Kunjungannya : Diawali Pak Sekjen Diakhiri Bu Menteri

“Sejauh ini kejadian yang paling menarik selama kunjungan saya ke Jawa adalah perjalanan ke puncak gunung Gede dan Pangrango. Satu mil pertama perjalanan adalah kawasan terbuka yang selanjutnya membawa kita kepada hutan-hutan yang menutupi seluruh gunung dari ketinggian sekitar 5,000 kaki. Perjalanan selanjutnya adalah jalur yang menanjak melalui hutan-hutan yang masih alami, pohon-pohon berukuran besar dan tumbuhan bawah yang terdiri dari berbagai jenis tumbuhan herba, paku-pakuan dan vegetasi semak. Saya kagum dengan banyaknya tanaman paku yang tumbuh di samping jalan. Keragamannya seperti tanpa akhir dan saya sering berhenti untuk mengagumi beberapa bentuk yang baru dan menarik. Sekarang saya bisa memahami dengan baik apa yang dikatakan Gardner bahwa 300 spesies telah ditemukan di satu gunung ini. Sebelum senja saya sampai di suatu dataran tinggi yang tidak begitu luas di Tjiburong dibagian menanjak sekitar bawah gunung dimana terdapat pemondokan bagi para pendaki. Di sekitarnya terdapat air terjun dan goa yang menarik namun sayang saya tidak sempat mengeksplorasinya. Saya meneruskan perjalanan yang semakin menanjak, jalurnya semakin sempit, kasar, berbat, dan berliku … “ (Alfred Russel Wallace, 1861)
“Pengalaman pertamaku dengan hutan tropis berupa sensasi keadaan yang tidak terganggu. Disana aku berdiri, di hutan Cibodas, Jawa Barat…” (Marius Jacobs, 1879)
1.500.000 Orang Wisman
Keindahan Gunung Gede dan Pangrango sudah dikenal dan diabadikan sejak abad 18, seperti kesan beberapa orang asing tersebut di atas. Dengan kekayaan alamnya yang menarik seperti kesan Pak Wallace dan Pak Jacobs di atas, saat ini Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dikembangkan sebagai destinasi wisata andalan.
Dengan pengembangannya sebagai destinasi wisata alam, TNGGP mempunyai target peningkatan devisa negara dalam bentuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp. 2.040.150.265,-.
Untuk memenuhi target tersebut, Balai Besar TNGGP berupaya untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke kawasan taman nasional ini, terutama wisatawan dari mancanegara (Wisman). Target utama adalah wisatawan mancanegara sebanyak 1.000 orang tahun 2017, sebanyak 5.000 orang untuk tahun 2015 – 2019. Untuk itu Balai Besar TNGGP mengikuti pameran 9th Indo Green Environment & Forestry Expo 2017 di Jakarta Covention Centre (JCC) pada tanggal 13 – 16 April 2017.
Wisatawan nusantara (Wisnus) tidak menjadi target utama dalam acara pameran kali ini karena jumlah Wisnus sudah berlebih, terutama pada hari-hari libur. Untuk pengunjung lokal lebih ditekankan pada pendidikan konservasi, untuk menginformasikan dan mempromosikan upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, agar mereka tahu dan mau peduli dengan upaya konservasi sumber daya alam sebagai lingkungan hidupnya.
Penekanan pada Obyek Wisata
Pada pameran kali ini, Balai Besar TNGGP lebih menonjolkan daya tarik wisata, seperti obyek-obyek wisata alam, termasuk obyek yang ada di sekitarnya, fasilitas termasuk paket-paket wisata yang ada. Hal ini untuk menarik wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke taman nasional ini.
Tampilan stand dibuat agar yang pertama terlihat adalah keindahan obyek wisata. Pengunjung yang tertarik dengan keindahan alam akan datang berkunjung ke stand, selanjutnya mereka akan mendapat informasi tentang potensi wisata secara lebih rinci, termasuk kondisi umum, fasilitas, paket wisata, cara untuk sampai di lokasi wisata, dan tatacara memasuki kawasan konservasi.
Untuk masyarakat lokal terutama para pelajar, diberikan juga informasi tentang potensi jasa lingkungan lainnya, permasalahan umum dan upaya-upaya konservasi yang dilaksanakan di TNGGP, termasuk paket wisata pendidikan seperti, “Sehari di Bukit Nan Asri” (kunjungan harian), “Tiga Malam di Rimba Raya” dan “Lima Hari Menguak Misteri” (kemah konservasi), “Jejak Sang Ilmuan” (pengamatan tumbuhan dan satwa liar), dan paket lainnya.
Informasi disajikan dalam bentuk gambar, teks/tulisan, interpretasi lisan, peta, buku, leaflet, stiker, dan lain-lain. Sebagai tambahan dilengkapi dengan berbagai asesoris, baik berupa tumbuhan, gambar maupun supenir.
Sekitar 80 % Pelajar/ Mahasiswa
Meskipun sasaran yang diharapkan adalah wisatawan asing, namun pameran kali ini tidak terlalu banyak dikunjungi tamu mancanegara. Stand Balai Besar TNGGP hanya didatangi tiga orang “bule” dari negeri Belanda. Namun demikian tujuh orang personil biro perjalanan yang berlainan sempat berkunjung dan tertarik untuk memasarkan destinasi wisata ini.
Kebanyakan pengunjung ke stand Balai Besar TNGGP adalah para pelajar dan mahasiswa, hampir 80 % dari jumlah pengunjung yang datang. Pada umumnya mereka lebih tertarik karena kegiatan pendakian, namun setelah mendapat penjelasan tentang paket wisata pendidikan, para pelajar yang umumnya penduduk Kota Jakarta (tidak terbiasa berjalan kaki) menjadi lebih tertarik pada paket wisata pendidikan dari pada pendakian.
Kelompok orang penting (VIP) yang sempat berkunjung ke stand Balai Besar TNGGP antara lain Sekjen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Bapak Bambang Hendroyono, yang sempat berkunjung pada hari pertama pameran. Pada hari terakhir stand kita mendapat kehormatan dengan kunjungan Menteri LHK, Ibu Siti Nurbaya.
Dengan berbagai kegiatan, seperti pameran ini, mudah-mudahan target kunjungan wisatawan mancanegara serta perolehan PNBP dapat tercapai. Demikian pula dengan upaya penyampaian pesan-pesan konservasi, bisa membuat masyarakat tahu, sadar dan peduli dengan upaya konservasi sumber daya alam. Semoga!
Sumber: Ir. Agus Mulyana – Balai Besar TNGGP