Secercah Harapan Dari Blok Lebak Ciherang (lbc) – Resort Tapos

Konflik kepentingan dalam penguasaan sumber daya alam yang terjadi antara pemerintah dan masyarakat pada beberapa tahun belakangan ini semakin mengemuka di antara berbagai isu  nasional. Dalam konteks konservasi, konflik tersebut sering muncul ke permukaan dalam bentuk  persaingan antara kepentingan masyarakat untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya di satu pihak dan kepentingan konservasi di lain pihak. Namun sebetulnya hal ini tidak perlu dipertentangkan, kepentingan masyarakat dapat dipadukan dengan kepentingan konservasi. Bagaimana kita sebagai pengelola dapat mewujudkan ke arah pengelolaan bersama.

Seperti halnya kawasan hutan di Blok Lebak Ciherang (LBC) – Resort Tapos, berdasarkan keterangan dari Kepala Resort Tapos Bapak Edi Subandi, “Alhamduillah penggarap di Blok LBC sudah ke luar semua dari kawasan mulai dari tahun 2015 sebanyak 22 orang melalui proses yang cukup panjang sejak pengalihan pengelolaan kawasan dari Perum Perhutani ke Balai Besar TNGGP tahun 2003. Namun, lebih sulit lagi kami selaku pengelola lapangan tingkat resort untuk dapat mempertahankan keberhasilan ini. Bagaimana agar eks penggarap tidak lagi kembali ke dalam kawasan sedangkan kondisi pendapatan mereka jauh lebih sedikit dibandingkan saat masih menggarap di dalam kawasan bahkan ada yang belum mendapatkan pekerjaan tetap”.

Pada tahun 2015 pengelola TNGGP melakukan program proses pengeluaran penggarap di Blok LBC – Resort Tapos dengan kompensasi pemberian Kambing (1 orang penggarap yang ke luar mendapat 1 ekor Kambing) untuk dapat diternakan/ digulirkan. Sampai saat ini Kambing yang diberikan sebagian besar masih bertahan namun hasilnya dalam rentang waktu 2 tahun belum banyak dirasakan (baru menghasilkan anakan 2 – 3 ekor dan ada juga yang indukannya sudah mati). Sedangkan masyarakat eks penggarap perlu mempertahankan hidupnya. Pada kenyataannya hasil yang didapat dari kompensasi (pemberian bibit Kambing) jauh lebih rendah dari penghasilannya sebagai penggarap dalam kawasan. Eks para penggarap terus mendapat pendampingan dari pengelola kawasan TNGGP. Pada tahun 2016 dibentuk Kelompok Tani Hutan LBC Lestari, duduk sebagai ketua kelompok Bapak Madjid. Pak Madjid atau lebih dikenal dengan nama “Kajew” sebagai ketua kelompok yang eks penggarap di Blok LBC menuturkan harapan-harapannya, “Abdi mah sangat satuju lamun di LBC ieu mau dikembangkan menjadi tempat wisata tapi jangan lupa melibatkan para eks penggarap. Kami siap untuk dilibatkan dalam pengelolaan wisata LBC. Yang dirasakan eks penggarap saat ini terkait pendapatan jauh lebih sedikit dibandingkan saat masih menggarap dalam kawasan. Kalau ada kegiatan lain seperti wisata alam LBC dengan melibatkan eks penggarap akan membantu perekonomian kami sebagai eks penggarap”.

Setelah mencoba berkeliling melihat lebih dekat Blok LBC, diketahui banyak potensi yang masih tersimpan untuk pengembangan wisata alam. Pagi hari Kami bergerak turun menyusuri jalan setapak ke arah kumpulan pohon-pohon Pinus dari arah atas sudah terlihat barisan tajuk-tajuk Pinus yang meruncing menari-nari tertiup angin.  Sedang asyik menikmati indahnya pohon Pinus tiba-tiba datang “Sang Elang Hitam” meliuk-liuk naik turun di sela-sela pohon Pinus. Sungguh pertunjukan alam yang luar biasa dapat melihat “Sang Elang Hitam” dari dekat. Pohon-pohon Pinus tumbuh sampai pinggiran Sungai Ciherang sebagai penanda batas kawasan TNGGP.

Menjelang tengah hari Kami sampai di sudut lain dari Blok LBC, yaitu Air Terjun Cikamar. Air Terjun Cikamar dari hamparan lahan datar sudah tampak terlihat sedang mencurahkan airnya diantara sela-sela pohon, pakis, dan tumbuhan lainnya. Dalam perjalanan ke menuju air terjun ini kita bisa menikmati indahnya pesawahan yang menghijau, sepanjang pinggiran Sungai Ciherang yang sekaligus sebagai batas kawasan. Setelah melewati sungai tampak ada dua bagian hamparan lahan datar seluas ± 1 Ha (hamparan bagian bawah) dan 2 Ha (hamparan bagian atas) yang sangat cocok untuk tempat berkemah.

Selain potensi sumber daya alam yang bisa dikembangkan untuk kegiatan wisata alam, potensi pengunjung pun sudah tampak terlihat. Setiap hari libur mulai banyak pengunjung yang datang ke lokasi Blok LBC untuk sekedar ber-selfie, menikmati suasana udara segar dan panorama, serta “botram” (makan bersama keluarga atau teman). “Kalau hari libur di LBC rame banyak pengunjung dari sekitar Desa Cileungsi atau bahkan dari seputaran Bogor pada  botram, dan Alhamdulillah pendapatan dari buka warung pun bisa sampai 1 juta kalau dibandingkan hari biasa sekitar 200 ribu sampai 300 ribu”, begitu penjelasan dari istri Pak Kajew yang membuka warung di pertigaan Blok LBC. Manfaat dari adanya kegiatan kunjungan ke Blok LBC ini sudah dapat dirasakan masyarakat sekitar terutama eks penggarap. Namun sayangnya pengunjung masih kurang memperhatikan kebersihan, masih banyak sampah berserakan terutama di titik-titik pinggiran jalan yang ada tembok sebagai pembatas jalan. Pengunjung banyak duduk di pinggiran jalan tersebut sambil membawa makanan.

Melihat Blok LBC dari kronologis pengelolaan Perum Perhutani ke TNGGP, proses keluarnya penggarap dari dalam kawasan, berlokasi pada zona pemanfaatan, potensi SDA yang dimiliki, dan potensi pengunjung yang sudah ada dapat dijadikan sebagai potensi untuk pengembangan wisata alam dengan melibatkan masyarakat eks penggarap. Upaya ini sebagai salah satu alternatif dalam upaya meningkatkan manfaat ekonomi masyarakat sekitar (terutama eks penggarap) agar tidak kembali lagi ke dalam kawasan. Sehingga pengelola kawasan perlu persiapan menuju pengembangan wisata alam LBC dengan melakukan penataan ruang melalui penyusunan desain tapak yang selama ini belum dilaksanakan.

Teks: Poppy Oktadiyani dan Ade Bagja Hidayat
Dok: Eko Sutejo