Lahirnya Sang Primata Setia Di Bulan Penuh Cinta

Kabar menggembirakan datang di bulan Februari dari dunia “primata setia” endemik Jawa. Februari yang oleh sebagian orang menyebutnya sebagai bulan penuh cinta. Dan atas nama cintalah, 4 hari setelah Hari Primata Indonesia (30/1/2021), Rabu (3/2/2021), lahir bayi Owa jawa betina dari pasangan Owa jawa “Jolly” (betina) dan “Boby” (jantan) sebagai generasi penerus penebar biji di alam tanpa pamrih dengan proses caesar. Proses ini sukses membuat kami menghela nafas dan berkeringat dingin. Jolly dan Boby merupakan pasangan Owa jawa yang direhabilitasi di Javan Gibbon Center (JGC), Resort PTN Wilayah Bodogol Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Keberadaan JGC merupakan salah satu upaya mengejawantahkan cinta kami untuk kelestarian Owa jawa, kerja sama antara Balai Besar TNGGP dengan Yayasan Owa Jawa (YOJ) yang didukung Conservation International Indonesia (CI Indonesia).

Ini sudah kelahiran ketiga Jolly melalui operasi cessar. Lahiran pertama si Billy Putri 28 April 2018 (http://ppid.menlhk.go.id/siaran_pers/browse/1202; https://www.gedepangrango.org/menengok-baby-owa-jawa-billy-dan-ibunya-joly-2-hari-pasca-caesar/; https://www.instagram.com/p/Bi1N0ZalPhG/; dan https://www.gedepangrango.org/kondisi-terkini-si-billy-putri/). Lahiran kedua Desember 2019 namun anaknya mati setelah beberapa hari dirawat, dan lahiran ketiga 3 Februari 2021.

Pada proses lahiran ketiga, satu hari sebelumnya Selasa (02/02/2021) tepatnya pukul 14.00 WIB, drh. Pristi, M.Si. dokter hewan di JGC mendapatkan laporan dari salah satu animal keeper/ perawat satwa JGC Sdr. Ayung bahwa Jolly menunjukan gejala inisial proses kelahiran atau biasa disebut kontraksi. Dikarenakan kontraksinya sudah lebih dari 12 jam dan bayi yang tak kunjung lahir, maka perlu dilakukan segera tindakan medis. Dari sini kekhawatiran kami dimulai. drh. Pristi (JGC) dan drh. Permana (Pusat Studi Satwa Primata, IPB), yang dibantu Sdr. Ayung, serta disaksikan oleh petugas dari Resort PTN Wilayah Bodogol BBTNGGP, melakukan tindakan bedah caesar untuk menyelamatkan induk dan bayi.

Bayi mungil Owa jawa berjenis kelamin betina dengan berat 370 gram berhasil dilahirkan dengan selamat melalui operasi caesar pada hari Rabu (03/02/2020) tepat pukul 10.25 WIB. Proses caesar berlangsung sekitar 25 menit.

Kekhawatiran kedua muncul ketika bayi dikeluarkan, ternyata ditemukan kondisi leher bayi Owa jawa yang terlilit tali pusar (ari-ari), dengan sigap dan secara perlahan-lahan lilitan tersebut dilepaskan dan tubuhnya dibersihkan dari darah yang menempel. Dorongan kuat si bayi saat ingin keluar dari perut induknya pun nampak berupa memar-memar di area pelipis mata dan mulut. Karena lilitan itulah bayi Owa jawa tersebut tidak bisa lahir secara normal.

Ternyata kekhawatiran kami belum usai, ketika mendengar pernapasan bayi Owa jawa yang seperti sesak dan tidak muncul tangisan bayi pada umumnya pasca lahir. Alhamdulillah setelah menunggu beberapa menit kemudian, suara tangisan bayi mulai keluar walaupun dengan nada kecil dan perlahan nada tangisnya mulai membesar ketika drh. Pristi berupaya meletakkan bayi di atas tubuh induknya untuk diberikan ASI.

Lalu selesaikah kekhawatiran kami? Ternyata belum. Selesainya kekhawatiran kami adalah ketika Owa jawa tersebut nantinya telah dilepasliarkan di habitatnya. Biarkan mereka hidup secara terhormat di alam bebas. Maka berhentilah menjadikan Owa jawa sebagai hewan peliharaan dengan alasan atas nama cinta. Sesungguhnya cinta pada satwaliar adalah “mempertahankan mereka hidup liar di habitatnya” bukan “memiliki”.

Sejak tahun 2003, jumlah Owa jawa yang direhabilitasi di JGC sebanyak 50 individu. 32 individu diantaranya telah dilakukan pelepasliaran. Semoga dapat berkembang dengan baik, agar nanti bisa menikmati “rumah” yang sesungguhnya.

Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Teks oleh : Nidia Opinta, A.Md. (Polisi Kehutanan Pelaksana Lanjutan) dan Agung Gunawan, S.Hut. (Pengendali Ekosistem Muda) pada SPTN Wilayah V Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III, BBTNGGP

Dok: Nidia Opinta, A.Md. (TNGGP) dan Ayung (JGC)