Komposisi Dan Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Pada Daerah Tepi Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat.

Peneliti: Mochamad Syamsudin

Topik : Flora

Tahun : 2000

No. Pustaka:

Abstrak
Penelitian bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan tentang perubahan komposisi dan keanekaragaman jeis tumbuhan dalam kawasan yang berbatasan dengan berbagai penggunaan lahan di luar kawasan resort wilayah TNGP yaitu Desa Nanggerang, Desa Pasir Buncir, dan Desa Wates Jaya Resort Bodogol, Desa Pancawati, Desa Lemah Duhur dan Desa Tangkil resort Cimande, Desa Sudajaya Girang, Desa karawang dan Desa Gede Pangrango Resort Selabintana. Penggunaan lahan yanh ditemui adalah penggunaan lahan Perum Perhutani, penggunaan lahan sawah, penggunaan lahan perkebunan campuran, penggunaan ladang palawija, penggunaan lahan kebun rakyat dan penggunaan lahan kebun teh. Pengambilan data dilakukan dengan analisis vegetasi yaitu teknik jalur berpetak dengan purposive sampling pada setiap pola penggunaan lahan. Petak dibuat bersarang (nested) yaitu 20 m x 20 m untuk tingkat pohon, 10 m x 10 m untuk tingkat tiang, 5 m x 5 m untuk tingkat pancang dan 2 m x 2 m untuk tingkat semai dan tumbuhan bawah. Data dianalisis dengan menggunakan INP, IS dan Indeks Shanon-Winner yang di uji secara statistik dengan ANOVA dan Uji Duncan. Kesamaan komunitas di berbagai penggunaan lahan pada jarak yang sama memiliki kesamaan komunitas yang kecil dengan IS berkisar antara 3.58 % – 71.10 %. Hal ini disebabkan oleh gangguan manusia yang melebihi daya elastisnya, maka komunitas tepi kawsan TNGP menjadi suatu komunitas yang terganggu. Pada tepi kawasan yang berbatasan dengan penggunaan  lahan sawah, perkebunan campuran. Ladang palawija dan kebun rakyat kesamaan komunitas yang kecil dengan IS berkisar antara 3.58%-71.10%. hal ini disebabkan oleh gangguan manusia yang melebihi daya elastisnya, maka komunitasnya lebih kecil karena perladangan atau pengolahan lainnya yang menyebabkan tersebarnya biji di areal terbuka dan selanjutnya terjadi proses perkecambahan, pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan baru, terjadi konpetisi diantara anakan, perubahan habitat sampai turunnya tingkat kestabilan komunitas. Pada perkebunan lahan perhutani kelas penggunaan dammar, tanaman pinus, tanaman campuran( puspa,dammar dan rasamala ), dan perkebunan teh tingkat kesamaan komunitasnya tinggi pada jarak 200 m-600 m, hal ini berarti pada jarak tersebut tidak terjadi perubahan kompossisi yang di sebabkan oleh aktivitas manusia sehingga komunitas yang mengalami perubahan jenis komposisi tumbuhan tidak begitu besar, sedangkan pada jarak 100 m sudah mula terlihat adanya perubahan komunitas karena pada jarak tersebut ada tumbuhan eksotik yang msuk ke dalam kawasan yang mempengaruhi kestabilan komunitas. Hal ini berarti tepi kawasan yang berbatasan dengan penggunaan sawah, perkebunan campuran, ladang dan palawija dan kebun rakyat merupakan suatu populasi antropogenik, berupa populasi dengan spesies invasive yang berdampak negatif terhadap komunitas alami. Pada tingkat semai, pancang, tiang, dan pohon kekayaan jienis tertinggi ada pada tepi kawasan yang berbatasan dengan penggunaan lahan Perum Perhutani kelas pengusahaan tanaman dammar. Kekayaan jenis terendah untuk tingkat semai, tumbuhan bawah dan tingkat pohon terdapat pada tepi kawasan yang berbatasan dengan penggunaan lahan pertanian tanah kering ( ladang , palawija ) , untuk pancang kekayaan jenis terendah pada tepi kawasan yang berbatasan dengan pola penggunaan lahan kebun the, dan untuk tiang kekayaan jenis terendah terdapat pada tepi kawasan yang berbatasan dengan penggunaan lahan kebun rakyat. Kekayaan jenis tertinggi pada semua tingkt pertumbuhan dimana campur tangan manusia sangat kecil ( Perum Perhutani ), sedangkan kekayaan jenis terendah  terlhat pada kawasan dimana aktivitas manusia sangat tinggi dan populasi ini termasuk populasi antroporgenik yaitu sawah, perkebunan campuran, ladang palawija dan kebun rakyat  telah banyak pencurian dan penebangan kayu. Selain itu setelah masuk tumbuhan eksotik yang dapat menurunkan kekayaan  jenis tumbuhan di dalam kawasan TNGP. Untuk komposisi jenis tumbuhan dari tepi batas sampai interior kawasan yang berbatasan dengan berbagai penggunaan lahan mengalami perubahan, karena danya jenis-jenis yang hilang dan attau muncul. Perubahan jenis tumbuhan  karena adanya jenis yang hilang terjadi pada tepi kawasan