Survey Elang Jawa (spizaitus Bartelsi Etressmann, 1924) Di Tngp. Laporan Pkl.

Peneliti: Virmuda Berna

Topik : Fauna

Tahun : 1999

No. Pustaka:

Abstrak
Indonesia dikenal sebagai salah satu Negara yang memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia sehingga mendapat julukan “Mega diversity country”. Keanekaragaman  hayati di Indonesia antara lain mamalia (515  species), reftilia (600 species), burung (1519 species), amphibia (270 species), dan tumbuhan berbunga 10000 (species). Indonesia menempati urutan keempat dunia (17 %) setelah Columbia, Peru dan Brazilia dalam keanekaragaman burung. Burung juga dapat dijadikan indikator yang baik dalam menilai kualitas suatu tempat. Keanekaragaman burung menjadi parameter kualitas lingkungan. Elang Jawa (Spzaetus bartelsi), suatu ‘raptor’ hutan tropis Indonesia, mendapat pioritas perlindungan karena daerahnya sangat terbatas. Elang ini hany7a ada di Pulau Jawa atau di sebut endemic Pulau Jawa. Menurut daftar IUCN status burung ini adalah  GENTING, suatu status yang menunjukan jumlah populasi kurang dari 10.000 ekor dewasa (Anonymous, 1998) atau luas daerah kurang dari 5.000 km2 dan luas daerah yang ditempati kurang dari 500n km2. Sedangkan peluang punahnya di atas 20% dalam kurun waktu 20 tahun (Collar dan Rudyanto, 1995). Menurut Sozer dan Nijman pada penelitian terbaru menunjukan jumlah perkiraan burung ini 600 – 1.000 ekor (van Balen dkk. In.prep dalam anonymous, 1998). TNGP merupakan salahsatu tempat hidup Elang Jawa, diperkiraan di tempat ini terdapat 4-5 pasang (Sozer dan Nijman, 1995). Tetapi diyakini jumlahnya lebih besar dari perkiraan tersebut. Laporan pemantauan rutin dari petugas TNGP dari setiap wilayah masih kurang, sedangkan disisi lain wilayah TNGP semakin terjepit oleh berbagai infrastruktur dan aktivitas manusia, hal ini dapat memperburuk kondisi habitat yang ada. Dengan latar belakang tersebut perlindungan yang lebih serius terhadap Elang Jawa.