Tanamkan Rasa Cinta Alam Pada Generasi Pesantren Kawasan Puncak

Kuta, 28 Juni 2019, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) melaksanakan kunjungan penyuluhan kepada Pesantren Daarul Mughni Al Maaliki 2. Lokasi pesantren tersebut berada di area penyangga yang berbatasan dengan Zona Pemanfaatan Petak 16 Resort PTN Cisarua, Puncak-Bogor dimana secara administratif masuk ke dalam wilayah Desa Kuta, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Penyuluhan kali ini dihadiri oleh sekitar 80 orang santri/ santriwati yang merupakan calon generasi tenaga pendidik/da’i. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman keberadaan, fungsi dan peran penting taman nasional khususnya bagi masyarakat sekitar daerah penyangga serta mengemban visi “TNGGP sebagai pusat konservasi hutan hujan tropis pegunungan di Pulau Jawa yang bermanfaat untuk mendukung pembangunan wilayah dan masyarakat” salah satunya melalui pengembangan TNGGP sebagai Pusat Pendidikan dan Penelitian Konservasi Alam.

Daerah Puncak merupakan magnet para investor dalam pengembangan usaha wisata dengan banyak kepemilikan villa oleh warga pendatang, sehingga kepemilikan tanah oleh masyarakat lokal semakin berkurang. Hal ini mendorong terdesaknya kawasan hutan TNGGP sehingga perlu dilakukan pendekatan secara intensif terhadap masyarakat sekitar untuk membentengi/ mencegah tindakan ilegal terhadap hutan. Pertimbangan ini yang mendorong dilakukan kegiatan penyuluhan di daerah tersebut.

Kegiatan Visit to Pesantren dilaksanakan di aula pertemuan pondok pesantren dan diawali sambutan dari Pimpinan Pondok Pesantren Ustad Muhamad Abdullah Syafi’i. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasinya kepada BBTNGGP yang telah menjadikan pondok pesantren sebagai lokasi kegiatan penyuluhan. Kegiatan ini baru pertama kalinya diadakan di lokasi tersebut.

Sambutan kedua dari perwakilan pihak BBTNGGP yang disampaikan oleh Kepala Seksi PTN Wilayah VI Tapos, Bambang Mulyawan, S.H., M.H. Banyak masyarakat yang mengetahui tentang hutan tetapi belum memahami lebih jauh taman nasional yang memiliki kawasan asli dan dikelola dengan sistem zonasi yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pendidikan, penelitian, ilmu pengetahuan, menunjang budidaya serta rekreasi tutur beliau dalam sambutannya. Sebetulnya peranan taman nasional sangat penting bagi daerah Jabotabek sebagai penyangga kehidupan baik dari air dan udara yang dirasakan setiap saat oleh masyarakat sekitar.

Pernyataan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango memiliki arti penting bagi kawasan sekitarnya dipertajam kembali dengan pemaparan materi yang disampaikan oleh penyaji yang terdiri dari Penyuluh Kehutanan dan Pengendali Ekosistem Hutan (PEH). Di sela-sela pemberian materi, peserta kegiatan diajak untuk bermain, menonton film bermuatan edukasi dan konservasi, serta adanya pemberian doorprize.

“Dalam hutan TNGGP terdapat 5 jenis primata dan 3 satwa prioritas seperti Owa Jawa Elang Jawa, dan Macan Tutul karena status konservasinya dinyatakan terancam punah”, ujar Andie Martien yang bertindak sebagai penyaji. Pernyataan tersebut menandakan betapa pentingnya TNGGP. Dengan adanya kegiatan penyuluhan ini, tersampaikan informasi kepada generasi muda bahwa hutan TNGGP menyimpan segudang kekayaan alam yang dapat dipelajari untuk menjadikan TNGGP sebagai tempat belajar dan tersematkan dalam hati yang akan mereka sampaikan kepada orang-orang ditemui.

Tim Visit to Pesantren menyerahkan secara simbolis lima batang pohon kepada pesantren sebagai aksi nyata mengajak para santri dan pengajar untuk peduli terhadap alam melalui menanam pohon. Setidaknya terdapat 65 desa penyangga sekitar TNGGP. Keberadaan desa–desa tersebut penting dalam kapasitas sebagai penyangga sosial. TNGGP berkomitmen untuk terus bekerja sama dengan segenap lapisan masyarakat baik melalui peningkatan kapasitas, memberi ruang keterlibatan yang lebih besar dalam proses pengelolaan/ pemanfaatan kawasan sepanjang sesuai dengan ketentuan perundang-undangan, memposisikan mereka dalam peran pengawasan masyarakat serta upaya pemberdayaan lainnya. Salam konservasi.

Penulis: Ratih Mayangsari