Santap Malam, Lbc Terus Berbenah

“Lebak Ciherang” (LBC) tampil elegan di lereng Barat Gunung Pangrango. Terselip dibalik bukit, tersembunyi di situasi alami yang asri, destinasi nan unik dan cantik ini keindahannya mulai disingkap personil Resort Tapos Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) bersama masyarakat pada tahun 2016. Sejak saat itu Lebak Ciherang terus berbenah untuk meningkatkan kiprahnya dalam upaya konservasi alam. Bagaimana perjalanan pengembangannya ? Santap Malam (Trobosan yang mantap untuk manajemen sumber daya alam) kali ini berusaha menyajikan jawabannya.

Bila Polhut dari Resort Tapos, Ade Frima dengan heroik mengatakan “Perjuangan belum berakhir!”, maka Maria Nugrahani (Penyuluh Resort Tapos) menyambutnya dengan kata-kata “Perjuanganpun siap dimulai”. Di sini sepertinya ada “aura” semacam serah terima tugas utama dari Polhut kepada Penyuluh. Ungkapan mereka itu disampaikan, saat menuntaskan perjuangan pengeluaran mantan peserta Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) di Blok Lebak Ciherang (eks hutan produksi yang dialih fungsikan menjadi kawasan konservasi), pada tahun 2015.

Menurut Edi Subandi (Kepala Resort PTN Tapos) sebenarnya, seluruh personil Resort Tapos selalu bekerjasama dalam upaya penuntasan permasalah, termasuk dalam penanganan masalah garapan lahan hutan. “Namun mereka bagi-bagi peran, kalau peran utama dalam pengeluaran penggarap adalah Polhut yang bersinergi dengan penyuluh, maka pada tahap selanjutnya berganti menjadi Penyuluh yang bersinergi dengan Polhut”, tutur Edi.

Proses peralihan peran utama ini terjadi begitu “smooth” seolah-olah tidak terjadi perubahan, karena mereka selalu “kerja bareng dan bareng kerja” dan keduanya punya kekhawatiran yang sama, yaitu “kembalinya masyarakat menjadi penggarap di dalam kawasan”. Kekhawatiran ini memang sangat beralasan, karena kondisi sosial ekonomi masyarakat yang baru “turun gunung” ini, berada pada kondisi yang sulit, mereka tidak punya pekerjaan tetap.

Wisata alam / rekreasi merupakan salah satu cara untuk memanfaatkan kawasan hutan secara lestari dan dapat memberikan dampak manfaat ekonomi bagi masyarakat ( khususnya yang tinggal di sekitar hutan).

Pengembangan wisata alam yang melibatkan masyarakat di blok Lebak Ciherang (LBC) merupakan salah satu pendekatan kepada masyarakat dalam upaya pelestarian hutan yang dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Tahap awal pengembangan wisata alam LBC Tahun 2016 BBTNGGP memfasilitasi terbentuknya wadah yang dinamakan KTH LBC Lestari dan dalam perkembangannya, terdapat Bumdes Desa Cileungsi yang memiliki minat untuk turut serta dalam mengembangkan wisata alam di blok LBC tersebut

Menurut Iyan Mulyana, Wakil Ketua KTH LBC Lestari, sampai saat ini telah banyak pengunjung yang survey untuk camping, namun karena fasilitas kurang memadai, terutama MCK, mereka batal berkemah di Lebak Ciherang. Jadi untuk kedepan dia menghendaki pembangunan fasilitas standar untuk wisata alam

Warga Desa Cileungsi ini juga optimis dengan potensi wisata di LBC. ”Potensi wisata di sini cukup tinggi”, katanya. Hutan pinus yang terkombinadikan dengan hutan rasamala dan nyambung hutan alam serta pesawahan merupakan areal yang menarik untuk jalan santai (hiking). “Keserasian relief pada tebing Batu Tumpuk serta indahnya tarian air yang meliuk-liuk mengikuti alur relief tebing akan membuat pengunjung ketagihan untuk selalu datang ke sini”, katanya

Betapa tidak, ditengah situasi alami kita bisa menikmati keindahan alam dengan segala keunikannya. Udara bersih dan segar bisa dinikmati sambil minum kopi atau teh panas yang disediakan anggota KTH “LBC Lestari”.

Dalam pengembangan wisata di Blok LBC ini, masih ditemukan berbagai kendala, diantaranya Bumdes Cileungsi berminat untuk mengajukan ijin usaha jasa wisata alam namun kendalanya belum berbadan hukum, anggota KTH LBC Lestari pun apabila akan diarah sebagai pemegang IUPJWA masih perlu peningkatan kemampuan dalam pelayanan wisata, serta belum adanya legalitas KTH/BUMDes dalam beraktifitas di lokasi wisata LBC.

Dengan kendala-kendala yang ada tersebut saatnya untuk melakukan Optimalisasi pengembangan wisata alam LBC yang terintegrasi dengan wisata Desa Cileungsi, dengan memaksimalkan keterlibatan 3 (tiga) pilar (BBTNGGGP, Pemda dan Mitra/Swasta) untuk bersinergi agar pengembangan wisata alam LBC dapat optimal.
Pada bulan September 2019, Penyuluh BBTNGGP melakukan pembinaan kepada KTH dalam bentuk pelatihan budidaya lebah madu dengan menghadirkan pengusaha lebah madu sebagai narasumber dalam pelatihan tersebut. Kegiatan pelatihan ini terselenggara atas kerjasama BBTNGGP dengan PT. Tirta Investama-Plant Ciherang PT Tirta Investama Plant Ciherang dalam upaya pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan.

Hal ini dimaksudkan untuk mewujudkan optimalisasi pengembangan wisata LBC dengan menambah daya tarik wisata pendidikan di LBC dan diharapkan dapat meningkatakan pendapatan masyarakat Desa Cileungsi khususnya KTH LBC Lestari.

Mudah-mudahan Optimalisasi pengembangan wisata alam terintegrasi di lebak Ciherang dapat berjalan dengan lancar. Semoga.

Teks : Hidayat Santosa, Agus Mulyana dan Randi