Taklukan Ego Dan Kesombongan Diri Jadilah Pendaki Cerdas

Jakarta, 7 April 2019. Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) bersama mitra menggelar “Kampanye Pendaki Cerdas” pada acara Car Free Day (CFD), dengan rute Plaza BCA (Jl. Teluk Betung/ Thamrin) – berputar dibundaran HI kecil – Ratu Plaza – Finish di Plaza BCA.

Diah V. Qurani Kristina (Kepala Bidang PTN Wilayah I Cianjur), sebagai komandan pada acara ini, menyatakan bahwa Balai Besar TNGGP mengadakan kampanye ini untuk mensosialisasikan ketentuan pendakian Gunung Gede Pangrango dan mengajak masyarakat khususnya para pendaki untuk menjadi “Pendaki Cerdas”, yaitu pendaki yang peduli diri, kawan, dan lingkungan. Lebih lanjut Diah berharap, pesan ini dapat tersampaikan kepada masyarakat luas, bukan sekedar seremonial. Cara menyampaikan pesan “Pendaki Cerdas” ini dengan gaya milenial baik bahasa maupun cara penyampaiannya.

“Kampanye Pendaki Cerdas” ini melibatkan partisipasi berbagai pihak, antara lain MNC Land, EIGER, ITTO, CONSINA, Pristine, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, CV. Wisata Cibodas, Volunteer BBTNGGP, dan Sobat Gepang lainnya.  Hadir dalam acara ini Wakil Direktur Utama MNC Land Lido, Budi Rustanto (MNC Land selalu mendukung program pelestarian alam, salah satunya melalui Program Pendaki Cerdas). Tak ketinggalan perwakilan dari Eiger-pun, Tomy ikut hadir untuk memeriahkan kampanye ini. 

Upaya-upaya untuk mensosialisasikan peraturan tentang pendakian di TNGGP sudah dimulai sejak Desember 2015, diantaranya melalui lomba bersih gunung, lomba foto, dan lomba film dokumenter tentang cara mendaki yang benar sesuai prinsip-prinsip mendaki. Untuk mengurangi polusi sampah di kawasan taman nasional ini, pada akhir tahun 2016, lahir aturan tentang larangan membawa Air Mineral Dalam Kemasan (AMDK), tisu basah, dan styrofoam, yang disosialisasikan melalui media sosial, penyebaran poster, dan penjelasan  langsung oleh petugas di pintu pintu masuk pendakian.

Kesadaran masyarakat tentang konservasi berkembang pesat beberapa tahun belakangan ini, namun masih banyak masyarakat yang harus disadartahukan.  Budaya dan gaya hidup ramah lingkungan (antara lain Pendaki Cerdas) masih harus terus ditanamkan di masyarakat, karena kenyataannya masih banyak pendaki yang belum memahami arti dan makna sesungguhnya dari mendaki gunung dengan cara yang cerdas.

Setiap pendaki wajib membawa SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) dan pengurusan SIMAKSI ini sudah dipermudah dengan sistem online melalui booking.gedepangrango.org., namun masih banyak lho, yang mengaku cinta alam tapi memilih mendaki gunung tanpa SIMAKSI. Nah, supaya informasi tentang SIMAKSI ini bisa tersebar semakin luas, perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat luas tentang pemahaman pendaki cerdas. Kampanye Pendaki Cerdas adalah salah satu wahananya.

Lebih dari 100 orang ikut memeriahkan acara pawai, terdiri dari berbagai elemen masyarakat, terutama para pencinta alam sekitar Jabodetabek.  Pawai/ jalan sehat dimulai dan berakhir di Plaza BCA, acara kemudian dilanjutkan dengan bincang-bincang santai terkait pendaki cerdas dan dimeriahkan dengan tampilan mini booth untuk berselfie dan door prize menarik bagi yang beruntung.

Ahmad (32) merupakan partisipan pawai dari tempat terjauh.  Dia yang berasal dari Pemalang ini ikut berpartisipasi di barisan depan pawai.  Wong Pemalang ini berpendapat, “Pendaki cerdas itu safety untuk diri dan kawan serta peduli lingkungan”. Rendy (28) yang datang bersama istrinya Intan (32) Depok, merupakan perwakilan pendaki yang secara rutin setiap tahun mendaki ke Gunung Gede Pangrango sejak 2007 – 2014, bahkan mereka dipersatukan di Puncak Gede Pangrango, “Kita sangat cinta dengan Gunung Gede Pangrango dan hubungan kita dipertemukan saat mendaki Gede Pangrango”, tuturnya. Gak hanya kawula muda yang ikut berpartisi, Mercy (65) dari Jakarta yang sudah mendaki Gede Pangrango lebih dari 10 kali sejak 1974, berpesan agar para pendaki muda sebagai penerusnya, menjadi pendaki cerdas harus melestarikan alam dan membawa kembali sampah keluar kawasan Taman Nasional.

Oke Sobat Gepang….Ingat-ingat ya…, ketika melangkahkan kaki menuju alam rimba, pastikan kita memiliki pemahaman yang benar tentang kegiatan naik gunung di kawasan konservasi khususnya di taman nasional. Kita tidak hanya menaklukan puncak gunung, yang kita taklukan di sana adalah ego dan kesombongan diri kita sendiri. Perjalanan menuju puncak, adalah pencarian jati diri dengan kesabaran dan membangun ikatan kuat antara diri dengan kawan dan alam. Di puncak gunung nanti, kita adalah bagian yang tidak terpisahkan dengan alam.  Meski kamu tidak bisa hadir dalam acara ini, kamu bisa turut berperan sebagai “Pendaki Cerdas” yang peduli diri, peduli kawan, dan peduli lingkungan serta taat aturan dan menghormati petugas.

Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango