Oktalina, Susi. 2010. Tingkat Kesesuaian Dan Preferensi Habitat Leptophryne Cruentata, Tschudi 1828 Di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Bogor; Sekolah Pasca Sarjana – Institut Pertanian Bogor.

Peneliti: Susi Oktalina

Topik : Satwa

Tahun : 2010

No. Pustaka:

Abstrak
Kodok merah Leptophryne cruentata termasuk jenis kodok yang jarang ditemui karena luas penyebarannya yang sedikit. Kodok ini termasuk dalam kategori critically endangered species menurut IUCN (International Union Conservation Natural). Saat ini lokasi penyebaran yang diketahui adalah di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk menduga preferensi habitat kodok merah dan tingkat kesesuaian habitat kodok merah di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan menduga luasan habitat kodok merah yang masih sesuai sebagai bahan pertimbangan kebijakan dalam pengelolaan kawasan khususnya untuk pengelolaan dan pelestarian populasi kodok merah di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Pengumpulan data dilaksanakan di Wilayah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) pada bulan April 2008 selama dua minggu. Lokasi penelitian, meliputi Rawa Denok, Rawa gayonggong, Curug Cibeureum, Lebak saat ini dan Bodogol. Keberadaan kodok merah diketahui melalui metode pengamatan langsung untuk mengumpulkan data titik koordinat perjumpaan kodok merah.
Data mikrohabitat kodok merah yang digunakan untuk menduga  faktor preferensi yang dominan terdiri dari ketinggian tempat, substrat, ada tidaknya lubang, jarak dari sumber air, lebar sungai, kecepatan arus, suhu udara, suhu air. Kelembaban, jarak dari jalur menusia, jarak ditemukannya kodok merah dari permukaan tanah. Data yang digunakan untuk menduga kesesuaian habitat adalah ketinggian tempat, kelerengan, jarak dari sumber air, suhu dan jarak dari jalur manusia.
Hasil analisis faktor digunakan untuk menduga faktor mikrohabitat yang paling dominan ada/tidaknya kodok merah. Jarak dari sumber air, jarak dari jalur manusia dan ketinggian tempat adalah faktor dominan yang menentukan ditemukannya kodok merah. Uji beda Kruskall Wallis dilanjutkan untuk melihat uji beda nyata antara jarak dari sumber air dan jarak dari jalur manusia. Hasil uji Kruskall Wallis menyatakan bahwa jarak dari jalur manusia lebih berbeda nyata dibandingkan dengan jarak dari sumber air.
Tingkat kesesuaian habitat menggunakan analisis PCA (Principle Component Analysis). Penentuan nilai kelas dalam setiap komponen habitat didasarkan pada asumsi bahwa spesies tertentu akan memilih tempat yang paling memenuhi kebutuhan hidupnya. Nilai kelas untuk setiap komponen habitat digolongkan ke dalam 3 kelas yaitu nilai kelas 1,2 dan 3. Model kesesuaian habitat yang terbentuk yaitu:
Y={(2,222,xFK1) + (2,222xFK2) + (2,222xFK3) + (1,413xFK4) + (1,060x FK5)}
Dengan keterangan Y = Model Frekuensi pertemuan kodok merah di TNGGP, FK1= Faktor ketinggian tempat, FK2= Faktor kerapatan tajuk, FK3= faktor kemiringan lereng, FK4= Faktor suhu, FK5= Faktor jarak dari sungai.
Hasil ekstrapolasi model di kawasan Gunung Gede Pangrango menunjukan bahwa luas habitat untuk tingkat kesesuaian tinggi, sedang dan rendah di Teman Nasional Gunung Gede Pangrango diduga sebesar 653,625 ha, 7.686,023 ha, dan 16.077,847 ha.