Pendapatan Masyarakat Situgunung Meningkat 30 M Per Tahun

Sukabumi, 27 Juni 2020. Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL), Bambang Supriyanto beserta tim tiba di Situgunung sekitar pukul 09.00 WIB. Rombongan disambut oleh Wasja mewakili Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) beserta jajarannya.

Acara dibuka dengan penjelasan singkat tentang Situgunung dilanjut penjelasan Standard Operation Procedure (SOP) pelayanan pengunjung di jembatan gantung melalui video yang dipandu oleh Wita Puspita Ningrum, staf dari Seksi Pemanfaatan dan Pelayanan BBTNGGP.

Sambutan disampaikan oleh Wasja, Kepala Bagian Tata Usaha. Dalam sambutannya menyampaikan informasi singkat tentang awal berdirinya Tourist Information Center (TIC) Situgunung serta potensi wisata yang ada di Resort Situgunung. Selain itu dengan adanya pengembangan obyek wisata di Situgunung pendapatan masyarakat sekitar Situgunung meningkat, mencapai 30 milyar/ tahun: sekitar 21 milyar/ tahun dari pelaku usaha di area wisata, mulai dari ojek wisata, warung wisata, perahu wisata, interpereter/ guide, sampai angkutan lokal; dan sekitar 9 milyar/ tahun dari villa/ penginapan. Tidak lupa juga Wasja menjelaskan mitra kerja pengusaha wisata P.T. Fontis Aquam Vivam sebagai pengelola jembatan gantung (suspension bridge) yang memegang Ijin Usaha Pemanfaatan Jasa Wisata Alam (IUPJWA) dan Ijin Usaha Pemanfaatan Sarana Wisata Alam (IUPSWA). Rencana ke depan akan dibangun jembatan gantung lainnya serta pengembangan potensi wisata baru di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).

Sebelum meninjau lokasi wisata Situgunung, Bambang Supriyanto menyampaikan maksud kunjungan kerjanya, yaitu untuk meninjau langsung implementasi mitra pengelola wisata di TNGGP khususnya di kawasan wisata Situgunung. Masyarakat yang terlibat dalam kegiatan wisata ini harus mendapat pelatihan dan pendampingan mengingat berada pada kawasan konservasi pesan Bambang dalam sambutannya.

Setelah acara pembukaan, Bambang Supriyanto beserta tim bergerak ke Danau Situgunung untuk memastikan kondisi sarana wisata di danau berupa perahu dan rakit bambu masih baik dan aman digunakan pengunjung. Dilanjutkan ke obyek wisata lainnya, jembatan gantung, Situgunung Glamour Camping (Glamping), dan berdiskusi ringan di Resto Glamping sambil menikmati coffe break.

Dalam diskusi ringan ini banyak dibahas tentang keterkaitan pengembangan wisata alam dengan mitra termasuk di dalamnya masyarakat sekitar kawasan konservasi. Dalam kegiatan wisata alam tentu tidak akan terlepas adanya keterlibatan masyarakat, seperti ojek wisata, warung wisata, perahu wisata, interpereter/ guide, angkutan lokal, villa/ penginapan sampai pengelola wisata yang mempunyai IUPJWA maupun IUPSWA. Wisata alam berkembang, peningkatan pendapatan masyarakat, dan kelestarian kawasan konservasi harus tetap terjaga.

Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango