Si Bunga Langka Kembali Mekar

Kabar gembira, kembali datang dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), salah satu jenis tumbuhan langka ditemukan dalam kondisi mekar sempurna. Keindahan bentuk dan warnanya memikat orang yang melihatnya. Rafflesia rochussenii salah satu jenis Rafflesia yang tumbuh di TNGGP.

Tumbuhan yang termasuk dalam kategori terancam punah ini kembali ditemukan di TNGGP. Tempat penemuan kali ini merupakan site ketujuh yang ditemukan di TNGGP. Hingga saat ini habitat Rafflesia rochussenii baru ditemukan di wilayah kerja Bidang PTN Wilayah III Bogor.

Rafflesia rochussenii yang ditemukan oleh Iyan Sopian (PEH) dan Mukti (anggota MMP TNGGP) ketika sedang melakukan pengamatan burung (bird watching) ini, sungguh sangat membanggakan, karena bila dari daur hidupnya yang sangat panjang, umur mekar bunga terhitung sangat pendek. Dikutip dari Saadudin (2011) bahwa total siklus hidup Rafflesia rochussenii lebih dari empat tahun, dan dari daur tersebut hanya selama 35 hari bunga dalam fase mulai mekar hingga mekar sempurna. Rincian siklus hidup Rafflesia rochussenii diawali dengan pertumbuhan knop pertama hingga bunga akan mekar dalam kurun waktu 739 hari, bunga akan mekar hingga mekar sempurna dalam kurun waktu 35 hari, bunga mekar hingga layu dalam kurun waktu 7 hari, bunga layu hingga berbiji dalam kurun waktu 133 hari, dan dari biji hingga knop pertama selama 2 tahun.

Tumbuhan dari keluarga Rafflesiacea seluruhnya bersifat holoparasit yang sepenuhnya menggantungkan kebutuhan makanannya pada tumbuhan lain, jadi kehidupannya sangat bergantung pada tumbuhan inang. Tumbuhan ini juga bersifat dioceous atau berumah dua, dimana bunga jantan dan betina berada pada individu yang berbeda. Lamanya siklus hidup dan bunga yang bersifat dioceous ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan lambatnya pertumbuhan populasi dari jenis tumbuhan ini.

saat ini upaya konservasi untuk meningkatkan populasi Rafflesia rochussenii di TNGGP antara lain monitoring, peningkatan pengamanan, dan peneiltian bekerja sama dengan LBN LIPI. mudah-mudahan dengan langkah ini spesies hampir punah ini dapat lestari.

Penulis: Woro Hindrayani
Foto: Iyan Sopian