Nata Desa Demi Nata Leuweung Konservasi TNGGP

Cileungsi, 28 Oktober 2019 bertepatan dengan Peringatan Sumpah Pemuda ke-91 dilaksanakan kegiatan Pelatihan Pengembangan Wisata Alam Lebak Ciherang Terintegrasi Desa Wisata Cileungsi. Pelatihan ini diikuti oleh 15 orang peserta dari anggota KTH LBC Lestari, BUMDES Desa Cileungsi, dan petugas dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango khususnya Seksi PTN Wilayah VI Tapos, Resort PTN Tapos.

Tema “ Bersatu Kita Maju” merupakan kalimat pembangkit semangat tepat untuk menggambarkan kolaborasi Desa dengan taman nasional dalam pengelolaan hutan. Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan dalam pengembangan wisata alam di Lebak Ciherang dan Desa Wisata Cileungsi. Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi dari salah satu ruang lingkup perjanjian kerjasama Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dengan PT. Tirta Investama-Plant Ciherang dalam ranah pemberdayaan masyarakat sekitar hutan selain kegiatan pemulihan ekosistem sebagai inti kerjasamanya. Alhamdulillaah pada kesempatan tersebut, pihak PT. Tirta Investama-Plant Ciherang juga turut hadir.

Istilah “Nata Desa demi Nata Leuweung“ merupakan bahasa Sunda yang memiliki arti bahwa pengelolaan hutan dapat berhasil jika kesejahteraan masyarakat desa sekitar kawasan hutan sudah sejahtera. Pelatihan ini merupakan langkah nyata pengelolaan hutan berbasis masyarakat yang mengedepankan pelibatan masyarakat dalam pengembangan wisata alam sebagai alternatif peningkatan pendapatannya. Hutan Lebak Ciherang merupakan salah satu bagian dari hutan konservasi yang mengemban peran sebagai penyangga kehidupan baik hayati dan non hayati sekitarnya. Tetapi peran tersebut tidak membatasi masyarakat untuk berperan lebih dengan tetap menjaga kelestarian alam sebagai tujuan utamanya.

Tidak diragukan lagi keberadaan pesona taman nasional sebagai potensi daya tarik wisata alam namun yang menjadi catatan bagaimana menyatu potensi daya tarik wisata sebagai agen dalam penelitian, pendidikan, dan rekreasi alam dengan wisata alam pedesaan yang mengangkat kealamian/ kearifan budaya lokal setempat. Penggalian potensi desa menjadi bagian penting sebagaai tahapan dalam perencanaan pengembangan desa wisata. Indonesia merupakan negara yang dikenal kaya akan potensi sumberdaya alam, berbagai suku bangsa, agama, dan kebudayaannya. Hal ini membuktikan bahwa setiap daerah memiliki kekhasan budaya yang berbeda begitu halnya dengan Desa Cileungsi. Untuk itu, melalui pelatihan ini, diharapkan nantinya perserta dapat mengeksplore kekhasan budaya dan kebiasaan masyarakat yang dapat dijadikan daya tarik Desa Wisata.

Pelatihan ini dibuka dengan sambutan dari pihak TNGGP yang disampaikan oleh Kepala Seksi PTN Wilayah VI Tapos. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan upaya peningkatan kapasitas masyarakat merupakan langkah awal yang sangat penting untuk mempersiapkan dan membekali masyarakat dalam melakukan perencanaan aktivitas wisata karena tidak mudah merubah kebiasaan masyarakat sebelumnya beraktifitas sebagai petani/buruh tani beralih pada aktifitas penggerak wisata.

Pihak PT. Tirta Investama-Plant Ciherang yang diwakili oleh CSR Manager, Heri Yunasrso menyampaikan, PT. Tirta Investama-Plant Ciherang sangat konsen dalam mendukung program pemerintah untuk mengelola sampah plastik melalui pemanfaatan plastik yang ada secara bijak dan diharapkan juga pengembangan wisata ini juga lebih ramah lingkungan dimana pengembangan wisata selaras dengan pengelolaan sampah.

Sambutan terakhir sekaligus pembuka pelaksanaan pelatihan dari Kepala Desa Cileungsi menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak TNGGP dan mitra PT. Tirta Investama-Plant Ciherang sehingga terselenggaranya pelatihan ini dan harapannya pelatihan ini akan memberikan dampak signifikan dalam menumbuhkan semangat dan wawasan masyarakat Desa Cileungsi.

Acara dibuka dan dilanjutkan kegiatan pemberian materi. Inti materi yang disampaikan yaitu membangkitkan semangat social enterpreneur, memetakan potensi (social mapping), dan bagaimana mempromosi produk wisata secara online. Social enterpreneur atau dikenal dengan wirausaha sosial menitikberatkan bagaimana memecahkan permasalahan berbasis masyarakat dengan memunculkan potensi yang ada di masyarakat.

“Untuk mewujudkan social entrepreneur tidak membutuhkan dana yang besar tetapi mengandalkan modal sosial di masyarakat yaitu semangat gotong royong dan kepedulian terhadap sesama”, tutur Tatiek Kancaniati, selaku narasumber yang memiliki Pelopor Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru yang berada di Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Pendapatan masyarakat Desa Tegalwaru dari wisata yang memberikan dampak terhadap peningkatan status desa dari desa tertinggal menjadi desa maju, menginspirasi desa lainnya termasuk Desa Cileungsi untuk bergerak memberdayakan potensi desa dan masyarakat sehingga kesejateraan masyarakat meningkat.

Peserta tidak hanya diberikan materi tetapi secara partisispatif diajak menggali potensi desanya melalui Particiaptory Rural Apprasial (PRA) yaitu pendekatan partisipatif penggalian potensi masyarakat dengan menggunakan 7 alat analisa. Hasil peggalian potensi desa tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi desa dalam pengembangan wisata. Selain pemberian materi, peserta diarahkan melakukan praktek melalui transek desa.

Kesan yang dituturkan oleh Tatiek dan Herman saat melakukan transek desa dari Kampung Loji sampai dengan Lebak Ciherang ”Potensi sumber daya dan bentang di Desa Cileungsi memiliki banyak daya tarik yang kuat sebagai modal dalam pengembangan wisata dan kemudahan meraih pengunjung yang menuju Puncak lebih besar karena dilewati jalan alternatif menuju Puncak” ujar keduanya. Sedangkan kesan dilontarkan oleh salah satu peserta dari pihak BUMDES Cileungsi, Cicah. “Pelatihan kali ini seru menambah ilmu, teman baru, dan bermanfaat bagi kami untuk menggali desa tercinta kami” ujarnya seusai pelatihan.

Peningkatan kapasitas masyarakat dengan pelatihan pengembangan wisata ini menjadi solusi dalam penentuan tahapan yang akan dilakukan Desa Cileungsi untuk pengembangan wisata, tentunya terintegrasi dengan pengembangan wisata alam di Lebak Ciherang. Jika hal tersebut berhasil, akan menjadi kolaborasi dua institusi yang rela melepaskan segala kepentingan golongan tertentu demi kesejahteraan masyarakat dan pengelolaan hutan secara lestari. Salam konservasi….

Teks: Ratih Mayangsari