Rahayu, Sri. 2010. Sebaran Dan Keragaman Genetik Populasi Hoya Multiflora Blume (asclepiadaceae) Di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Dan Taman Wisata Alam Sukamantri Gunung Salak. Bogor; Sekolah Pascasarjana Insitut Pertanian Bogor

Peneliti: Sri Rahayu

Topik : Species

Tahun : 2010

Abstrak

Hoya multiflora blume (asclepadaceae) merupakan salah satu tumbuhan epifit yang penting secara ekonomi karena telah diperdagangkan secara internasional sebagai tanaman hias dan digunakan secara tradisional sebagai obat sakit perut dan artritis. Sebagai epifit, tumbuhan ini  mengalami ancaman gangguan habitat seiring dengan semakin tingginya laju deforetasi. Penelitian mengenai sebaran terkait dengan keragaman habitat dan genetik di dalam populasi maupun antar populasi perlu dilakukan. Informasi yang di peroleh dapat di pergunakan dalam tindakan konservasi baik secara in-situ maupun ex-situ,serta bermanfaat dalam usaha seleksi dan pemuliaan sebagai tanaman hias pot.
Penelitian sebaran dan keragaman habitat populasi  H. multiflora telah dilakukan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP), dan Sukamantri Gunung Salak, Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Jawa Barat,dari bulan juni 2008 hingga nopember 2009. Penelitian keragaman morfologi dilakukan terhadap tanaman koleksi asal Stasiun Penelitian Bodogol TNGP dan TWA Sukamantri G. Salak yang di pelihara di bawah naungan paranet 65% pada media campuran cacahan batang pakis, kokopit dan arang (1:1:1),di Darmaga. Analisis keragaman AFLP dilakukan di laboratorium Biorin, Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi IPB, Darmaga.
Sebaran populasi H. multiflora di TNGP tidak merata pada semua lokasi, yaitu di Statiun Penelitian Bodogol pada evelasi 700-900 m dpl, dan tidak dijumpai pada evalasi di atas 900 m dpl. Pada evalasi 1000 m dpl di Situ Gunung di jumpai dua individu, sedangkan pada evalasi lebih dari 1000 m dpl yaitu di Cibodas dan Gunung Putri tidak di jumpai jenis ini. Populasi juga masih di jumpai di TWA Sukamantri yang menurut bukti herbarium tahun 1836 pernh di temukan di lokasi tersebut. Selain di pengaruhi ketinggian tempat, distibusi H. multiflora di pengaruhi oleh cara pemancaran bijinya melalui angin dan habitat tempat tumbuh. Sebagai tumbuhan dengan tipe biji parasut, pemencaran melalui angin ini sangat terpengaruh oleh arah, kecepatan dan ketinggian angin, yang pada lokasi tertentu dapat berbelok dan berubah jika menemui penghalang berupa pembukitan yang terjal. Pemancaran biji H.multiflora dalam jarak dekat juga di pengaruhi pula oleh model penyebaran semut, karena semut termasuk agen pemancar yang membawa biji H. multiflora ke sarangnya. Berdasarkan penghitungan Indeks Morisita, H.multiflora memiliki tipe persebaran mengelompok (clumped). Tipe persebaran mengelompok di duga akibat pengaruh semut.
Keberadaan semut juga berpengaruh dalam pemilihan frofit (pohon tumpangan),meskipun tidak semua h. multiflora tumbuh di sarang semut. pemilihan forofit didasarkan pada ketersediaan tempat berhumus yang menyediakan tempat tumbuh bagi tumbuhan ini. Terdapat empat cara penempelan h. multiflora pada forofit,yaitu pada sarang semut, pada lekukan kulit pohon yang kasar (caythea contaminans, pandanus furcatus dan pinus merkusii), pelepah (c contanminans, p.furcatus dan daemonorops rubra ) serta pada perakaran asplenium spp… berdasarkan zonasi tumbuhan epifit pada forofit,H. multiflora terletak pada zona b(batang di atas satu meter) dan c(pangkal percabangan).
Habitat tempat tumbuh H. multiflora berupa hutan alam mau pun hutan tanaman dengan kerapatan jarang hingga rapat (75-425/Ha),tutupan tajuk jarang hingga rapat (30-90%) dan intensitas cahaya rendah hingga tinggi (30-80%). H. multiflora dapat tumbuh pada pohon dari fase sapihan,sapling maupun pohon dan tidak memiliki prefensi khusus terhadap jenis forofil.kerapatan pohon berpengaruh terhadap jumla H. multiflora,semakin banyak pohon cenderung semakin banyak individu H. multiflora kerapatan pohon berkaitan dengan tutupan tajuk dan intensitas cahaya matahari yang diteima. Pada kerapatan pohon yang rendah (di bawah 100/Ha) yang mempunyai tutupan tajuk 30-40% dengan intensitas cahaya matahari 60-80%,suhu udara mikro 31-32’C dan kelembaban udara mikro 70-76 %, H. multiflora tumbuh lebih lambat yang di tunjukan dengan ruas batang pendek, ukuran daun dan bunga kecil,daun berwarna lebih kuning, ukuran batang lebih kecil dan pendek serta tidak bercabang. Kondisi ini dapat menghambat proses reproduksi  dan berimplikasi pada rendahnya aliran geneti melalui penukaran polen. Pada kerapatan pohon yang tinggi (>400/Ha) yang mempunai tutupan tajuk 70-90% dan intensitas cahaya matahari 30-40 %,suhu udara mikro 25-26’C dan kelembaban udara mikro 88-98%, H multiflora tumbuh subur yang di tandai dengan banyaknya  cabang yang tumbuh hingga mencapai lebih dari 50 cabanng, ukuran batang besar dan panjang, daun lebar daun hijau serta ukuran bunga besar dan jumlah bunga banyak. Kondisi ini menghasilkan suasana optimum dengan kehadiran sarang semut maupun kadaka yang berperan sebagai substrat lebih banyak dan menjamin tumbuhan dapat berreproduksi secara normal.
Berdasarkan analisis keragaman karakter morfologi dan DNA-AFLP, 3 sub populasi Bodogol dianggap sebagai 2 populasi yang berbeda, yaitu sub populasi 1 dan 2 merupakan populasi yang sama, sedangkan sub populasi 3 merupakan populasi berbeda. Sub populasi 4, 5 dan 6 di Sukamantri masing-masing merupakan populasi yang berbeda. Analisis keragaman morfologi maupun AFLP menunjukan tingkat keragaman yang rendah di dalam populasi dan menunjukan nilai keragaman antar populasi sedang pada karakter morfologi dan tinggi pada marka AFLP. Kondisi ini menunjukan tingkat kepentingan yang cukup untuk dilakukanya konservasi dengan memperhatikan keterwakilan sampel dari populasi yang berbeda. Keragaman morfologi tidak selalu sama dengan keragaman DNA (AFLP) karena keragaman morfologi merupakan ekspresi dari gen yang berinteraksi dengan lingkungan.
Strategi konsevasi in-situ bagi tumbuhan ini memerlukan beragam tipe vegetasi pada evelasi di bawah 1000 m dpl dengan berbagai tingkat kerapatan pohon, sedangkan untuk konsevasi ex-situ di perlukan sampel berdasarkan keterwakilan populasi dan pemeliharaan dengan kondisi naungan antara 30-80%.