Menguak Populasi “sang Burung Garuda” Di Kawasan Hutan Geger Bentang Resort PTN Cibodas, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Elang Jawa (Nisaetus bartelsi Stresemann, 1924) adalah spesies burung endemik di Pulau Jawa (Birdlife International 2012) dengan status dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999. Berdasarkan Buku Data Merah (IUCN Redlist), elang Jawa dikategorikan ke dalam satwa “terancam punah/ genting” (Endangered Species), dengan tren populasi menurun (decreasing) serta termasuk dalam daftar Appendik II Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), yang mengatur larangan seluruh perdagangan internasional tanpa adanya ijin khusus (Permenhut No. 58 Tahun 2013).

Sebagai pemangsa, status ekologi elang Jawa berada di puncak rantai makanan (top predator) sehingga keberadaannya dapat menjadi indikator kualitas lingkungan yang baik. Spesies ini juga masuk dalam prioritas konservasi yang tercantum dalam Permenhut No. 57 Tahun 2008 dan termasuk dalam 14 spesies prioritas utama yang tercantum dalam Keputusan Dirjen PHKA No. 132 Tahun 2011 dan No. 109 Tahun 2012. Selain itu, elang Jawa dianggap identik dengan “Burung Garuda” yang menjadi lambang negara Republik Indonesia sehingga pemerintah menetapkannya sebagai satwa nasional dengan sebutan Satwa Langka (Kepres No. 4/1993 dalam Setio 2013). Sedangkan SK yang ditetapkan terakhir melalui SK Direktorat Jenderal KSDAE No. 180/IV-KKH/2015 tentang Penetapan 25 Satwa Terancam Punah Prioritas. Saat ini kondisinya elang Jawa berisiko mengalami kepunahan karena berkurangnya habitat akibat berubah peruntukan lahan dan masih maraknya perburuan untuk perdagangan satwa. Jenis ini banyak diminati dan ditangkap dari alam untuk dipelihara karena keunikan dan kelangkaannya (Sozer et al., 1999).

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dengan kondisi hutannya yang relatif masih baik merupakan salah satu habitat alami bagi elang Jawa. Namun demikian, informasi mengenai spesies yang ada, struktur umur, ukuran populasi, penyebaran, kondisi habitat serta data lainnya masih belum memadai. Padahal informasi ini sangat diperlukan khususnya dalam pengambilan kebijakan pengelolaan kawasan dan perlindungan jenis.

Banyak kegiatan yang telah dilakukan untuk melestarikan elang Jawa di TNGGP, antara lain upaya pengamanan, perbaikan habitat,  penyuluhan, monitoring populasi dan distribusi,  monitoring kondisi dan ketersedian habitat, ancaman/ gangguan dan beberapa informasi lainnya yang bisa menunjang kelestarian elang Jawa di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Aksi Tim Monitoring Populasi Elang Jawa

Rabu, 13 September 2017 Tim Monitoring yang terdiri dari Fungsional PEH Bidang I Cianjur, Tenaga Ahli Raptor Conservation Society (RCS), dan Volunteer Montana melaksanakan kegiatan monitoring elang Jawa di kawasan hutan Blok Geger Bentang yang termasuk ke dalam wilayah kerja Resort PTN Cibodas.

Monitoring dilaksanakan dengan metode pengamatan langsung berupa penghitungan pada titik perjumpaan (Point Count Method). Metoda ini dilakukan dengan mengambil data lapangan berdasarkan pada titik/ point pengamatan dengan memperhatikan perkiraan jarak atau sudut pandang (distance estimate). Dengan hasil sebagai berikut:

  1. Kegiatan Monitoring Populasi Elang Jawa dilaksanakan Blok Geger Bentang Resort PTN Cibodas pada ketinggian 1.285 mdpl.
  2. Pada lokasi pengamatan, ditemukan perjumpaan dengan Elang Jawa baik sarang maupun saat beraktivitas (soaring, gliding, perching, dan diving), sehingga habitat Elang Jawa di Bidang PTN Wilayah I Cianjur khususnya Blok Geger bentang masih dianggap memadai/ baik.
  3. Sarang Elang Jawa yang ditemukan terdapat pada pohon pasang (Lithocarpus pallidus (BI) Rehd) di Blok Geger Bentang Resort PTN Cibodas pada ketinggian 1.285 mdpl.
  4. Persentase perjumpaan elang Jawa berdasarkan pengelompokan waktu aktivitasnya pada rentang waktu antara pukul 06.00 s.d 12.00 WIB terjadi sebanyak 8 kali perjumpaan (80%) dan antara pukul 12.00 s.d 17.00 sebanyak 2 kali perjumpaan (20%).
  5. Kategori kelimpahan yang dihasilkan sebesar 0,138 berada pada rentang kategori kedua yaitu antara 0,1 – 2,0 dengan nilai kelimpahan 2 dan skala urutan “Tidak Umum”, artinya jenis Elang Jawa merupakan spesies yang jarang dijumpai tapi masih dalam kisaran “bisa/ memungkinkan” ditemukan di dalam kawasan TNGGP
  6. Kepadatan satwa elang Jawa yang terdapat di RPTN Cibodas 0,286 ekor/ Km.
  7. Berdasarkan hasil monitoring dan analisa data bahwa pendugaan/ estimasi populasi elang Jawa Resort PTN Cibodas di Bidang PTN Wilayah I Cianjur adalah sebanyak 5 ekor.
  8. Berdasarkan hasil analisa terhadap pola persebaran elang Jawa di atas didapatkan hasil indeks morisita di Blok Geger Bentang RPTN Cibodas (4,22). Dari keseluruhan pengamatan, id yang dihasilkan bernilai >1 sehingga dapat disimpulkan bahwa pola sebaran elang Jawa di lokasi pengamatan adalah acak (random).

Pada umumnya, lokasi ditemukannya elang Jawa memiliki ciri khas bentang alam yang relatif hampir sama, yaitu diantara lembah yang curam, kemiringan ? 45°,Y terdapat sumber air dan kondisi vegetasi rapat didominasi oleh pohon endemik seperti Puspa (Schima wallichii), Pasang (Quercus sp.), Saninten (Castanopsis argentea), Huru (Litsea sp.), Rasamala (Altingia excelsa), Beunying (Ficus fistulosa), Kondang (Ficus variegata), Walen (Ficus ribes), Kuray (Trema orientalis), Manglid (Mangnolia blumei), Ganitri (Elaeocarpus ganitrus), Suren (Toona sp.), Kareumbi (Omalanthus populneus), Manggong (Macaranga Rhizinoides), dll. Selain jenis pohon endemik, juga terdapat hamparan vegetasi bambu dan jenis tumbuhan bawah/perdu yang dominan adalah rotan (Calamus sp.), suangkung, paku tiang, congkok, hariang/ begonia, kirinyuh, kaliandra, dan lain-lain.

Sumber: Agus Deni – PEH Balai Besar TNGGP