SAAR, anak owa yang mencari jati diri
Pertengahan April dijenguklah SAAR, yang masih dirawat di IAR Indonesia-Ciapus, oleh ”bapak”-nya, Dr. Bambang Suprianto, Kepala Balai TNGHS. Terlihat SAAR masih sangat ”lucu dan menggemaskan” – meski ini bukan kata yang cukup tepat untuk menyebut SAAR ataupun satwaliar lainnya yang bukan pada tempatnya untuk dipelihara sebagai binatang piaraan di rumah seperti kucing dan anjing, karena ketika SAAR dewasa seiring perkembangan ukuran dan kekuatan tubuhnya serta gigi taringnya sudah tumbuh panjang, pastilah tidak akan ”lucu dan menggemaskan” lagi. SAAR masih sangat ”berhati-hati” namun ”penasaran” terhadap kehadiran orang yang baru dikenalnya. Meskipun telah dibawakan oleh-oleh buah anggur, buah kesukaannya selama dirawat di Ciapus, namun SAAR juga tidak mempan dengan ”sogokan” itu untuk di dekati oleh Pak Bambang. SAAR terlihat lincah bergelayut dan berayun di papan permainannya dan sesekali mendekap boneka berambutnya atau bermanja dalam dekapan perawatnya.
Sekitar pertengahan Juli lalu SAAR dibawa ke JGC untuk dicarikan ibu asuh yang sebenarnya, yaitu owa jawa betina dewasa yang akan merawat dan mengasuh serta mengajari SAAR ”berperilaku” sebagai owa jawa yang sebenarnya. Hal ini penting dilakukan pada saat dimana SAAR sudah cukup sehat dan untuk menghindari ikatan emosi yang terlalu kuat dengan perawatnya kalau SAAR tidak segera menemukan ibu asuh yang sebenarnya. Perkembangan perilaku dan hubungan SAAR dengan ibu asuhnya juga diamati setiap hari oleh perawat satwa di JGC. Setelah beberapa hari berjalan ternyata SAAR tidak mengalami kesulitan untuk mendapatkan ibu asuh di JGC, hingga saat ini SAAR masih menjalani proses rehabilitasi bersama ibu asuhnya hingga nanti saatnya pelepasliaran di hutan yang akan menjadi rumah yang sebenarnya bagi SAAR, ibu asuhnya dan owa jawa lainnya.
Tak lama berselang, satu owa jawa jantan dewasa juga datang menyusul ke JGC dari TNGHS setelah diselamatkan dari masyarakat yang memeliharanya.
Owa jawa adalah primata yang termasuk dalam kelompok kera [apes], atau istilah umumnya adalah gibbon. Mereka hidup di pohon-pohon hutan dan bergerak dengan cara berayun dari pohon satu ke pohon lainnya. Sangat berbeda dengan kelompok monyet [monkey] atau macaque yang bergerak dengan cara melompat dari pohon satu ke pohon lainnya, sehingga secara alamiah mudah difahami bahwa monyet sangat memerlukan keberadaan ekornya sebagai penjaga keseimbangan ketika melompat. Makanan utama Owa jawa adalah buah-buahan hutan, pucuk-pucuk daun dan terkadang makan serangga.
![Taman Nasional Gunung Gede Pangrango [National Park]](http://www.gedepangrango.org/wp-content/themes/tnggp/images/header_text.gif)





