Strategi Pengembangan Ekowisata Primata Diurnal Di Resort Pemangkuan Taman Nasional Mandalawangi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Peneliti: Ratna Agustine

Topik : Ekowisata

Tahun : 2013

No. Pustaka:

Abstrak
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) yang berada pada tiga wilayah administrasi yaitu Kabupaten Bogor, Sukabumi dan Cianjur memiliki luas sekitar 22.851,03 ha. Pada kawasan TNGGP terdapat 5 (lima) jenis primata, diantaranya owa jawa (Hylobates moloch), surili (Presbytis comata), lutung (Trachypithecus auratus), monyet ekor-panjang (Macaca fascicularis) dan kukang jawa (Nycticebus javanicus) (BBTNGGP, 2012). Keragaman jenis primata tersebut harus ditingkatkan nilainya melalui kegiatan ekowisata primata. Konsep dasar ekowisata yang mengusung pilar ekologi, ekonomi dan sosial budaya diharapkan dapat berkembang di TNGGP khususnya Resort Pemangkuan Taman Nasional (RPTN) Mandalawangi, karena terdapat zona pemanfaatan yang dapat difungsikan sebagai destinasi wisata. Selain memperhatikan nilai ekologisnya, kegiatan ekowisata juga diharapkan dapat memberikan peningkatan perekonomian masyarakat sekitar dengan metode partisipatif. Wisatawan pun harus dilibatkan dalam upaya pelestarian lingkungan melaui peningkatan kualitas dan pengetahuan wisatawan. Oleh sebab itu, diperlukan penelitian yang mengkaji tentang strategi yang tepat untuk mengembangkan ekowisata primata pada kawasan tersebut.
Penelitia ini dilaksanakan di RPTN Mandalawangi TNGGP Jawa Barat, dengan batasan pada dua jalur wisata yang sudah ada yaitu Jalur Wisata Cibeureum dan Ciwalen. Adapun waktu kegiatan berlangsung selama 2 (dua) bulan, yang dimulai dari Bulan April-Mei 2013. Metode pengambilan data yang digunakan pada penelitian ini yaitu penelusuran literatur, observasi dan kuesioner. Observasi untuk mengetahui potensi dan keragaman primata dilakukan dengan menggunakan Metode Line Transect serta Libitum Sampling. Sedangkan kuesioner digunakan untuk mengetahui karakteristik, persepsi, motivasi, preferensi dan partisipasi dari pengunjung, masyarakat serta pengelola. Penilaian dilakukan dengan skor Skala Likert yang sudah digubah menjadi skor 1-7 (Avenzora, 2008) dan kuesioner dibuat dalam bentuk closed ended. Dibutuhkan 30 sampel dari pengunjung remaja dan dewasa, serta 30 Sampel untuk masyarakat sekitar. Sedangkan kuesioner pengelola dibagikan kepada seluruh pengelola RPTN Mandalawangi (6 orang). Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif serta dilakukan Uji Chi-kuadrat untuk membandingkan persepsi dan preferensi antara pengunjung remaja dan dewasa.
Hasil pengamatan menunjukan bahwa terdapat empat jenis primata diurnal yaitu lutung budeng (Tracypithecus auratus), surili (Presbytis comata), owa jawa (Hylobates moloch) dan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Kepadatan populasi tertinggi dimiliki lutung budeng (98 individu/km2), kemudian surili (27 individu/km2), owa jawa (17 individu/km2) dan monyet ekor ekor panjang (2 individu/km2). Respon dominan yang ditunjukan primata ketika terjadi kontak dengan pengunjung diantaranya lutung budeng diam di tempat (80%), surili melarikan diri tanpa bersuara (75%), owa jawa bersembunyi (100%) dan monyet ekor-panjang diam ditempat (100%). Peluang tertinggi ditemukan jenis primata pada jalur wisata yaitu lutung budeng (75%).
Sebagian besar pengunjung yang datang ke RPTN Mandalawangi berasal dari Jakarta dan sekitarnya (60%) serta memiliki motivasi utama yaitu menikmati Air Terjun Cibeureum. Baik pengunjung remaja maupun dewasa sama-sama memiliki tingkat pendidikan yang cukup tinggi, sehingga pengunjung paham dengan keberadaan taman nasional dan agak setuju (skor=5) untuk ikut dalam kegiatan ekowisata primata. Masyarakat juga setuju untuk dilibatkan dalam pengelolaan ekowisata primata di RPTN Mandalawangi. Sebagian besar masyarakat (Desa Rarahan dan Cimacan) bekerja sebagai wirausaha seperti penyedia makan, minuman dan souvenir, jasa penginapan, jasa transportasi, serta pemandu wisata. Hasil kuesioner menunjukan bahwa masyarakat memiliki kemampuan dan keinginan untuk ikut terlibat dalam pengelolaan ekowisata primata (skor rata-rata=6). Hal tersebut disambut dengan persepsi pengelola yang menyatakan bahwa pengelola RPTN Mandalawangi cukup paham dengan bentuk pengelolaan satwa liar /primata dan agak setuju (skor=5) jika primata diurnal dikembangkan dengan konsep ekowisata. Pengelola juga agak bersedia untuk berpartisipasi meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat sekitar dengan pelibatan dalam pengelolaan ekowisata.
Hasil analisis SWOT terhadap faktor internal dan eksternal menunjukan pengembangan ekowisata primata berada pada kuadran I. Situasi tersebut cukup menguntungkan karena mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif. Analisis SWOT tersebut menghasilkan tujuh strategi yang telah disusun dengan mempertimbangkan visi dan misi, diantaranya 1) mengoptimalkan pemanfatan primata dengan konsep ekowisata primata melalui dukungan dari pengelola, masyarakat dan pengunjung; 2) merencanakan kawasan permodelan ekowisata primata dengan mengunggulkan aspek ekologi, ekonomi dan sosial budaya; 3) menguatkan kelembagaan dan memperbaiki intra infrastruktur; 4) meningkatkan kapasitas SDM sehingga siap untuk mengembangkan ekowisata primata sesuai dengan demand wisatawan; 5) peningkatan pengelola primata dan habitatnya, khususnya yang berada di sekitar jalur wisata RPTN Mandalawangi; 6) meingkatkan kualitas perilaku wisatawan dalam melakukan kegiatan wisata di kawasan konservasi; serta 7) membentuk “Masyarakat Pecinta Primata dan Tanggap Bencana”