Terimakasih Pak Wamen Lhk Dan Rekan-rekan Media, TNGGP Pasti Lebih Baik

Cibodas, 6 April 2021. Dr. Alue Dohong selaku Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Wamen LHK) pada hari Selasa (06/04/2021) melakukan kunjungan kerja ke Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Wamen LHK yang didampingi oleh Kepala Biro Humas, Nunu Anugrah, S.Hut. M.Sc. dan Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi, Dr. Nandang Prihadi, S.Hut. M.Sc. beserta rombongan menghadiri acara Jurnalistik Wisata Alam untuk Forest Healing di Tengah Pandemi yang diikuti oleh wartawan media cetak (Media Indonesia, Rakyat Merdeka, Koran Sindo, Republika, Investor Daily, Jakarta Post), media online (Detik.com, Kompas.com, JPNN.com, Tropis.co, Klik Babel.com, Kumparan.com, Antaranews.com, Indopos.com, Tribunews.com, Wartakota.com, Dimensinews.co.id., Portonews.co, Suara.com, Okezone.co.), media televisi (Metro TV, Net. TV, CNN.TV, TV One), serta media radio (Radio Republik Indonesia).

Satu hari sebelumnya, Senin (05/04/2021) peserta Jurnalistik Wisata Alam untuk Forest Healing di Tengah Pandemi sudah melaksanakan kegiatan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Peserta disambut oleh Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Wahju Rudianto, S.Pi. M.Si. Dalam sambutannya beliau menyampaikan, “Bagaimana mempertahankan ekosistem hujan tropis pegunungan dalam rangka meningkatkan keanekaragaman hayati. Maka dari itu Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango berusaha secara maksimal dalam mengelola potensi flora dan fauna, potensi wisata alam, potensi sumber daya air, potensi panas bumi, dan potensi karbon. Tidak hanya itu dalam upaya peningkatan pelayanan, kami telah mengembangkan ISO 14001:2015, ISO 9001, Ecco Office, Aplikasi Booking Pendakian Online dan membuat slogan MaTul JaWa (MAlu korupsi, TULus melayani, JAngan terima suap, WAjib akuntabel) dalam rangka Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas Korupsi”.

Sebelum melaksanakan jungle tracking ke Canopy dan Curug Ciwalen, peserta diajak menjelajah ke diorama Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) untuk memberikan informasi sejarah dan potensi TNGGP, serta memperkenalkan beberapa link pada website TNGGP, yaitu: virtual tour (http://virtual-tour.gedepangrango.org/), aplikasi Eduwisata Virtual Eco Office Gede Pangrango (http://eco-office-virtual.gedepangrango.org/), dan E-Book TNGGP.

Selain itu, dijelaskan juga kepada peserta bahwa Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) sejak tahun 2019 fokus mempersiapkan pembangunan ZI menuju WBK dan WBBM secara konsisten dan berkelanjutan (https://www.gedepangrango.org/siaran-pers-membangun-zona-integritas-zi-menuju-wilayah-bebas-dari-korupsi-wbk-dan-wilayah-birokrasi-dan-bersih-melayani-wbbm-di-balai-besar-tn-gede-pangrango/). Dalam rangka mewujudkan ZI menuju WBK dan WBBM serta bertepatan dengan Hari Rimbawan ke-38 dengan tema “Terus Berbakti di Tengah Pandemi untuk Lingkungan dan Hutan Lestari”, Selasa (16/03/2021) dalam acara Upacara Peringatan Hari Rimbawan ke-38 BBTNGGP telah digelar:

  1. Pembacaan dan penandatanganan Deklarasi Wilayah Bebas Korupsi oleh Kepala Balai Besar TNGGP dan Pejabat Eselon III lingkup Balai Besar TNGGP diikuti dengan penandatanganan Pakta Integritas oleh seluruh pegawai lingkup Kantor Balai Besar TNGGP dan Kantor Bidang PTN Wilayah;
  2. Arah kebijakan Kepala Balai Besar sebagai rencana aksi dalam mewujudkan zona integritas menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK);
  3. Peluncuran sekaligus publikasi slogan dan logo WBK di Balai Besar TNGGP;
  4. Penunjukan dan penetapan agen perubahan.

Selanjutnya peserta diajak jungle tracking ke Resort Mandawalangi dan Canopi – Curug Ciwalen, Resort Cibodas dalam rangka mengenalkan potensi dan pengelolaan wisata TNGGP.

Pada hari kedua, Selasa (06/04/2021) kegiatan Jurnalistik Wisata Alam untuk Forest Healing di Tengah Pandemi dihadiri oleh Wakil Menteri Lingkungan Hidup yang didampingi Kepala Biro Humas dan Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi. Pada kesempatan ini, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango memperkenalkan beberapa inovasi pelayanan dan pengelolaan kawasan konservasi kepada Wamen KLHK dan tim, diantaranya: buku tamu sistem barcode, aplikasi pengelolaan Barang Milik Negara (BMN), serta memperkenalkan beberapa link pada website TNGGP, yaitu: virtual tour (http://virtual-tour.gedepangrango.org/), aplikasi Eduwisata Virtual Eco Office Gede Pangrango (http://eco-office-virtual.gedepangrango.org/), dan E-Book TNGGP.

Pada acara pembukaan Kepala Biro Humas, menyampaikan sambutan, bahwa kegiatan ini merupakan ajang silaturahim antara kementerian KLHK dengan teman-teman media dan TNGGP yang merupakan salah satu Taman Nasional yang tertua di Indonesia.

