Pertama Di Dunia Terlahir Sesar

Acungan jempol, patut kita sampaikan atas dedikasi putra-putri NKRI yang berhasil menyelamatkan bayi dan ibu owa jawa lewat “operasi sesar”, di JGC Bodogol pada Bulan April 2018, demikian juga dengan kesungguhan para perawat selanjutnya, terutama pada masa kritis. Pada masa kritis ini, sekitar tujuh hari paska kelahiran, diperlukan perawatan intensif terhadap bayi, setiap dua jam harus diberi minum susu. Demikian juga terhadap induknya yang perlu perhatian ekstra. Bisa dibayangkan tiga orang perawat satwa di Javan Gibbon Center (JGC) bergiliran menjaga dan merawat ibu dan sang bayi, pagi hingga malam di tengah hutan yang sepi. Tapi untungnya, … bayi ini mau disusui oleh laki-laki. Itulah si Billy Putri yang KENA DI HATI (keanekaragaman dunia hayati) kali ini.

Totalitas Ditangan Putra Putri NKRI

Ditengah malam yang dingin, di dalam hutan yang sepi, putra-putri NKRI berjuang membantu seekor owa jawa yang tidak bisa melahirkan secara normal. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya pada 23.30 WIB tanggal 28 April 2018 lahirlah sang bayi dengan selamat lewat operasi sesar. Itulah si “Billy Putri” anak pasangan Bu Jolly dan Pak Boby.

Setelah berhasil membantu kelahiran sang bayi, “crew” masih berharap-harap cemas menghadapi “masa kritis” yang harus dilewati. Tujuh hari sudah, perjuangan dimasa kritispun berhasil dengan baik, kondisi sang bayi sehat dan normal. Sebulan berlalu penampakan owa dewasa sudah mulai muncul, rambut di badan yang semula kemerah-merahan pelan-pelan berubah menjadi abu-abu kehitaman. Meskipun belum stabil, dia mulai bisa mengangkat tangan, dan sudah memperlihatkan keinginan untuk berdiri. Tiga bulan ditinggal, si dede Billy Putri sudah mulai bisa berdiri dan pegangan pada batang kayu.

Pada hari ulangtahunnya yang pertama, si Billy sudah lebih pas disebut “anak owa” dari pada disebut bayi. Sang anak kelihatan sehat, aktif bergerak dan berayun di kandang barunya yang lebih luas (kandang individu seluas dua m2). Dia lincah meloncat dari ranting ke ranting dan pandai berayun dari satu ayunan ke ayunan lain. Dengan sabar para perawat satwa menjaga, merawat, dan memantau perkembangan “anak satwa terancam punah” ini, dan sudah mulai melatih untuk naik pohon di luar kandang.

Pada umur satu setengah tahun, penampakan satwa langka “ikonik Jawa Barat” ini sudah seperti owa “beneran”, badannya berwarna abu-abu dengan muka hitam dan dan rambut sekitar muka agak terang. Pergerakan mulai memperlihatkan sifat aslinya lincah dan liar, loncat kesana-kemari di kandang introduksi yang cukup luas (ukuran 55 m2). Yang semula senang dengan kehadiran orang, terutama para pengasuhnya, sekarang sudah banyak menghindar.

Kembalinya sifat liar satwa “endemik Jawa bagian barat” ini merupakan kelanjutan dari keberhasilan perawatan satwa untuk dilepasliarkan. Posisi kandang sudah dijauhkan dari kehadiran manusia, lebih masuk ke dalam hutan, komposisi makanan sudah mulai diperbanyak tumbuhan yang berasal dari hutan.

Dengan sifatnya yang semakin liar, serta hadirnya si Mowgly (anak owa berkelamin jantan seumuran Billy) di JGC, menjadi teman bermain di usianya saat ini dan siapa tahu kedepannya mereka bisa menjadi pasangan hidup. “Mudah-mudahan saja kelak dikemudian hari, si Billy Putri dan si Mowgly bisa berpasangan dan melanjutkan kehidupannya di alam liar”, kata Radi, pengasuh si Billy.

Menurut Agung Gunawan, Kepala Resort PTN Bodogol, keberhasilan upaya penyelamatan satwa liar yang satu ini sungguh membanggakan, karena totalitas dikerjakan oleh anak bangsa, tanpa bantuan “expert asing” .

Kelanjutan Pasangan Boby dan Jolly

Sang Billy Putri merupakan anak kedua pasangan Boby dan Jolly. Kakanya juga dilahirkan melalui operasi sesar, namun karena bayi teramat lemah sehingga tidak bisa diselamatkan. Menurut drh. Pristiani Nurantika, (drh yang menangani operasi sesar dan penanggungjawab kesehatan owa di JGC), proses kelahiran sesar pada owa rehabilitan merupakan dampak dari pemeliharaan manusia. Sedari kecil Jolly telah direbut dari pelukan ibunya dan diasuh oleh keluarga manusia, di tempat yang bukan seharusnya Jolly berada. Jolly melewati masa-masa dimana dia bisa belajar banyak hal dari kedua orangtuanya, termasuk bagaimana cara melahirkan dan mengasuh anaknya kelak.

Melewati dua kali sesar dengan jarak hanya 1 tahun, maka ibu Jolly dan bapak Boby harus bersabar menunggu kesembuhan luka paska operasi hingga keduanya dapat dipertemukan kembali. Saat ini, tiada lagi sekat diantara mereka dan kemesraan keduanya kerap kali terlihat hingga pada waktunya nanti mereka dapat menikmati hidup di alam liar, rumah mereka yang sebenarnya.

Teks: Hidayat Santosa, Sri Rejeki Mulyani, dan Ai Nani Rohaeni
Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango