Apa Kabar Billy Putri? Satu Tahun Sudah Umurmu Kini

Masih ingatkah sobat-konservasi dengan bayi owa jawa yang terlahir caesar di Javan Gibbon Center (JGC) Bodogol satu tahun lalu ? Pada Bulan April 2018 di JGC Bodogol, telah lahir dengan selamat bayi owa (beserta ibunya) melalui operasi caesar. Bayi satwa langka “ikonik Jawa Barat” ini diberi nama “Billy Putri” oleh Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Bagaimana perkembangan kondisi si Billy Putri sampai saat ini ?

Sepenuhnya Ditangani oleh Putra Putri NKRI

“Terancam punah”, tertera dalam daftar merahnya lembaga konservasi internasional (IUCN). Habitat yang semakin sempit, dan gangguan yang tak pernah hilang, menyebabkan satwa “lambang kesetiaan dari tatar Pasundan” ini tambah langka. Populasi satwa unik endemik ini semakin menipis, sehingga kelestariannya terancam.

Tapi, … jangan pesimis dulu lho ! Kabar gembira datang dari JGC Bodogol, lembaga pengembangbiakan owa jawa yang dikelola dengan kerjasama antara Balai Besar TNGGP, CI, dan Yayasan Owa Jawa (YoJ). Pada hari sabtu 28 April 2018, jam 23.30 WIB, crew JGC, putra-putri NKRI, berhasil menyelamatkan bayi owa jawa, tanpa batuan expert asing. Nah, … untuk yang satu ini kita memang patut bangga, ya sobat!

Acungan jempol juga, kita sampaikan atas dedikasi para perawat selanjutnya. Meskipun bayi lahir dalam kondisi sehat, namun paling tidak tujuh hari setelah lahir, diperlukan perawatan intensif, karena rentang waktu ini merupakan masa kritis bagi bayi owa. Selama masa kritis ini, bayi harus dijaga dan dirawat, setiap dua jam harus diberi minum susu. Bisa dibayangkan tiga orang keeper JGC bergiliran menjaga dan merawat sang bayi, sing dan malam ditengah hutan yang sepi. Tapi untungnya, … bayi owa yang satu ini mau disusui keeper laki-laki.

Perkembangan si “Dede Billy” sampai saat ini, cukup baik. Masa kritis dilewati dengan aman. Penampakan owa dewasa sudah mulai muncul sekitar umur satu bulan. Bulu di badan yang semula kemerah-merahan mendai abu-abu kehitaman. Begitu pula tampilan mukanya, yang semula kemerah-merahan sudah terlihat hitam. Meskipun belum stabil, pergerakanmya sudah lebih lincah, mulai bisa mengangkat tangan, dan sudah muncul keinginan untuk berdiri. Ketika ditengok tiga bulan selanjutnya, si Billy Putri sudah mulai bisa berdiri dan pegangan pada batang kayu.

Satu tahun berlalu …, bagaimana kondisi putri kedua Pasutri Boby dan Joly ini ? Sang anak kelihatan sehat, bergembira di kandang barunya yang lebih luas, Kasur, selimut dan guling sudah ganti dengan ranting kayu dan ayunan. Dia lincah meloncat dari ranting ke ranting dan pandai berayun dari satu ayunan ke ayunan lain. Para keeper terus menjaga, merawat dan memantau perkembangan sang anak owa jawa ini, bahkan saat ini sudah mulai melatih untuk naik pohon di luar kandang.

Lain anak, lain bapak. Bila sang anak gembira dengan perkembangannya, ayahandanya malah merana. Sudah satu tahun si ayah belum diperbolehklan ketemu mamanya Billy. Dia belum dipertemukan lagi dengan pasangannya, bukan karena Bu Jolly tidak sehat, tapi menurut Radi (seorang keeper di JGC) menunggu waktu karena bila si ibu mengandung sudah harus sudah siap operasi caesar.

Tiga Tahun Masa Perkenalan

Sobat konservasi, upaya rehabilitasi satwa liar hasil peliharaan memang memerlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Demikian pula untuk Pak Billy dan Bu Jolly, setelah beberapa tahun menjadi penghuni JGC, masing-masing dipertemukan dengan beberapa calon pasangannya. Namun dasar jodoh, kecocokan terjadi pada awal tahun 2014 ketikan pasangan ini dipertemukan.

Dengan terjadi kesepakatan antara calon Pasutri ini, mereka dipindah dari kandang perjodohan ke kandang pasangan untuk melangsungkan hidup bersama. Setelah lebih kurang dua tahun melangsungkan hidup bersama, pada tahun 2016 Bu Jolly melahirkan satu ekor anaknya melalui operasi caesar, namun sayangnya kondisi kakaknya Billy ini tidak sekuat adiknya, sehingga tidak bisa diselamatkan. Dengan masalah kelahiran ini, “dua sejoli” ini kecil harapan untuk dilepasliarkan.

Tidak berputus asa dengan kegagalan anak pertama, Billy dan Jolly terus berupaya untuk dapat keturunan. Dibantu dengan kesungguhan crew JGC agar jenis satwa yang “sangat setia dengan pasangannya” (monogami) ini bisa terus berketurunan, akhirnya lahirlah si “Billy Putri”. Dan sungguh beruntung si “dede Billy” bisa lahir dengan selamat setelah enam bulan sang bunda (dibantu crew JGC) menjaga kandungannya.

Empat Ekor Asli Produk JGC Dilepasliarkan

“Nah, … ini perlu dicatat, sebagai keberhasilan JGC”, celetuk salah seorang kawan kita yang bangga dengan keberhasilan lembaga yang berfungsi sebagai pusat rehabilitasi owa jawa ini. Dari semula memang lembaga konservasi owa jawa ini bertujuan untuk menampung, merawat dan merabilitasi owa jawa yang telah dipelihara masyarakat untuk dikembalikan ke habitat aslinya.

Sejak ditandatanganinya kerjasama, tahun 2013 sampai saat ini JGC telah menerima penyerahan owa jawa dari masyarakat sebanyak 13 ekor. Diantaranya ada yang berhasil dijodohkan dan beregenerasi di lembaga ini. Jumlah owa yang lahir di tempat ini selama enam tahun terakhir sebanyak 11 ekor, lima ekor diantaranya bisa diselamatkan dan bertahan hidup, diantaranya si Billy Putri. Empat ekor owa kelahiran JGC telah berhasil dilepasliarkan.

Upaya gigih crew JGC ini, berhasil memulihkan dan melepasliarkan dua puluh ekor owa jawa. Pada saat ini sedang dikondisikan 20 owa jawa di Sanctuary JGC untuk dilepasliarkan, bahkan dua keluarga diantaranya sudah siap kembali ke habitat aslinya.

Di Kandang Saja Berbiak Apalagi di hutan

“Di kandang saja mereka berbiak, apalagi di hutan,” demikian komentar salah seorang warga Bodogol yang memang peduli dengan konservasi owa jawa ini. Kelahiran si “Billy Putri”, melalui operasi caesar di Javan Gibbon Center TNGGP ini, menimbulkan harapan besar bahwa primata ikonik Pulau Jawa bagian Barat yang bersifat monogami ini bisa kita lestarikan.

Harapan warga Bodogol tersebut, yang juga harapan kita semua, terjawab pula dengan data perkembangan owa di kawasan hutan. Catatan di Resort PTN Bodogol, menunjukan bahwa kondisi owa jawa di site monitoring Resort Bodogol tahun 2018, cukup menggembirakan dengan komposisi kelas umur dewasa sebesar 52%, remaja 39%, dan bayi serta anak 9%.

Dari data ini tergambar peluang dan harapan yang besar akan keberlangsungan populasi owa jawa di kawasan konservasi “jantungnya Jawa Barat” ini. Kalaupun ada owa dewasa mati, sudah ada calon penggantinya dari kelompok remaja. Demikian juga bila generasi remaja sekarang, sampai pada ajalnya, sudah tersedia penggantinya.

Guy’s, …. data tersebut juga secara tidak langsung menunjukan bahwa habitat owa jawa di kawasan Taman Nasional ini cukup baik dan bisa menjamin kelangsungan kehidupan owa jawa yang saat ini tertera di daftar merahnya IUCN sebagai satwa liar “terancam punah”.

Yuk, kita hapus satwa “endemik” kita ini dari daftar merahnya IUCN !

Teks: Agus Mulyana, Ade Bagja H, & Randi