yang berbatasan dengan penggunaan lahan perkebunan campuran ( 68.18%), karena tepi kawasan yang berbatasan dengan pembukaan lahan akibat penyerobotan lahan terhadap kawasan taman nasional. Perubahan komposisi jenis tumbuhan terjadi karena adanya jenis yang muncul terjadi pada kawasan yang berbatasan dengan penggunaan lahan  Perum Perhutani kelas penggunaan hutan dammar (217.39%). Salah satu dugaan adanya penambahan jenis ini karena adanya penyebaran biji yang dilakukan oleh satwa, angin, dan air. Pada tepi kawasan jenis eksotik yang ditemukan berjumlah 38 jenis, termasuk tinggi  dengan batas penggunaan lahan yang dipengaruhin oleh aktivitas manusia, yaitu pada penggunaan lahan kebun rakyat, ladang palawija, sawah dan perkebunan campuran. Jenis0jenis tumbuhan yang eksotik yang sangat berpengaruh terhadap  umumnya berada pada populasi antroporgenik dan mengancam keberdaan vegetasi asli yang berada dalam kawasan, apabila jenis eksotik ini dibiarkan maka akan terjadi pengumpulan biomasa dari tumbuhan eksotik akan menyebakan kebakaran, sehingga kawasan TNGP sebagai kawasan konservasi akan hilang dan musnah. Keanekaragaman jenis tumbuhan berkisar antara 0.00-3.21. Untuk tumbuhan tingkat semai kisaran keanekaragaman tertinggi terdapat pada tepi kawasan yang berbatasan dengan penggunaan lahan kebun teh (H’ = 2.46-3.21). Pada tumbuhan tingkat pancang dan tiang kisaran keanekaragaman tertinggi pada tepi kawasan yang berbatasan dengan penggunaan lahan Perum Perhutani kelas pengusahaan tanaman puspa, dammar dan rasamala (2.62-3.07; 2.52-2.91), sedangkan untuk tingkat pohon, tepi kawasan yang berbatasan dengan penggunaan lahan kebun teh memiliki kisaran keanekaragaman tertinggi (2.44-2.75). Keanekaragaman jenis tumbuhan terendah untuk tingkat semai terdapat pada tepi kawaan yang berbatasan dengan penggunaan lahan sawah (1.02-2.55). Hal ini menunjukan bahwa tepi kawasan yang berbatasan dengan penggunaan lahan sawah dan perkebunan campuran memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan yang kecil dibanding dengan penggunaan lahan lainnya. Jika di bandingkan dengan keanekaragaman floristik hutan alam yang umum terdapat di TNGP (Yamada, 1975), ternyata keanekaragaman hayati di wilayah penelitian lebih rendah. Dengan adanya pemanfaatan tumbuhan di wilayah taman nasional dan penggarapan oleh masyarakat yang masuk kedalam kawasan berarti keanekaragaman tumbuhan dan keberadaaan taman nasional mendapat ancaman. Ancaman ini terutama dari adanya tanaman eksotik yang menginvasi baik secara langsung atau tidak langsung, secara langsung adalah masuk dan ditanamnya jenis eksotik baik oleh masyarakat melalui penanaman lahan garapan mereka yang masuk kedalam kawasan atau oleh pihak perkebunan, sedangkan secara tidak langsung melalui biji yang menyebar secara alami oleh angin, hewan dan air. Berdasarkan hasil analisis hasil sidik ragam untuk berbagai jarak pada berbagai tingkat partumbuhan diperoleh nilai F Hit> F Tab, pada taraf nyata (?= 0.05), artinya bahwa adanya penggunaan lahan yang berbatasan dengan taman nasional terjadi perubahan keanekeragaman jenis tumbuhan dari tepi sampai interior kawasan yang berbatasan dengan berbagai penggunaan lahan perubahan keanekaragan jenis tumbuhan terjadi pada penggunaan lahan perkebunan campuran dan penggunaan lahan ladang palawija. Pada penggunaan lahan perum perhutani kelas pengusahaan tanaman, perbedaan keanekaragaman terjadi setelah jarak 100 m pada tingkat pohon. Pada penggunaan lahan Perum Perhutani kelas pengusahaan tanaman pinus perbedaan keanekaragaman jenis terjadi setelah jarak 100 m untuk tingkat tiang, sedangkan pada penggunaan lahan Perum Perhutani kelas pengusahaan tanaman campuran tidak terjadi perbedaan keanekaragaman jenis baik pada tingkat semai, pancang, tiang mnaupun pohon. Pada penggunaan lahan sawah dan perkebunan campuran perbedaan keanekaragaman jenis tumbuhan terjadi setelah jarak 300 m untuk semua tingkatan pertumbuhan. Pada Penggunaan lahan palwija perbedaan keanekaragaman jenis tumbuhan terjadi pada jarak 400 m pada tingkat tiang dan pohon. Pada penggunaan lahan kebun rakyat dan kebunn teh perbedaan keanekaragaman jenis terjadi setelah jarak 200 m untuk tingkat pohon. Hal ini berarti perbedaan keanekaragaman jenis tumbuhan dari tepi kawasan sampai interior kawasan menandakan perubahan keanekaragaman jenis perubahan keanekaragaman jenis tumbuhan, Perubahan terbesar dari mulai tepi sampai interior kawasan terjadi pada tepi batas