Taman Nasional Gunung Gede Pangrango [National Park]

The Oldest Tropical Mountain Rain Forest of Java

Depan » Kegiatan » Selama 12 Tahun Penutupan Hutan TNGGP Semakin Membaik


Selama 12 Tahun Penutupan Hutan TNGGP Semakin Membaik

15.1.12Hits 3.846 views|KegiatanCetak

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) merupakan salah satu dari taman nasional tertua di Indonesia dan termasuk kedalam 21 Taman Nasional Model yang ditetapkan oleh Menteri Kehutanan. Saat ini TNGGP merupakan perwakilan hutan hujan pegunungan di pulau Jawa yang paling utuh, untuk itu diperlukan upaya khusus untuk mengetahui keutuhan dan atau kelestarian TNGGP.

Untuk mengetahui keutuhan kawasan TNGGP diperlukan sebuah pemetaan landuse dari tahun ke tahun dengan teknik interpretasi Citra dan pembuktian melalui sample lapangan.Dengan demikian diketahui dinamika tutupan lahan dan perubahannya dari tahun ke tahun selama 12 tahun (dari 1999 s/d 2011). Pemetaan tutupan lahan dilakukan dengan melakukan klasifikasi terhadap Citra Landsat TM 7 tahun 1999, 2003, 2006 dan 2011. Setelah dilakukan klasifikasi maka dilakukan penghitungan luas dan analisa luasan. Adapun cara klasifikasi tutupan lahan adalah sebagai berikut:

a. Pemulihan Citra (image restoration)

Pemulihan citra merupakan prosedur operasi yang bertujuan untuk memperoleh data permukaan bumi sesuai dengan aslinya atau tanpa distorsi (Purwadhi 2001). Adapun langkah yang dikakukan meliputi koreksi geometri yang bertujuan untuk memperbaiki distorsi geometri.

b. Pemotongan citra (subset image)

Pemotongan citra bertujuan untuk membatasi wilayah, yaitu dengan memotong batas wilayah mengunakan peta batas Taman Nasional dengan menggunakan Software ArcGis 9.3.

c. Klasifikasi citra (image classification)

Pada proses ini tiap piksel dievaluasi dan ditetapkan pada suatu kelompok informasi. Pembagian kelas klasifikasi dibuat berdasarkan kondisi penutupan lahan di lapangan dan dibatasi menurut kebutuhan pengklasifikasian. Klasifikasi merupakan tahap dimana citra satelit diklasifikasikan dengan teknik supervised classification sehingga diperoleh peta penutupan lahan.

Dilakukan ground check terhadap klasifikasi yang telah dilakukan, terutama pada titik-titik yang meragukan seperti semak belukar, lahan terbuka, bayangan awan dan bayangan dari lembah serta spektrum warna-warna lain yang tidak dapat di prediksi. Dihitung perubahan luasan lahan dan kemudian dilakukan analisa pixel. Untuk Citra landsat TM7, setiap pixel mewakili luas 900 m2 dilapangan.

Tabel 1. Luasan Tutupan Lahan /Landuse TNGGP tahun 1999, 2003, 2006, 2011 adalah

Tutupan Lahan berdasarkan hasil klasifikasi terlihat bahwa luasan Hutan Primer dan Hutan Sekunder adalah relatif stabil sejak 1999-2011 berkisar kurang lebih 18.000 ha atau 80% dari total luasan TNGGP. Untuk semak belukar dalam kenyataannya berupa tumbuhan/tanaman muda, paku anam, dan lain sebaginya terus meningkat, hal ini menunjukan bahwa proses rehabilitasi lahan sejak tahun 2004 telah terlihat makin baik. Hal ini diperkuat dengan kondisi areal terbuka yang terus berkurang sejak tahun 1999 seluas 1.707,74 ha menjadi seluas 983,39 ha pada tahun 2011. Pemulihan kawasan terlihat jelas pada areal kebakaran tahun 1997 di puncak Gunung Geger yang terus mengalami pemulihan menjadi semak belukar, termasuk di areal Adopsi Pohon di Sarongge, juga rehabilitasi lahan di daerah Nagrak dan Pasir Hantap. Areal terbuka permanen di TNGGP pada kenyataannya adalah Alun-alun Suryakencana, Puncak Pangrango, Kawah Gede, dan Bumi Perkemahan, sedangkan areal terbuka yang temporal dan cenderung melakukan pemulihan adalah areal alih fungsi dari Perum Perhutani ke hutan Konservasi. Hasil klasifikasi ini dapat dijadikan acuan dalam program pengembangan Restorasi Kawasan TNGGP kedepan.

Hal-hal yang dapat mengurangi tingkat keakuratan data berupa awan, bayangan awan, waktu pengambilan citra juga cahaya matahari, mengingat hal tersebut maka data tahun 2003 kurang begitu akurat. Data tahun 2003 dengan jumlah Tidak Ada Data/Awan paling tinggi, selain itu kedudukan awan paling banyak di wilayah nagrak yang merupakan basis areal perambahan, dengan demikian untuk pengukuran Open Area tahun 2003 tidak dapat dijadikan acuan.

Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa :

  1. Tutupan lahan sejak tahun 1999-2011 untuk hutan primer dan sekunder relatif stabil yakni rata-rata 18.000 ha atau 80% dari total luasan.
  2. Untuk semak belukar jumlahnya terus meningkat, hal ini menunjukan bahwa proses rehabilitasi lahan sejak tahun 2004 telah terlihat makin baik.
  3. Areal terbuka terus berkurang sejak tahun 1999 seluas 1.707,74 ha dan menjadi 983,39 ha pada tahun 2011.
  4. Pemulihan kawasan alami terlihat jelas pada areal kebakaran tahun 1997 di puncak Gunung Geger, areal Adopsi Pohon di Sarongge, juga rehabilitasi lahan di daerah Nagrak dan Pasir Hantap.

Rekomendasi dari kegiatan berupa Monitoring dan Evaluasi tutupan lahan sangat diperlukan untuk mengetahui keberhasilan restorasi dan management pengelolaan taman nasional, oleh karena kegiatan seperti ini dapat dijadwalkan setiap 3 tahun sekali, selain itu pembangunan fasilitas wisata, sarana perlindungan, juga distribusi jumlah personil TNGGP hendaknya mengacu pada hasil kajian seperti ini.

[ teks © TNGGP 012012 | P3- red ]