Smart Rbm Dalam Era Baru Pengelolaan TNGGP Berbasis Resort

Dalam rangka meningkatkan efektifitas pengelolaan kawasan taman nasional telah dikembangkan pedoman pengelolaan taman nasional berbasis resort sebagai tindak lanjut dari SK. Dirjen PHKA Nomor SK.181/IV-Set/2010 tanggal 18 November 2010 yang mencantumkan Resort Based Management (RBM) sebagai strategi penguatan pengelolaan kawasan di tingkat tapak.

Perangkat pengelolaan kawasan yang dikembangkan pada tahun 2012 awalnya hanya diaplikasikan pada kegiatan pengamanan kawasan atau patroli dengan menggunakan Spatial Monitoring And Reporting Tools (SMART) sehingga dinamakan SMART Patrol. Sebagai suatu tools/¬ alat, SMART di dalam perjalanannya semakin disempurnakan dan diujicobakan di beberapa UPT KSDAE dengan tidak hanya dipergunakan dalam kegiatan patroli saja namun semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan kawasan seperti inventarisasi, monitoring, bahkan kegiatan sosialisasi/ penyuluhan kepada masyarakat sekitar kawasan. Sejak tahun 2017 itulah dikenal perubahan istilah SMART Patrol menjadi SMART RBM.

Dalam rangka pelaksanaan perjanjian internasional dengan ITTO, Balai Besar TNGGP menyelenggarakan pelatihan SMART RBM. Saat ini kerjasama yang sedang berjalan dengan ITTO adalah ITTO PROJECT PD 777/15 REV. 3 (F): “ACCELERATING THE RESTORATION OF CIBODAS BIOSPHERE RESERVE (CBR) FUNCTIONS THROUGH PROPER MANAGEMENT OF LANDSCAPES INVOLVING LOCAL STAKEHOLDERS”, khususnya kegiatan Activity 1.3. To Enhance Capacity in Core Area Protection by Involving Local Communities in Forest Patrol Operations and Providing Essentialfacilities, telah menyelenggarakan pelatihan SMART RBM selama 2 hari bagi 43 orang petugas lapangan dan Masyarakat Mitra Polhut/ MMP (22 – 23 Juli 2020) dan selama 3 hari bagi 17 orang operator (22 – 24 Juli 2020) yang bertempat di Cibodas.

Kegiatan terselenggara atas kerjasama Balai Besar TNGGP dengan International Tropical Timber Organization (ITTO), didukung narasumber/ trainer dari Direktorat Konservasi Kawasan, Wildlife Conservation Society (WCS), dan Universitas Pakuan. Pelatihan SMART ini merupakan bagian kecil dari penerapan RBM, Balai Besar TNGGP sebagai salah satu taman nasional tertua di Indonesia berkomitmen untuk terus melakukan penguatan sumber daya pada tingkat resort yang meliputi penguatan personil (terutama Polisi Kehutanan, Pengendali Ekosistem Hutan, dan Penyuluh Kehutanan), anggaran, serta sarana pengelolaan.

Pada acara pembukaan, Wahju Rudianto Kepala Balai Besar TNGGP, mengutarakan harapannya kepada seluruh peserta yang sebagian besar dari resort dan seksi wilayah mampu mengikuti kegiatan dengan baik sehingga ilmu yang diperoleh nantinya dapat diterapkan untuk memperkuat implementasi RBM dalam sistem pengelolaan kawasan TNGGP yang lebih efektif dan efisien melalui manajemen data kawasan dengan peranan besar pada tingkat resort/ tapak serta mendukung sistem informasi berjenjang pada struktur Balai Besar TNGGP.

Materi kegiatan dimulai dengan paparan Dian Risdianto dari Direktorat Konservasi Kawasan tentang perkembangan SMART Patrol menjadi SMART RBM yang implementasinya telah dijalankan secara intensif di 12 UPT Ditjen KSDAE dari sekitar 40 UPT yang telah melakukan pelatihan SMART RBM. Sistem informasi berupa database yang dihasilkan sangat berguna dalam evaluasi dan tindak lanjut langkah kebijakan yang diambil suatu UPT.

Pada hari ke-3, materi dan praktik aplikasi SMART RBM dipandu oleh 4 orang mentor dari WCS. Materi yang disampaikan mengenai Pedoman Implementasi SMART di Kawasan Konservasi, Panduan Aplikasi SMART-RBM untuk Pengelolaan Basis Data Kawasan Konservasi, dan Penjelasan Istilah dan Struktur Data Model (Datamodel Glossary). Sasaran pelatihan hari ke-3 untuk operator data smart RBM yang diikuti oleh staf seksi, bidang, dan balai besar. Operator ini akan mengolah data yang telah diambil oleh staf lapangan dan akan disajikan dalam bentuk data TNGGP.

Upaya pemantauan dan evaluasi pasca dilakukannya pelatihan akan terus dilakukan, pelatihan-pelatihan lanjutan pada tingkat wilayah akan dilakukan guna mempertajam penguasaan dan penerapan aplikasi. Hal yang tidak kalah penting adalah pengolahan dan penggunaan data sebagai masukan dalam pengelolaan taman nasional yang efektif dan memberi manfaat optimal. Semoga dapat mendorong pengelolaan TNGGP dengan sistem informasi data yang lengkap, terstruktur, dan berjenjang dalam mewujudkan pengelolaan yang efektif fan efisien.

Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Teks: Ida Rohaida – Polhut Muda