Taman Nasional Gunung Gede Pangrango [National Park]

The Oldest Tropical Mountain Rain Forest of Java

Depan » Hewan


Hewan

Cetak  

Hutan tropis merupakan ekosistem yang sangat kaya, dan ketika memasuki hutan, Anda pasti ingin melihat satwa apa saja yang ada dihutan tersebut. Jika anda ingin melihat satwa di hutan, Anda harus mempunyai waktu yang lebih banyak dan khusus, terutama bila Anda memasuki hutan hujan pegunungan yang kaya dengan beragam flora dan fauna.

Beberapa satwa bahkan spektakuler, misalnya kelompok serangga, yang berukuran kecil. Pengamatan daun-daun dengan cermat akan sangat menarik. Dengan binokuler dan dan buku petunjuk burung, Seorang pengamat burung dapat melakukan pengamatan perilaku berbagai jenis satwa, termasuk monyet, trenggiling, bajing, dll. Waktu yang cukup ideal untuk pengamatan adalah dini hari dan menjelang malam, karena waktu-waktu tersebut satwa cukup aktif.

Berikut ini merupakan penjelasan beberapa jenis satwa yang ada di TNGP. Jenis satwa akan diterangkan dengan nama latin, dan nama lokal satwa, dan penjelasan tentang frekwensi satwa ditemukan , sebagai berikut:

Frekwensi perjumpaan:
Sering terlihat ***
Kadang-kadang terlihat **
Jarang terlihat *
Burung

A baby Javan hawk-eagle: this bird can be frequently seen in TNGP

Kawasan TNGP terkenal dengan kekayaan jenis burung, dengan tercatat lebih 250 jenis burung ada di kawasan TNGP. Pengunjung yang suka mengamati burung (Bird watchers) dapat menghubungi petugas TNGP bila ingin melakukan pengamatan.

Elang / Eagles (Family ACCIPITRIDAE) ***

Ada 16 jenis elang, tercatat berada di kawasan TNGP. Jenis Elang yang paling sering ditemukan adalah elang berjambul (crested serpent). Elang ini berukuran sedang (50 cm) dengan kepala berjambul kecil dan ekor berwarna putih.

Selain itu terdapat burung pemangsa yaitu Elang Hitam, yang berukuran besar (70 cm) dengan bulu-bulu hitam. Elang hitam ini sering terlihat di sekitar Air Terjun Cibeureum. Sering berpasangan, dan diikuti oleh seekor anak, saling memanggil, dan terbang cukup rendah di atas pepohonan.

TNGP juga merupakan habitat bagi Elang Jawa yang langka. Elang ini berwarna creamy-buff dan berukuran besar (60 cm). Elang Jawa memiliki bulu jambul yang besar di bagian kepalanya. Walaupun langka dan sudah masuk kategori Endangered (E) dalam daftar IUCN (International Union for the Conservation of Nature), dan termasuk endemik Jawa Barat, namun satwa ini tidak sulit dijumpai. Elang jawa ini suka hinggap di dahan pohon yang terbuka dimana merupakan tempat ideal untuk melihat mangsanya, misalnya ayam hutan dan jenis mamalia kecil. Burung ini dikenal sebagai model dari lambang negara Indonesia ”Garuda”

Jenis burung lain: Burung hantu / Owls (order STRIGIFORMES) ***
Meninting / Fork tails (Enicurus spp.) ***
Tiung batu / Sunda whistling thrush (Myiophoneus glaucinus) ***

Javan gibbbon:
the world’s most endangered gibbon

Mamalia

Owa Jawa / Javan gibbon (Hylobates moloch) ***
Termasuk kategori Endangered menurut IUCN

Tubug Owa Jawa ditutupi rambut yang berwarna kecoklatana sampai keperakan atau kelabu, bagian atas kepala berwarna hitam, Muka seluruhnya berwarna hitam. Owa Jawa ini mudah dikenal terutama karena tidak berekor, sehingga tergolong kelompok kera (Apes), kelompok monyet mempunyai ekor.

