Kth Hejo Cipruk Kedatangan Tamu Lagi

Apa dan dimana sih Kelompok Tani Hutan (KTH) Hejo Cipruk itu? Mungkin hal itulah yang menimbulkan kepenasaranan orang untuk datang berkunjung dan belajar di KTH Hejo Cipruk. Disamping, tentunya keberhasilan kelompok ini dalam pengembangan usahatani yang mununjang upaya konservasi SDA.

KTH Hejo Cipruk salah satu KTH binaan Balai Besar Taman Nasional Gede Pangrango (TNGGP) berada di desa penyangga wilayah kerja Resort Tegalega, Seksi PTN Wilayah II Gedeh, Bidang PTN Wilayah I Cianjur. Secara administratif berada di Kampung Tabrik, Desa Gekbrong, Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur.

Apa sih kelebihan Kelompok Tani Hutan (KTH) yang terbentuk sejak 2016 ini? Selain sebagai kelompok tani hutan juga menjadi lokasi praktik/ magang mahasiswa, lokasi praktik pelatihan instansi-instansi, dan juga lokasi studi banding para petani/ pengusaha dari berbagai provinsi maupun negara. Pusat Pendidikan dan Pelatihan SDM Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Proyek Forest Investmen Program (FIP) II Tahun 2019 mengadakan praktik Pelatihan Pendampingan Kelompok Tani Hutan (KTH) di KTH Hejo Cipruk. Tentu saja ada alasannya kenapa KTH Hejo Cipruk yang dipilih.

Kegiatan praktik tersebut dilaksanakan selama dua hari, 31 Juli sampai 1 Agustus 2019. Acara dibuka langsung oleh Adang Sopandi, Kepala Bidang Perencanaan, Evaluasi, dan Pengembangan E Learning – Pusat Pendidikan dan Pelatihan Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Beliau menyampaikan, “Maksud kedatangan ke KTH Hejo Cipruk untuk melakukan praktik Pelatihan Pendampingan KTH, peserta berasal dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) yang tersebar di 7 provinsi”. Beliau juga menambahkan, semoga KTH Hejo Cipruk dapat dijadikan contoh untuk bahan pembelajaran yang dapat diaplikasikan sesuai dengan kondisi di lapangan daerah masing-masing.

Peserta pelatihan diterima oleh Kepala Balai Besar TNGGP, pada kesempatan ini diwakili oleh V. Diah Qurani Kristina, Kepala Bidang PTN Wilayah I Cianjur. Beliau mengungkapkan, “Kunjungan peserta Pelatihan Pendampingan KTH ke KTH Hejo Cipruk merupakan kebanggaan dan kehormatan bagi kami dikunjungi oleh perwakilan dari 9 KPH yang tersebar di 7 provinsi. Ini dapat dijadikan pembelajaran bersama juga bagi kami KTH Hejo Cipruk maupun TNGGP sebagai pendamping KTH karena kita pun sedang dalam proses pengembangan pendampingan KTH”.

Praktik Pelatihan Pendampingan KTH didampingi oleh Agus Wiyanto dan Amin Fauzi sebagai Widyaiswara Pusat Pendidikan dan Pelatihan SDM Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pendamping dari TNGGP, Febriyani dan Poppy Oktadiyani (Penyuluh Kehutanan), Ranto (Kepala Resort Tegalega/ Pengendali Ekosistem Hutan), dan Asep Andriana (Polisi Kehutanan). Kang Sayo, Kang Uden, Kang Sabar, Kang Dedi, dan anggota lainnya dari KTH Hejo Cipruk pun ikut bagian dalam kegiatan ini. Teh Nanin Suminar pendamping dari Yayasan Baitul Mal (YBM) Bank Rakyat Indonesia (BRI) saat ini sedang bekerjasama dengan KTH Hejo Cipruk dan kelompok ibu-ibu usaha olahan sayuran di Kampung Tabrik ikut hadir dalam kegiatan ini.

Peserta dibagi menjadi tiga kelompok (kelompok paprika, wortel, dan cabe). Para peserta sangat antusia mengikuti kegiatan praktik ini, mulai dari diskusi banyak peserta yang bertanya sambung menyambung. Sampai praktik pengambilan data ke lapangan pun diikuti peserta dengan serius namun mengasikan.

Identifikasi pemetaan potensi dan permasalahan desa dan kelompok, TNGGP sudah melaksanakannya untuk KTH Hejo Cipruk dan Kampung Tabrik – Desa Gekbrong pada tahun 2016, sehingga dapat saling sharing dari hasil identifikasi dan bersama-sama merumuskan bagaimana strategi penguatan kelompok dalam kelola kelembagaan, kelola kawasan, dan kelola usaha. Ada beberapa masukan untuk pengembangan KTH Hejo Cipruk dari hasil praktik tersebut, kelola kawasan (papan informasi terkait kawasan perlu dipasang terutama pada batas kawasan dengan kebun/ kampung untuk mengingatkan kepada masyarakat keberadaan kawasan TNGGP), kelola kelembagaan (penyetaraan gender dalam struktur organisasi, SDM wanita berpotensi dalam kepengurusan KTH), dan kelola usaha (diversifikasi produk olahan dari pertanian maupun Hasil Hutan Bukan Kayu lainnya seperti madu berpotensi dikembangkan).

Apa saja sih yang dipelajari dalam praktik tersebut? Peserta pelatihan belajar tentang identifikasi pemetaan potensi dan permasalahan kelompok serta penguatan kelompok dalam kelola kelembagaan, kelola kawasan, dan kelola usaha dengan menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD) dan beberapa alat PRA (sketsa usaha tani, transek kampung, diagram venn, dan peta mobilitas).

Diakhir acara, Kang Sayo, ketua KTH Hejo Cipruk, berharap agar hasil dari kegiatan praktik Pelatihan Pendampingan KTH ini dapat bermanfaat bagi peserta dan dapat diterapkan yang baiknya di daerah masing-masing. “Semoga bermanfaat juga bagi kemajuan KTH Hejo Cipruk sendiri maupun untuk para pendamping agar dapat melahirkan KTH Hejo Cipruk lainnya”, tuturnya.

Sumber: Poppy Oktadiyani