Taman Nasional Gunung Gede Pangrango [National Park]

The Oldest Tropical Mountain Rain Forest of Java

Depan » Artikel » Pembinaan Pamswakarsa di Desa Kebon Peteuy


Pembinaan Pamswakarsa di Desa Kebon Peteuy

7.10.11Hits 3.573 views|ArtikelCetak

Oleh: Aden Mahyar, SH

Sejarah pembentukan Pam Swakarsa

Sejarah PAM Swakarsa di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) khususnya di Seksi Konservasi Wilayah III Cianjur desa Kebon Peteuy tidak langsung dibentuk dari sumber anggaran Negara yaitu dari anggaran dana reboisasi tahun anggaran 2003 melainkan melalui proses panjang yang dirintis pihak pengelola. Pembentukan Pamswakarsa pada tahun itu hanyalah merupakan pengakuan atau pengukuhan  dari pihak pengelola terhadap kelompok masyarakat yang peduli akan kegiatan pelestarian kawasan hutan TNGGP. Dalam meningkatkan kegiatan pengamanan hutan guna pelestarian kawasan pihak pengelola melakukan berbagai upaya, baik Pre-emtif, prefentif maupun represif. Kegiatan Pre-emtif yang dilakukan di TNGGP merupakan suatu upaya penyadaran kepada masyarakat untuk menciptakan  situasi yang kondusif di sekitar kawasan hutan, telah dilakukan berbagai bentuk kegiatan seperti Rapat Koordinasi Pamhut, Anjangsana, Penyuluhan, sosialisasi Undang-undang, pembentukan Pam Swakarsa, School Visit, Visit to School, Kemah Konservasi, pembentukan kader Konservasi, pembinaan daerah penyangga, pemberdayaan masyarakat dan lain-lain yang bersifat penyadaran.

Kehadiran kelompok masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap pentingnya kegiatan pelestarian kawasan timbul menurut penulis memang sebagai akibat dari upaya-upaya penyadaran yang dilakukan secara terus menerus. Pembentukan Pamswakarsa desa Kebon Peteuy anggotanya diambil dari masyarakat, tokoh masyarakat, perangkat desa yang dahulunya sering membantu TNGGP baik pada kegiatan pengamanan ( patroli gabungan ) maupun kegiatan lainya dalam rangka pengamanan hutan untuk pelestarian kawasan hutan TNGGP.

Personil yang dibentuk pada waktu itu berjumlah 10 orang dengan komposisi tersebut diatas. Jumlah itu berkembang sampai sekarang ini sebanyak 20 orang dengan penambahan komposisi yaitu tokoh kepemudaan, partisipasi dari Babinkantibmas dan Babinsa setempat yang membantu dalam membina keberadaan Pamswakarsa.

Kiprah

Pam swakarsa desa kebon peteuy menurut penulis bukan “perkumpulan masyarakat yang hanya ada diwaktu ada kegiatan pembinaan yang menggunakan penganggaran dari pemerintah” melainkan mereka tetap berkiprah atau memberikan peran terhadap upaya pengamanan. Bentuk konkrit dari kegiatan mereka terhadap kegiatan pengamanan yaitu mereka minimal satu bulan satu kali mengadakan kegiatan patroli mandiri yaitu kegiatan patroli yang diprakarsai oleh mereka berdasarkan rencana kerja mereka tanpa ada bantuan penganggaran dari pihak TNGGP. Kegiatan lain yang dilakukan mereka selain melakukan pengamanan didalam kawasan (patroli) juga melakukan kegiatan penyebarluasan informasi TNGGP dalam acara minggon untuk anggota pam dari perangkat desa, pengajian bagi anggota pam yang berasal dari tokoh masyarakat, memberikan informasi kepada petugas tentang adanya, sedang dan kemungkinan terjadi tindak pidana bidang kehutanan, juga sekali kali mereka ikut serta dengan petugas melaksanakan piket dikantor resort.

Keberadaan Pamswakarsa desa Kebon Peteuy sangat membantu upaya pengamanan khususnya di Resort Gedeh, beberapa kali dari informasi yang diberikan kepada petugas dapat menggagalkan kegiatan pelanggaran dibidang kehutanan. Melihat berbagai kegiatan yang telah dilakukan oleh personil Pamswakarsa maka wajar bila dari pihak pengelola memberikan perhatian dan berusaha untuk memfasilitasi untuk kelancaran kegiatan mereka sebagai wujud dari pengakukan dan juga penghargaan terhadap sepak terjang mereka terhadap upaya pelestarian kawasan TNGGP.

Pola pembinaan yang dilaksanakan

Pasal 37 UU No. 5 Tahun 1990 ayat :

1) Peran serta rakyat dalam konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya diarahkan dan digerakkan oleh Pemerintah melalui berbagai kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna.

2) Dalam mengembangkan peran serta rakyat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Pemerintah menumbuhkan dan meningkatkan sadar konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya di kalangan rakyat melalui pendidikan dan penyuluhan.

Melihat apa yang termuat dalam pasal tersebut jelaslah bahwa walaupun kegiatan Pamswakarsa merupakan kegiatan yang timbul dari masyarakat secara sukarela namun untuk meningkatkan kesadaran dan menambah pengetahuan maupun keterampilan di perlukan suatu kegiatan pembinaan personil pam swakarsa yang dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini pihak TNGGP sebagai pengelola kawasan.

Pola pembinaan yang dilakukan di seksi konservasi wilayah III khususnya di Resort Gedeh dilakukan baik secara formal maupun informal.

Kegiatan yang dilaksanakan secara informal:

Biasanya dilakukan oleh petugas atau personil resort dalam rangka kegiatan-kegiatan yang sifatnya prefentif seperti mengunjungi anggota PAM kerumah rumah minimal satu bulan satu kali. Bentuk lain dari kegiatan pembinaan secara informal bisa saja dilakukan oleh petugas dalam rangka kegiatan patroli yang direncanakan secara bersama oleh petugas juga pada kegiatan diskusi ringan pada setiap kesempatan

Pembinaan secara formal :

Bentuk kegiatan ini biasanya dilaksanakan oleh unsur dari petugas dari seksi wilayah dan resort, baik pada pertemuan pertemuan yang di selenggarakan pihak muspika ( desa , kecamatan setempat ) ataupun kegiatan yang dilaksanakan oleh pihak pengelola,

Harapan kedepan

Dengan adanya komunitas pam swakarsa kedepan diharapkan adanya suatu tanggung jawab bersama antara petugas dan masyarakat karena petugas merupakan perwakilan masyarakat yang mempunyai kewajiban memegang amanah dari masyarakat untuk menjaga kelestrian hutan agar hutan dapat berperan sebagai sumber kehidupan bagi  masyarakat sekitar kawasan hutan khususnya umumnya  untuk kelangsungan kehidupan umat manusia.

[ Teks © TNGGP | 102011 | red - IT ]