Rakor Perdana : One for All… All for One

Cibodas, 2 April 2018. Rapat Koordinasi (RAKOR) perdana dengan formasi struktural baru dipimpin langsung oleh Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP), Wahju Rudianto, S.Pi. M.Si., dihadiri seluruh pegawai BBTNGGP. Rakor kali ini agak berbeda dengan biasanya, karena seluruh Kepala Resort tampil memaparkan apa yang dimiliki resort, apa yang dikerjakan terhadap yang dimiliki, apa yang dicita-citakan (ingin apa dan punya apa), dan kendala dalam mencapai cita-cita tersebut.

RAKOR ini merupakan salah satu sarana evaluasi implementasi pengelolaan TNGGP berbasis resort (Resort Base Management – RBM) untuk mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi dan mencari soluasi penyelesaiannya untuk pengelolaan TNGGP yang lebih baik.

Beberapa point penting yang disampaikan Kepala Resort adalah:
1. Masih terbatasnya baik sumberdaya manusia, anggaran, maupun sarana dan prasarana pengelolaan TNGGP pada tingkat tapak.
2. Masih banyak potensi TNGGP yang dapat dikembangkan untuk pemanfaatan secara lestari dengan melibatkan masyarakat sekitar.
3. Mengingat sebagian kawasan TNGGP merupakan perluasan dari Hutan Produksi yang dikelola Perhutani maka masih terdapat penggarap dalam kawasan (eks PHBM) yang perlu segera ditangani dengan cara yang bijak karena apabila hal ini tidak segera ditangani maka akan menjadi preseden buruk untuk TNGGP.

Menanggapi paparan yang disampaikan Kepala Resort, Kepala Balai Besar TNGGP menyampaikan hal-hal sebagai berikut:
1. Mengajak kepada semua pegawai BBTNGGP, untuk tetap semangat dengan kondisi yang ada, menjaga motivasi, dan jangan menyerah dengan keadaan.
2. Meningkatkan kapasitas dan performa melalui pembelajaran dari luar, baik melalui internet ataupun media lainnya, jangan seperti katak dalam tempurung.
3. Seluruh pegawai BBTNGGP hendaknya merefleksikan diri terhadap tugas pokok dan fungsi yang tertuang dalam peraturan dan paling utama adalah melestarikan TNGGP.
4. Dalam peringatan ulang tahun TNGGP ke-38 yang jatuh pada tanggal 6 Maret 2018, ada 3 kata yang diusung yaitu kolaboratif, kreatif, dan inovatif, maka pengelolaan TNGGP hendaknya menerapkan 3 kata tersebut, namun tetap dalam koridor aturan yang berlaku.
5. Kuasai tipologi masyarakat di sekitar kawasan termasuk potensi dan permasalahannya untuk menentukan cara yang tepat dalam melakukan pendekatannya sehingga masyarakat dapat turut serta dalam melestarikan TNGGP.
6. Dengan bimbingan Kepala Seksi dan Kepala Bidang, Kepala Resort menyusun strategi penyelesaian masalah di resort masing-masing serta berpegang pada prinsip menyelesaikan masalah bukan mencari masalah.
7. Kepala Resort hendaknya terus berupaya untuk mengetahui lebih detail tentang isi wilayah kerjanya termasuk keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya, sehingga diketahui ukuran dan tren populasi suatu spesies untuk menentukan intervensinya.
8. Bersama penyuluh, masing-masing resort menyusun skema pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan untuk meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat.
9. Untuk operasional resort dalam menyelesaikan permasalahan dan mewujudkan cita-citanya, Kepala Resort diminta untuk mengusulkan:
a. Usulan kegiatan tahun 2019 dengan biaya Rp. 100.000.000 (seratus juta rupiah)
b. Kebutuhan minimum sumberdaya manusia.
c. Kebuuhan minimum sarana dan prasarana.

Sebagai penutup RAKOR, Kepala Balai Besar TNGGP berpesan bahwa dalam bekerja kita harus punya prinsip “One for All….All for One” yang berarti bahwa kita semua merupakan satu bagian dari Balai Besar TNGGP, apa yang dikerjakan seorang pegawai adalah refleksi dari Balai Besar TNGGP sehingga kita harus bekerja bersama dalam memajukan TNGGP.

Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango