Resort PTN Gn. Putri Atasi “mission Impossible”

Orang menganggap pengelolaan taman nasional sebagai “mission impossible”. Betapa tidak, satu instansi harus menyelesaikan permasalahan yang begitu kompleks dan rumit. Dari mulai tumbuhan, satwa, jasad renik, tanah, batuan, gunung api, perairan, iklim, sistem interaksi yang terjadi diantara mereka, obyek wisata, kondisi masyarakat, dan laju pembangunan di daerah sekitarnya, pemanfaatan sumberdaya alam, gangguan pada kawasan, kebakaran, dan lain-lain. Semua ini harus dipelajari dan dijaga dan diarahkan untuk pemanfaatan secara lesatari untuk peningkatan taraf hidup manusia.
Dalam rangka mem-possible-kan misi pengelolaan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Resort Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Gunung Putri menjalin kerjasama dengan berbagai pihak yang berkaitan dengan pengelolaan taman nasional di wilayahnya. Kegiatan ini dimaksudkan terutama untuk mengatasi masalah terbatasnya jumlah dan kewenangan personil resort.
sebagai contoh terkait urusan pendakian, setelah penutupan pendakian selama tiga bulan sejak Bulan Januari sampai Maret, di Bulan April, RPTN Gunung Putri dengan tiga personilnya, disibukkan dengan dibukanya wisata pendakian, disamping tugas utama lainnya seperti patroli, penyuluhan, pemantauan alam hayati dan habitatnya, serta kegiatan lain. Namun dengan sinergitas yang baik dengan para mitra, tantangan demi tantangan bisa diatasi.
Untuk mengatasi kekurangan personil dalam melayani pengunjung, baik para pendaki maupun pekemah, sejak tahun 1987, Resort PTN Gunung Putri menggandeng mitra yang tergabung dalam organisasi volunteer GPO (Gede Pangrango Operation). Kegiatan yang sering dilakukan bersama mereka adalah pemeriksaan bawaan pengunjung, operasi bersih, penyuluhan, pengawasan, dan pengamanan pengunjung terutama dalam hal evakuasi bila terjadi kecelakaan. Dengan makin berkembangnya wisata pendakian Gunung Gede, masyarakat setempatpun diupayakan turut berperan dan mendapat manfaat secara langsung.
Dalam upaya optimalisasi pemanfaatan Bumi Perkemahan Bobojong, telah dilakukan kerjasama dengan kelompok masyarakat Desa Sindang Jaya yang tergabung dalam Forum Ekowisata Alam Gunung Putri. Dukungan kegiatan yang dilakukan oleh Forum Ekowisata Alam Gunung Putri tersebut antara lain membantu melakukan pengelolaan wisata dan pemeliharaan Bumi Perkemahan Bobojong.
Penyebaran informasi konservasi kepada masyarakat sekitar kawasan TNGGP di RPTN Gunung Putri, juga dibantu oleh tokoh masyarakat, alim ulama, guru, aparat desa, dan lainnya. Metoda yang banyak dilakukan adalah anjangkarya dan anjangsana. Informasi yang sering mereka sampaikan adalah obyek wisata alam yang ada di wilayah kerja Resort PTN Gunung Putri dari mulai wisata pendakian dan Buper Bobojong, fungsi dan manfaat adanya Taman Nasional Gunung Gede Pangrango bagi kehidupan masyarakat sekitar kawasan.
Pemulihan ekosistem dilakukan bersama kelompok masyarakat yang tergabung pada KTH Puspa Lestari, Yayasan Uniliver, Green Radio, Gunma Safari Jepang, Vanaprasta, dan para pelajar dari sekolah di sekitarnya. Kawasan yang berhasil dipulihkan sejak tahun 2008 sampai saat ini seluas 146,4 Ha, semua lahan alih fungsi dari hutan produksi Perum Perhutani.
Kerjasama yang baik antara Polhut dan Masyarakat Mitra Polhut (MMP Gunung Putri), serta Volunteer GPO, menyebabkan pengamanan kawasan hutan (patroli kepolisian) berjalan lancar. Pemeliharaan ketertiban dan keamanan lingkungan dikerjasamakan dengan Babinkamtibmas serta Babinsa, antara lain Babinkamtibmas serta Babinsa Desa Sukatani, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur yang sering melaksanakan patroli bersama.
Sinergi antara kepolisian, TNI, Desa, dan Pihak RPTN Gunung Putri dalam menjaga keamanan wilayah, khususnya Desa Sukatani yang merupakan daerah wisata (pintu masuk pendakian dan bumi perkemahan) akan menciptakan situasi yang kondusif. Dengan demikian akan timbul rasa aman dan nyaman bagi para pengunjung.

Sumber: Asep Andriana – Polhut Pelaksana Lanjutan Balai Besar TNGGP