Kepala Balai Besar TNGGP, memaparkan tentang pengelolaan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yaitu sejarah TNGGP, visi dan misi, sistem pembagian zonasi, 15 resort pengelolaan, potensi TNGGP (flora, fauna, wisata, hidrologi, dan karbon), pemanfaatan jasa lingkungan, kondisi pengunjung dan PNBP, serta menyampaikan tentang “5 Prinsip Pengelolaan Ala TNGGP”, yaitu:

  1. Mengetahui potensi wilayah kerja;
  2. Tren kondisi (data time series);
  3. Program yang akan dilakukan (program berbasis scientific/ berbasis data);
  4. Mengetahui tipologi masyarakat sekitar wilayah kerja;
  5. Nilai kemanfaatan kawasan kepada masyarakat.

Wakil Menteri Ligkungan Hidup dan Kehutanan memberikan sambutannya, “Taman Nasional Gunung Gede Pangrango karena sudah menerapkan pola baru dalam mengelola wilayah konservasi di sekitar kawasan dan juga mengingatkan pentingnya pengelolaan sampah agar pengunjung tidak terganggu dengan sampah yang dibuang sembarangan. Beliau juga berpesan dengan adanya eco wisata menjadi penggerak Green Economy di lingkungan sekitar wisata dan membuka peluang kerja sehingga berkontribusi terhadap pendapatan masyarakat, daerah, dan negara”.

Pada sesi diskusi, salah satu wartawan/ jurnalistik Amri dari Republika menanyakan mengenai konservasi yang berkaitan keterlibatan dengan masyarakat. Adakah rencana dalam 5 tahun kedepan untuk mengantisipasi hal-hal yang mungkin menjadi persoalan ketika penduduk semakin padat menjadi pertanian dan sebaran wilayah konservasi, apakah akan merubah menjadi alih fungsi tempat wisata atau seperti apa?

“Harapan kedepannya, sawah sudah memiliki sistem agroforesting supaya fungsi TNGGP ada sifatnya pemanfaatan lingkungan dan fungsi pengawetan dan itu yang harus kita jaga melalui keterlibatan dengan kegiatan monitoring. Kawasan konservasi menjadi “the last reserve” penyelamat terakhir dari benteng kehidupan agar kita bisa meminimalisir dampak-dampak bencana kerusakan”, ujar Wamen KLHK.

Rangkaian acara dilanjutkan ke Resort Selabintana, Seksi PTN Wilayah III Selabintana untuk penandatanganan Prasasti Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dan mengunjungi wisata alam Bumi Paseban serta Museum Bartel (Museum Elang Jawa) Balong Cimungkad, Resort Cimungkad, Seksi PTN Wilayah IV Situgunung, Bidang PTN Wilayah II Sukabumi.

Direktur PJLHK memberikan apresiasi bahwa TNGGP mempunyai Pusat Pendidikan Konservasi Elang Jawa Cimungkad yang memberikan gradasi berbeda dengan objek wisata lainnya. “Saya sangat terkesan dengan Pusat Pendidikan Konservasi Elang Jawa Cimungkad suatu hal yang menarik yaitu perpaduan wisata sejarah, pendidikan, dan alam, ini merupakan implementasi dari dokumentasi sejarah Elang jawa di TNGGP”, ungkapnya. Beliau juga memberikan saran dan harapan agar mempertahankan kondisi kebersihan dan kenyaman lokasi, edukasi berupa interpretasi pengunjung perlu ditambah serta penambahan jam kunjungan dan tentunya dengan adanya obyek wisata ini kawasan TNGGP dan Elang jawa tetap lestari.

Beberapa kesan dan pesan lainnnya yang disampaikan oleh peserta Jurnalistik Wisata Alam untuk Forest Healing di Tengah Pandemi. Nena peserta dari Metro TV menyampaikan pengalaman pertama berkunjung ke TNGGP, “Ternyata TNGGP tidak setakut yang saya bayangkan bagi saya yang tidak menyukai kegiatan outdoor. Saya senang sekali dapat kesempatan berkunjung ke sini dan pelayanannya luar biasa bagus”.

Emir Chaerullah peserta dari Media Indonesia, “TNGGP mempunyai kawasan yang luar biasa bagus, namun sayang prasarana menuju ke lokasi objek masih ada beberapa yang kurang memadai untuk memudahkan pengunjung”.

Sebagai pamungkas kegiatan, Wamen LHK memberikan pesan, “Pendekatan masyarakat harus dikuatkan untuk menumbuhan kebersamaan dan rasa memiliki serta rasa manfaat dari kawasan konservasi TNGGP dalam mendorong partisipatory patrol and control untuk mengatasi kekurangan dalam pengelolaan kawasan”. Beliau memberikan semangat untuk TNGGP agar tetap semangat dalam bekerja, kita bekerja tidak untuk sendiri namun bekerja untuk nusa dan bangsa.

Dalam kunjungannya ke Cimungkad, beliau juga bekesan, “Pendekatan kepada masyarakat sudah bagus dan insprastruktur sudah tertata dengan baik”. Komunikasi, koordinasi, dan sinkronisasi dengan Pemerintah Daerah harus dikuatkan dalam rangka menjelaskan visi dan misi dari TNGGP dalam mengelola kawasan konservasi, pesan tambahan dari beliau.

Semoga dengan adanya kegiatan kunjungan kerja dari Wamen LHK serta kegiatan Jurnalistik Wisata Alam untuk Forest Healing di Tengah Pandemi dapat meningkatkan pengelolaan wisata Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan terus berinovasi dalam pembangunan konservasi.

Terimakasih Pak Wamen LHK dan Rekan-rekan Media, TNGGP pasti lebih baik.

Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango