Peluang Investasi Pemanfaatan Air Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Peneliti: Sundarmalik

Topik : Jasling

Tahun : 2004

No. Pustaka:

Abstrak
Taman Nasional merupakan salah satu dari hutan konservasi yang memiliki manfaat beragam (multibenefit), yaitu manfaat tanginable dan intanginable. Fungsi hutan (jasa lingkungan) di antaranya adalah air. Air sebagai  barang yang bersipat umum (public goods) menyebabkan kuantifikasi nilainya lebih rendah dari nilai sebenarnya (underestimated). Akibatnya  investasi dalam pemanfaatan air masih rendah. Karena itu penelitian tentang peluang investasi pemanfaatan air sangat di perlukan. Tujuan penelitian ini adalah melihat potensi air TNGP dan mendeskripsikan peluang investasi pemanfaatan air di kawasan TNGP. Diharapkan hasil ini dapat dijadikan masukan bagi pengelola dalam memberikan ijin investasi pemanfaatan air di TNGP. Lokasi penelitian di seksi koservasi wilayah (SKW) III Cianjur dengan obyek penelitian adalah aktivitas kegiatan ekonomi masyarakat yang memanfaatkan air. Pemilihan contoh dengan purposive sampling denga pertimbangan keterwakilan sampel dari populasi yang ada (representative). Wawancara dilakukan dengan perusahaan dan masyarakt petani. Data dianalisa secara deskriptif dan menggunakan analisa ekonomi input dan output produksi. Potensi air TNGP berdasarkan hasil penelitian studiotama Maps Konsultan (2005) dengan mengunakan metode Thornwaite and Mather (1957) berdasarkan pendekatan selisih curah hujan dan evapotranspirasi menghasilkan potensi air sebesar 548.935.500 m3/tahun,bila di lihat distribusi berdasarkan wilayah administrasi sukabumi (233.715.378,006 m3/thn), Bogor (178.731.899,997 m3/thn), dan Cianjur (136.488.221,997 m3/thn). Sementara penggunaan air untuk pertanian, rumahtangga dan industri secara total pada tiga wilayah hanya sebesar 13.241.378,15 m3/thn. Besarnya selisih air menunjukan peluang pemanfaatan air alternatif penggunaan aktivitas ekonomi. Untuk pemakaian air pada 3 SKW menunjukan jumlah pemakai air dari TNGP sebanyak              32 unit (2005) dengan jumlah penggunaan terbanyak di SKW III cianjur 21 unit (65%) dan terkecil di SKW I Sukabumi (13%), sedangkan tujuan penggunaan untuk tujuan komersil (71%) dan non komersil / rumah tangga (29%). Dari data ini menunjukan  bahwa manfaat air TNGP 71% merupakan aktifitas produksi. Dengan melihat pada kondisi air di sebut berupa potensi, sebaran potensi dan aktifitas sosial ekonomi masyarakat maka secara umumu peluang investasi pemanfaatan air TNGP dapat dibedakan menjadi 2 yaitu pemanfaatan air sebagai produk (air minum dalam kemasan/AMDK dan penyedia air untuk konsumsi rumah tangga/PDAM) dan pemanfaatan air sebagai input produksi (perkebunan bunga, sayur, peternakan, dan perkebunan buah). Pemanfaatan air untuk AMDK menunjukan peluang yang besar. Dari sisi permintaan menunjukan terjadi peningkatan yang signifikan. Dari tahun 2001 s/d 2002 permintaan meningkat sekitar 37% (5,2 – 7,1 milyar liter). Di tahun yang akan datang menurut prediksi Asosiasi Produsen AMDK Indonesia (Aspadin) akan terjadi peningkatan konsumsi penggunaan AMDK. Peningkatan permintaan ini di dorong oleh konsumsi air perkapita pertahun yang masih rendah (34 liter). Untuk PDAM, permasalahan yang ada adalah kekurangan debit air pada musim kemarau, sedangkan pada musim hujan terjadi limpahan air yang besar. Investasi yang akan dilakukan oleh PDAM cianjur adalah membuat air minum siap minum.                         Kualitas air (Cipelang dan cikundul, 1995) menunjukan kondisi tercemar oleh bakteri Coliform, E. Coli, Timbal, Klorida, Besi, Mangan, Kromium Dan Amonium di mana kandungnya melebihi baku mutu buku yang mutu yang di tetapkan oleh Depkes. Saat ini pemanfaatan air di kawasan TNGP telah dilakukan oleh masyarakat dan perusahaan dengan membuat memorandum of Understanding (MOU) antara balai TNGP dan pengguna air. Namun, pembuatan MOU belum di dasari pada kerangka kebijakan yang jelas, mengingat belum ada aspek legalitas pemanfaatan air dari dalam kawasan konservasi baik di lingkup departemen kehutanan, Detjen PHKA, maupun pemerintah daerah. Oleh karena itu forfela (Forum Peduli Air TNGP) telah di bentuk sebagai wadah para pengguna air dan menjembatani antara pengguna air dengan balai TNGP. Peluang investasi didasari pada kriteria investasi tiap aktivitas, yaitu pendapat, penyerapan tenaga kerja, ketersediaan bahan baku, dan kelembagaan. Hasil analisis menunjukan bahwa secara fisik sumber daya air (kualitas dan kuantitas) untuk AMDK tidak sepenuhnya feasible (layak), karena beberapa titik permukaan pada air permukaan pendapat zat-zat terlarut yang melebihi ambang batas. Sedangkan di gunung putri terdapat permasalahan pembagian air untuk perkebunan sayuran di musim kemarau. Untuk kriteria sosial, permasalahan investasi pemanfaatan air dapat timbul dari usaha AMDK dan peternakan, yaitu perebutan air dengan pengguna lain. Oleh karena itu, perlu di lakukan pengaturan air secara adil, dan secara kelembagaan pengaturan ini dilakukan oleh pihak balai TNGP. Untuk kriteria ekonomi, secara umum aktivitas investasi ada yang layak di laksanakan. Untuk perkebunan sayur dan bunga dari analisis infut produksi menggunakan input tradeable yang lebih besar dari domestik input, dan ini sangat riskan dengan adanya perubahan harga input produksi tradeable, terutama perkebunan bunga yang menggunakan input produksi benih bunga import. Adanya peningkatan harga bunga dan perubahan kurs mata uang akan merubah biaya produksi. Untuk perkebunan sayur akan layak bial luas areal yang besar ( > dari 1 patok ). Dari 4 kriteria yang di gunakan, maka investasi pemanfaatan air secara umum layak untuk di laksanakan. Namun demikian, investasi pemanfaatan air TNGP baik dalam bentuk air bagai produk dan air sebagai input produksi memerlukan adanya kejelasan kelembagaan.