Gelar Yang Membawa Bencana Bunga Abadi Dari Pegunungan Tinggi

Akhirnya diturunkanlah volunteer perempuan, karena Bapak-bapak Polhut tidak tega untuk menggeledah seorang remaja putri yang menyimpan bunga edelweis di tempat paling pribadinya. Inilah penyimpanan edelweis yang diketahui paling ekstrim, sampai saat. Tersebutlah seorang pendaki perempuan berhasil sampai di Alun-alun Suryakancana dan memetik bunga edelweis. Karena informasi dari sesama pendaki bahwa di pintu keluar biasa dilakukan pemeriksaan dan penggeledahan, dia berusaha menyimpannya pada tempat yang menurut perkiraannya tidak akan tergeledah Polhut. Sampai sebegitu menarikah bunga edelweis? Why?

Dengan Pengabdiannya Pantaslah Dapat Gelar

Tidak ditemukan kecuali di puncak-puncak gunung tinggi, sehingga edelweis termasuk penghuni pegunungan tinggi, “endemik” sub alpin. Di Jawa Barat, orang menemukannya di Gunung Papandayan, Gunung Gede Pangrango, Gunung Salak, dan Gunung Ceremai. Mereka hidup pada ketinggian 2.400 m sampai 3.000 m dari permukaan laut. Ingat teman-teman… tumbuhan endemik mempunyai daerah penyebaran yang sempit, sehingga rentan kepunahan. Jangan ganggu mereka, yaa!

Edelweis memang ”pionir”, mampu hidup di daerah yang kering dan ekstrim, di puncak gunung pada bebatuan berpasir. Ukuran daun yang kecil dan ditumbuhi bulu-bulu tebal warna putih mengkilap efektif mengatasi suhu yang ekstrim dan udara yang kering. Di bebatuan berpasir yang miskin hara, mereka bersimbiosa dengan jamur tanah membentuk mikoriza. Disamping untuk kenyaman mereka yang bersimbiosa, pembentukan mikoriza ini juga efektif memperluas kawasan yang dapat dimanfaatkan tumbuhan lain.

Tugas dan pengabdian “sang pionir” selesai saat kondisi lingkungan membaik, mereka mengalah dan memberikan tempat tumbuhnya kepada jenis penerusnya, seperti cantigi, kitanduk, dan rhododendron. Kawan …, mari kita hargai perjuangan berat dan pengorbanan sang pionir, jangan buang sampah, mendirikan tenda atau api unggun di tempat hidup mereka , yaa!

Mengapa bunga dan daun edelweis tak pernah layu, sehingga diberi gelar “bunga abadi”? Mereka hidup di tempat yang kering, sehingga kadar air dalam tumbuhan ini pun rendah, jadi meskipun kekurangan air atau tidak ada suplay air (bila dipetik) tidak terlalu banyak penurunan kadar air sehingga seolah-olah tidak apa perubahan (tidak layu). Namun Guy’s, … yang jelas fotonya emang tidak pernah layu.

“Lambang keberhasilan pendakian gunung”, pun syah-syah saja disematkan pada jenis bunga ini, karena mereka hanya tumbuh di puncak-puncak gunung yang tinggi (di atas 2.400 m dpl.). Jadi tidak akan bisa mengelus dan berselfi dengan bunga edelweis bila tidak mampu menaklukan puncak gunung yang tinggi dengan berbagai rintangannya. Bukan begitu, sobat muda …?

Man-teman, sepertinya wajar juga ya…, bila “sang kekasih”, menerima persembahan kecantikan edelweiss, sebagai bukti kesetiaan. Betapa tidak, susahnya perjuangan mendaki puncak gunung (yang penuh tantangan dan bahaya), ditempuh demi sang kekasih … ehm. Tapi karena bunga “lambang kesetiaan”, tersebut sekarang sudah dilindungi, jadi man-teman hanya boleh mempersembahkan keindahan edelweiss dalam foto saja, ya … !

Sobat konservasi, bunga yang satu ini juga, berstatus sebagain ”tumbuhan langka”. Habitat yang sangat terbatas (endemik) dan pupulasinya cenderung menurun (banyak mengalami gangguan), tidak heran mereka semakin sulit ditemukan. Di tempat tumbuh yang ekstrim jenis-jenis hayati sangat rentan dan populasinya cenderung menurun. Sobat, tugas kita saat ini adalah merubah status ”langka” menjadi ”umum”, atau kalau bisa ganti status menjadi ”melimpah”.

Saudaraku, status langka ini tidak jarang dibantu dengan pengrusakan habitat dan pengambilan bunga oleh para pendaki gunung, sehingga harus ”dilindungi”. Mulai tanggal 29 Juni 2018, edelweis jawa dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri LHK No. P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Hati-hati ya… ! Jangan sampai kena sanksi, lho … !

Semakin Dilindungi Semakin Menarik untuk Diburu

Di tatar Pasundan, edelweis tumbuh rukun dengan dua saudara semarganya yaitu sembung gunung (A. longifolia dan A. maxima) yang termasuk kepada keluarga aster-asteran (Asteraceae). A. javanica mempunyai tampilan yang paling indah diantara saudara-saudaranya, sehinga pantas mendapat gelar “ratunya bunga edelweis”.

Bila kawan-kawan, sempat mendaki ke Gunung Gede atau Pangrango, saksikan sendiri keindahan padang edelweis di alun-alun Mandalawangi Gn. Pangrango, sekitar kawah Gn. Gede dan Alun-alun Suryakencana. Alun-alun Suryakancana Gn. Gede malah pernah termasuk salah satu padang edelweis terindah di Indonesia. Saat booming, sekitar bulan Juli-Agustus, sejauh mata memandang hanya hamparan bunga edelweis yang putih kekuning-kuningan, menghampar pada areal datar seluas ± 50 ha.

Namun sayang, banyak para pendaki yang masih tergoda keindahan dan berbagai gelar sang edelweis, sehingga “sang primadona” harus mengalami penderitaan malah harus mau berkorban sampai mati. Para ”predator” ini adalah saudara kita yang belum sadar dan tidak peduli dengan kelestarian alam, mereka malah berpendapat ”semakin langka, semakin menantang untuk dibawa”, “semakin surut semakin layak untuk diburu”. Yang “dilindungi” menarik untuk dimiliki.

Jeritan lain datang dari habitat edelweis, mereka menderita karena pemasangan tenda dan pembuatan api unggun. Belum lagi sampah, anakan edelweis banyak yang mati karena tertutup sampah plasik. Puntung rokok atau bekas api unggun (yang tidak benar-benar padam), jauh lebih berbahaya, sudah terbukti sering menimbulkan kebakaran hutan. Oleh karena itu, Guy’s … jangan segan-segan, peringatkan mereka yang sedang “bermain api”, terutama pada saat musim kemarau.

Suksesi dilawan? … jangan, itu kan proses alami. Cuma saja, karena tumbuhan pionir tidak tahan naungan, jadi kalau habitat sudah mulai membaik dan pepohonan mulai tumbuh, edelweis akan kalah bersaing untuk mendapatkan sinar matahari. Ya, … paling dikendalikan saja, supaya edelweis tetap lestari. Setuju kan Guy’s?

Sobat muda …, ancaman alami lainnya datang dari (kemungkinan) letusan gunung api, ini merupakan ancaman serius terhadap kelangsungan kehidupan alam hayati, terutama yang bersifat endemik dan langka, termasuk jenis bunga yang satu ini. Bagaimana menurut sobat-sobat, apakah kita perlu membuat stok bibit di tempat yang aman, untuk kemungkinan restorasi kawasan?

Sobat Gepang pasti masih ingat, pada tahun lalu pernah terjadi penurunan suhu yang sangat tinggi, sampai-sampai air selokan di tengah Alun-alun Suryakencana membeku jadi es, uap air membeku jadi salju. Kemungkinan karena cairan dalam sel-sel tumbuhan juga membeku, dan sel pecah sehingga edelweis banyak yang mati.

Upaya Konservasi Agar Lestari

Keindahan padang edelweis Suryakancana, merupakan ”titipan” Sang Pencipta untuk dikelola dan dimanfaatan secara lestari. Untuk itu, mari kita dukung upaya pelestarian jenis tumbuhan liar ini. Sobat Gepang…, kita perlu tahu bahwa di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango pelestarian edelweis dilakukan melalui empat pendekatan, yaitu pendekatan sosial, kepolisian, ekosistem, serta pendekatan ekonomi masyarakat. Pendekatan sosial intensif di pintu-pintu masuk, melalui penerangan tentang tata cara memasuki kawasan konservasi, dan sosialisasi Permen LHK No. P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

Mengawal upaya secara sosial, dilakukan operasi kepolisian berupa patroli pengawasan dan penjagaan, agar pengunjung tidak masuk ke zona inti dan tidak buang sampah dalam kawasan. Pemeriksaan bawaan pengunjung di pintu keluar merupakan antisipasi adanya bunga edelweis yang terbawa oleh para pendaki.

Bersinergis dengan upaya lainnya, dari sisi ekosistem dilakukan operasi pembersihan sampah di habitat edelweis, dan monitoring populasi edelweis di Alun-alun Suryakancana. Upaya perbanyakan melalui biji dan stek batang serta stek pucuk telah pula dicoba. Perbanyakan dari biji lebih mudah dilakukan dan telah berhasil ditanam untuk restorasi habitat edelweis yang terdegrasai akibat pemasangan tenda masuk di zona inti, serta akibat suhu yang sangat dingin.

Rekan pendaki…, diharapkan bisa membantu upaya pelestarian bunga edelweis antara lain dengan tidak mengambil bunga dan tidak merusak habitat edelweis. Angkat bicara bila ditemukan ada yang merusak habitat atau mengambil tumbuhan ini; Melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwenang (Polhut atau Polri). Bagaimana ‘Re …, ada saran dan masukan? ….

Pecinta Edelwis: Agus Mulyana & Asep Hasbillah