum dipindahkan ke kandang habituasi. Owa jawa harus “menghuni” kandang habituasi di lokasi pelepasliaran. Mereka perlu waktu untuk mengenal dan beradaptasi dengan lingkungan barunya, lingkungan yang akan mereka tempati selamanya.

Menurut hasil kajian, di Gunung Puntang merupakan habitat yang cocok untuk owa jawa, namun populasinya cenderung semakin menurun. Sedangkan pada kawasan hutan di TNGGP kondisinya berbeda, populasi jenis satwa ini cenderung stabil. Pertimbangan itulah yang menyebabkan sejak tahun 2013 hingga saat ini pelepasliaran dilakukan di Gunung Puntang.

Perjalaan Panjang keluarga owa jawa menuju “kebiasaan baru”
Dalam proses rehabilitasi, JGC melakukan upaya untuk mengembalikan sifat-sifat liar sang owa jawa antara lain: mampu mencari makan sendiri, memiliki rasa takut kepada manusia, mampu menghindarkan/ menyelamatkan diri dari predator serta mampu berkembang biak. Mengembalikan sifat liar mereka tidak mudah. Perlahan melatihnya makan makanan alami, membiasakan mereka untuk kembali “bergelayutan”, mengurangi interaksi dengan manusia, dan “menjodohkan”-nya. Percayalah mencarikannya pasangan mereka adalah hal tersulit, mengingat mereka merupakan primata paling setia yang sulit “move on”. Oleh karenanya dalam pelepasliaran owa jawa tidak bisa satu individu, harus satu keluarga dimana terdapat pasangan jantan dan betina.

Semoga mereka bisa cepat tidak membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi, dan semoga mereka merasa nyaman, saling menjaga, dan tetap lestari.

Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Teks: Agung Gunawan – Pengendali Ekosistem Hutan