Owa termasuk satwa monogami dan hanya mempunyai satu pasangan untuk seumur hidup. “Keluarga inti”, biasanya terdiri dari 2 jantan dan 2 remaja, dan sangat territorial. Tidak seperti jenis Owa lain, Owa Jawa Betina yang bersuara untuk mengontrol teritorialnya setiap pagi dengan melakukan kontes suara/bernyanyi. Nama Owa berasal dari vokalisasi Owa yang sangat khas yang bisa didengar di hutan-hutan habitat Owa.

Terdaftar dalam IUCN masuk dalam kategori Endangered. Owa Jawa sudah dilindungi melalui Peraturan Perundang-Undangan RI sejak tahun 1931. Seperti Owa lainnya, Owa Jawa juga sering dipelihara sebagai hewan peliharaan (Pet), dan dijual di pasar hewan. Namun, karena peraturan perlindungan satwa ini cukup ketat, perdagangan Owa sudah tidak dilakukan secara terang-terangan.

Jenis mamalia lain: Surili / Javan leaf monkey (Presbytis comata) *** IUCN listing Endangered
Trenggiling / Pangolin (Manis javanica) * Protected under Indonesian law
Macan tutul / Leopard (Panthera pardus) * IUCN listing Threatened

Bunglon: this lizard likes to sit quietly on places such as tree branch and rocks

Reptilia

Kadal / Lizards (Suborder SAURIA) ***

Sedikitnya ada 3 famili kadal dapat ditemukan di kawasan TNGP yaitu : tokek, yang sering terlihat dirumah-rumah; bengkarung, dan kadal pemanjat (the tree-climbing Agamids) .

Bunglon (Gonocephalus chamaeleontinus) / Bunglon **

Satwa ini sering menunjukkan ekspresi muka ketakutan. Seperti nama ilmiahnya, chameleons, satwa ini dapat mengubah warna tubuhnya: dari warna hijau sampai hitam/coklat. Anggapan salah bila dikatakan satwa ini beracun, sehingga bunglon seringsekali di bunuh. Tidak ada keluarga kadal di Asia Tenggara yang beracun.

Jenis kadal lain: Bunglon / False calotes lizard (Pseudocalotes tympanistriga) ***
Bengkarung / Skinks (Family SCINCIDAE) ***

Ular / Snakes (Suborder SERPENTES) **

Ular pada umumnya binatang yang pemalu dan lebih suka diam. Ular hanya menyerang jika terganggu. Walaupun, sangat jarang orang tergigit ular di dalam kawasan, tetapi lebih baik menghindari resiko ketika berhadapan dengan ular. Banyak jenis ular di dalam kawasan TNGP, ada yang berukuran kecil seperti cacing sampai ular besar Phyton, yang panjangnya bisa mencapai 10 m.

White-lipped frog is a good climber

Amfibi

Katak, Kodok /
Frogs, Toads Lizards (Order ANURA) ***

Jika anda ingin mencoba kehebatan anda dalam melakukan observasi, cobalah mencari katak/kodok. Hutan di TNGP banyak terdapat katak. Mereka hidup dibawah akar-akar pohon, didaun yang terapung di air, di atas pohon, di kumpulan air yang terdapat didasar daun pandan, dan disekitar rawa-rawa dan sungai.

White-lipped frog (Rana chalconota) ***

Ini adalah jenis katak yang ditemukan ditempat-tempat terbuka, mudah dikenali melalui bibir bawahnya yang putih. Katak bibir bawah putih ini tergolong pemanjat yang cukup baik, karena itu sering disebut sebagai katak pemanjat. Memiliki jari-jari kaki yang besar dan membulat di ujungnya, seperti penyangga untuk membantu memanjat dengan mengeluarkan cairan seperti lem. Seperti umumnya katak, jenis ini dapat merubah warna kulitnya: hijau ketika siang hari, coklat atau ungu ketika malam.

Jenis amfibi lain: Javan tree frog (Rhacophorus javanus)
Horned frog (Megophrys montana)
Gold-striped frog (Philautus aurifasciatus)