Taman Nasional Gunung Gede Pangrango [National Park]

The Oldest Tropical Mountain Rain Forest of Java

Depan » Berita » Silaturahmi Presiden RI Beserta Ibu Negara Dengan Masyarakat Sekitar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango


Silaturahmi Presiden RI Beserta Ibu Negara Dengan Masyarakat Sekitar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

16.1.13Hits 1.076 views|BeritaCetak

Presiden SBY dalam rangkaian Kunjungan Kerja ke Jawa Barat, pada Selasa, 8 Januari 2013 mengunjungi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan masyarakat yang tinggal disekitarnya. Dalam kunjungan kerja kali ini, Presiden dan Ibu Negara Hj. Ani Bambang Yudhoyono akan menanam pohon Rasamala (Altingia exelsa) dan KiHujan (Engelhardia spicata) sebagai bagian dari  pohon yang diadopsi Presiden dan Ibu Negara di TNGGP, serta meninjau usaha dan hasil pemberdayaan masyarakatnya, yang telah dilaksanakan oleh Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Kemenhut bekerjasama dengan Green Radio pada kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).

Program Adopsi Pohon yang bergulir sejak tahun 2008, merupakan salah satu bentuk kepedulian masyarakat untuk ikut serta menanam dan memelihara pohon  di kawasan hutan yang rusak, gundul dan kritis di TNGGP. Program Adopsi Pohon bertujuan untuk melakukan pembinaan habitat (penghutanan kembali) kawasan terdeforestasi TNGGP, membangun usaha mata pencaharian baru masyarakat diluar kawasan dan didalam zona pemanfaatan TNGGP, serta melakukan kampanye/sosialisasi nasional kesadaran cinta lingkungan (tanam dan pelihara pohon) dan go green. Bentuk program adopsi pohon di TNGGP adalah dengan memberikan donasi sebesar Rp. 3.000  per pohon per bulan, selama tiga tahun. Dana sebesar Rp. 108.000 per pohon tersebut 60%nya digunakan untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat diantaranya ternak kelinci, kambing, lebah madu, pertanian organik dan pembinaan pemandu wisata alam. Sisanya sebesar 40% digunakan untuk penanaman dan pemeliharaan pohon endemik TNGGP, serta membangun kelembagaan petani, dokumentasi dan laporan semester perkembangan pohon kepada adopter melalui internet.

Melalui program Adopsi Pohon, di Sarongge sudah ditanam 23.000 pohon, diantaranya pohon jenis Puspa, Manglid, Rasamala dan Suren. Pohon yang ditanam tahun 2008 sekarang sudah 4 meter tingginya. Program Adopsi pohon bukan sekedar kegiatan menanam dan memelihara pohon saja, namun merupakan upaya mengembalikan hutan sesuai fungsinya semula (habitat alam). Sebagian kebun sayur yang ada di taman nasional ini (dulunya tanaman tumpangsari masyarakat pada hutan yang dikelola Perum Perhutani) sudah pulih kembali menjadi hutan. Dari 155 keluarga tani yang menggarap hutantersebut, kini sudah 51 keluarga yang berhasil keluar dengan alternatif usaha mata pencaharian baru dengan penghasilan lebih baik, sedangkan 104 keluarga lainnya masih dalam pembinaan untuk dapat mau dan mampu bermatapencaharian baru sebagai sumber pendapatan pengganti. Petani yang merawat hutan mendapat insentif ekonomi yang cukup dengan beternak kambing dan kelinci diluar kawasan TNGGP. Ada petani yang dulu berkebun di taman nasional dengan pendapatan Rp. 400 ribu per bulan, sekarang dari beternak kelinci saja ia dapat Rp. 1 juta per bulan. Pada awalnya, Program Adopsi Pohon mulai dengan 250 ekor induk kelinci, kini telah berkembang biak menjadi 25.000 ekor lebih.  Setiap bulan, Sarongge memproduksi 1.000 ekor kelinci. Begitu juga dengan kambing, dari induk 40 ekor, sekarang sudah mencapai lebih dari 200 ekor. Para petani bekas penggarap lahan taman nasional itu, sekarang sedang mencoba industri rumah tangga untuk memproduksi sabun dengan pewangi sereh, dan juga sebagai pemandu wisata alam (guide tracking, interpreter alam, penyedia jasa transportasi, akomodasi dan konsumsi).

Selain aktif mendorong pengembangan ekonomi alternatif, program adopsi pohon juga membantu pengembangan infrastruktur, misalnya  60 keluarga di tepi hutan, kini mendapat aliran listrik bertenaga surya meski hanya untuk penerangan.  Secara khusus, Green Radio juga membantu masyarakat mendirikan radio komunitas perdesaan (Radio Edelweis, 2009), sebagai sarana hiburan, informasi dan pendidikan yang sekarang telah dikelola mandiri oleh warga Sarongge.

Saat ini tengah diupayakan agar Sarongge menjadi Desa Wisata. Sebuah daerah tujuan wisata yang menekankan pada unsur pendidikan tentang hutan tropis pegunungan, keragaman satwa dan tumbuhan asli Gede Pangrango; serta  budaya masyarakat sekitar hutan. Wisata alam itu, diharapkan akan menjadi salah satu alternatif sumber penghasilan utama buat warga setempat.

Saat ini, Program Adopsi Pohon dan Pemberdayaan Masyarakat di Sarongge ini cukup mendapat dukungan, lebih dari 900 orang telah ikut mengadopsi pohon, 20 perusahaan mengalokasikan dana CSRnya untuk menghutankan kembali kawasan TNGGP di Sarongge. Pada kesempatan kunjungan kerja kali ini Presiden SBY bersama para undangan juga ikut mengadopsi pohon sebagaimana Menteri Kehutanan pada Oktober lalu juga telah mengadopsi sebanyak 1.000 pohon.

Program Adopsi Pohon berhasil melakukan pembinaan habitat dengan memulihkan areal seluas 38 hektar menjadi hutan kembali dan akan dilanjutkan dengan pembinaan populasi satwa endemik TNGGP nya. Selain itu, program adopsi pohon di sarongge TNGGP ini, akan dijadikan sebagai salah satu model nasional penyelesaian konflik tenurial hutan, utamanya upada areal yang merupakan bagian dari perluasan TNGGP yang totalnya sekitar 7.000 Ha meliputi wilayah Kabupaten Sukabumi 2.500 Ha, Cianjur 3.000 Ha dan Bogor 1.500 Ha.

Jakarta, 7 Januari 2013

Kepala Pusat Humas Kehutanan

TTD

S u m a r t o

NIP. 19610708 198703 1 002