Tingkat Partisipasi Mayarakat Dalam Menjaga Kelestarian Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ( Studi Kasus Di Desa Cimacan, Kecamatan Pacet Dan Desa Kebon Peuteuy Kecamatan Warung Kondang ).

Peneliti: Dede Sifiyani

Topik : Sosek

Tahun : 2004

No. Pustaka:

Abstrak
Dilihat dari tingkat kesejahteraannya , Desa Cimacan tergolong desa miskin dengan pendapatan per kapita Rp. 734.060,-/jiwa/tahun atau setara dengan 293.62 kg beras, sedangan desa kebon peutey tergolong desa paling miskin dengan pendapatan per kapita Rp. 351.131,-/jiwa/tahun atau seta 140.45 kg beras. Umunya persepsi masyarakat terhadap taman nasional cukup baik, mereka mengetahui taman nasional pun cukup baik, hal tesebut dilihat dari sikap mereka terhadap petugas maupoun sebaliknya. Dilihat dari kriteria bentuk kepeduliaan, masyarakat desa Cimacan sangat peduli terghadap hutan (82.5%), lingkunganya sendiri (47.5%) dan terhadap program (62.5%). Mereka paham akan pentingnya kelestarian hutan, karena sangat mempengaruhi keadaan lingkungan mereka. Sedangkan untuk masyarakat Desa Kebon Peuteuy, tingkat kepeduliaan terhadap program berada dalam tahap peduli (67.5%). Mereka paham akan pentingnya kelestarian hutan, karena sangat mempengaruhi keadaan lingkungan mereka. Nsedangkan untuk masyarakat Desa Kebon Peuteuy, tingkat kepedulian terhadap program berada dalam tahap peduli ( 67%)., karena umumnya  mereka tidak peduli terhadap hutan (75%) dan lingkungannya sendiri (90%), dilaksanakan. Tetapi merka sangat peduli terhadap hutan, jika huatn rusak maka akan berdampak terhadap longkungan mereka. Jika dilihat dari tingkat partisipasinya masyarakat, tingkat partisipasi masyarakat Desa Cimacan yaitu pada tahap sedang  pada kisaran skor antara 10-14 (41.17%-58.33%). Sedangkan untuk Desa Kebon Peuteuy tergolong rendah dengan kisarn skor antara 5-9 (20.83%-37.5%). Hasil analisis regresi linier berganda dapat dilihat hubungan antara variabel tak bebas (Y) dengan variabel bebas X1 (tingkat pendidikan) dan X2 (pendidikan perkapita). Diliht dari nilai P? 0.05 yang merupakan peluang bagi penerimaan H0, maka kesimpulan yang dapat ditarik adalah terima H0 yang berarti pada tahap nyata  (?) 5 % peubah bebas X1 dan  X2  bwersipat tidak nyata. Selain itu di lihat dari nilai hitung Fhitung yang lebih kecil dari Ftabel membuktikan bahwa pendidikan dan pendapatan seseorang tidak mempengaruhi tingkat partisipasi seseorang dalam suatu kegiatan. Selain dari nilai P, dapat pula dilihat dari nilai r² yaitu 13.6 % (Desa Cimacan) dan 7.6 % (Ds Kebon Peuteuy) yangt menunjukan bahwa keragaman dalam tingkat partisipasi tidak dapat di jelaskan secara menyeluruh  oleh hubungan liniernya dengan pendidikan dan pendapatan. Penerikan kesimpulan tersebut berlaku untuk kedua desa tersebut, kecuali untuk variabel X1 di Desa Cimacan. Karena tingkat pendidikan di desa tersebut sudah cukup tinggi sehingga da sedikit pengaruh terhadap tingkat partisipasi seseorang, tetapi jika dilihat dari nilai r²nya keragaman tidak cukup mendukung, jadi persamaan tersebut tidak dapat di gunakan untuk menduga besar tingkatnya partisipasi seseorang. Secara  deskriftif dapat di katakan bahwa tingkat pendidikan seseorang mempengaruhi daya nalarnya, sehingga yang membedakan disini adalah proses dari cara berfikir dalam menerima suatu inovasi atau informasi baru. Sedangkan tingkat pendapatan yang menjadi ukuran kesejahteraan hidup seseorang, mempengtaruhi mereka  dari segi waktu. Orang yang kebutuhan hidupnyasudah cukup terpenuhi, akan memiliki banyak waktu untuk ikut serta dalam kegiatan yang terjadi dilingkungannya, sehingga partisipasinya pun lebih besar dari orang yang menghabiskan waktunya untuk bekerja dan hampir tidak ada waktu untuk ikut serta dalam suatu kegiatan.