Mengantar Baby Macan Tutul Yang Tersesat Kembali Ke Habitatnya

Sukabumi, 16 Mei 2018 tengah malam (23.30 WIB), seekor anakan macan tutul (Panthera pardus melas) terjebak di bawah rumah panggung pegawai PTPN VIII Goalpara di Kampung Perbawati RT. 02/ RW. 01, Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Peristiwa ini berawal saat pemilik rumah, Hendi Suhendi alias Goci (53 tahun) yang bekerja sebagai Satpam PTPN VIII Goalpara memeriksa sekitar rumah karena mencium bau sigung yang menyengat dan saat mengarahkan senternya ke salah satu tempat, didapati seekor anak macan tutul yang langsung masuk ke kolong rumah yang sempit sehingga terjebak di dalam. “Diduga, anak macan tutul tersebut telah makan sigung dan memangsa 2 (dua) ekor ayam”, ujar Hendi Suhendi di pagi hari saat melapor kepada petugas Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Setelah memastikan ada macan tutul di kolong rumahnya, Hendi menenangkan keluarganya agar tetap berada di dalam rumah. Kesesokan harinya, selepas sahur (04.30 WIB), 17 Mei 2018 Hendi melapor ke petugas Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) Bidang PTN Wilayah II Sukabumi dan Polsek Sukabumi. Pada pukul 05.30 WIB petugas BBTNGGP dan personil Polsek Sukabumi melakukan pengamanan, mengingatkan dan mencegah warga agar tidak terlalu mendekat ke lokasi.

Menurut Dadi Haryadi Muharam, Kepala Resort PTN Wilayah Selabintana, kemungkinan anakan “carnifor bertotol” tersebut berasal dari kawasan TNGGP karena jarak antara batas kawasan TNGGP dengan rumah tempat anak macan tutul terjebak sekitar 1,4 km (masih dalam jarak jelajah macan tutul) dan diperkirakan macan tutul yang “turun gunung” pada malam tersebut lebih dari 1 (satu) ekor karena saat itu, Hendi mendengar suara ayam dikejar sesuatu dari timur ke arah kebun teh/ ke arah Gunung. Lebih lanjut Dadi mengatakan bahwa, kejadian seperti ini pernah terjadi pada tahun 2012 di kampung yang sama.

Untuk penanganan macan tutul tersebut, pihak BBTNGGP dan Polsek Sukabumi berkoordinasi dengan Petugas Balai Besar KSDA Jawa Barat Wilayah Bogor, Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Cikananga, dan Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua. Pukul 12.15 WIB tim dari TSI Cisarua dan PPS Cikananga datang hampir bersamaan dan setelah dilakukan musyawarah akhirnya tim dari TSI Cisarua yang melakukan upaya evakuasi dengan cara ditembak bius.

Evakuasi anakan macan tutul memakan waktu sekitar 1 jam 20 menit. Saat anak macan tutul terlelap tidur, dilakukan pemeriksaan fisik, dan diambil sample darah untuk diperiksa lebih lanjut serta dipasang chip.

Dari hasil pemeriksaan fisik, diketahui bahwa anak macan tutul ini berjenis kelamin jantan dan dari pemeriksaan gigi, diperkirakan usia anak macan tutul ini di bawah 1 tahun, walaupun sudah disapih namun masih di bawah pengawasan induknya, sehingga diperkirakan induknya masih berkeliaran di hutan sekitar Perbawati bagian pinggir.

Mengingat anak macan tutul ini mengalami dehidrasi maka diberi cairan infus dan antibiotik untuk menghindari infeksi. Dalam rangka pemulihan kondisi pasca pembiusan dan sambil menunggu hasil pemeriksaan sample darah di Rumah Sakit Satwa TSI Cisarua, untuk sementara satwa bertotol ini diamankan di Kantor Bidang PTN Wilayah II Sukabumi dibawah pengawasan dokter hewan PPS Cikananga.

Hasil permantauan dokter hewan dari PPS Cikananga, selama 7 (tujuh) jam pasca pembiusan, kondisi anak macan tutul secara fisik layak untuk dilepasliarkan kembali. Dan bersyukur, hasil pemeriksaan darahpun baik. Maka tim gabungan yang terdiri dari personil BBTNGGP, BBKSDA Jawa Barat, PPS Cikananga, Panthera, dan masyarakat sekitar segera melakukan persiapan pelepasliaran, yang diawali dengan rapat persiapan, menentukan tempat pelepasliaran, cara melepasliarkan dan lain-lain. Disepakati bersama bahwa sebelum pelepasliaran, diberangkatkan tim pembuka jalan ke lokasi pelepasliaran.

Pelepasliaran anak macan tutul ini dilakukan segera mungkin setelah semua keadaan mendukung dengan pertimbangan bahwa mengingat anak macan tutul ini masih dalam pengawasan induknya. Diharapkan semakin cepat dilepasliarkan, induknya masih mengenali bau anaknya. Selain itu, sifat liar anak macan tutul masih melekat dalam dirinya. Dari sudut pengelolaan, membiarkan satwa liar hidup di habitat alaminya adalah pilihan yang terbaik.

Hari Kamis, 17 Mei 2018 tepat pada pukul 23.35 WIB, anak macan tutul yang selama lebih dari 12 jam terjebak di kolong rumah Hendi pun kembali ke habitat alaminya di kawasan TNGGP. Semoga anak macan tutul tersebut dapat menemukan jalan kembali ke dalam pengawasan induknya dengan sehat dan selamat sampai dewasa untuk meneruskan keturunannya, serta terutama tidak keluar lagi dari habitat alaminya.

Pasca pelepasliaran, Jumat 18 Mei 2018, dilakukan pemasangan 2 (dua) buah camera trap yang merupakan pinjaman dari Conservation International (CI) – Indonesia, mengingat semua camera trap BBTNGGP sudah terpasang di site monitoring resort yang lain. Camera trap tersebut dipasang di sekitar tempat pelepasliaran untuk memonitor pergerakan anak macan tutul tersebut. Kawasan TNGGP sekitar Perbawati merupakan salah satu habitat macan tutul, hal ini diketahui dari hasil rekaman camera trap dan banyak ditemukan jejak macan tutul berupa bekas cakaran di pohon puspa. Sejak tahun 2010 di lokasi ini, personil BBTNGGP rutin melaksanakan pemantauan macan tutul baik menggunakan camera trap maupun patroli.

Evakuasi dan pelepasliaran anak macan tutul (Panthera pardus melas) dapat terlaksana atas kerjasama para pihak yakni Balai Besar TNGGP, Balai Besar KSDA Jawa Barat, TSI Cisarua, PPS Cikananga, Polsek Sukabumi, Koramil Sukabumi, serta dukungan vollunter Panthera dan masyarakat sekitar kawasan TNGGP khsusnya di Wilayah Resort PTN Selabintana. Untuk itu, terimakasih kepada semua pihak yang terlibat, semoga kerjasama ini lebih memperkuat pengelolaan TNGGP dalam upaya perlindungan dan pengawetan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya.

Sumber: Balai Besar TNGGP