- Taman Nasional Gunung Gede Pangrango [National Park] - http://www.gedepangrango.org -

Keluarga Bartels, Kisah Hidup Keluarga Penemu Elang Jawa Dari Pasir Datar Ciparay Sukabumi, Sebuah Tragedi Ilmu Pengetahuan

Posted By redaksi On April 19, 2012 @ 9:16 am In Artikel | No Comments

Oleh Ardi Andono, MSc (1)

[1] Bagi masyarakat Indonesia, saat ini popularitas Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) sudah hampir sejajar dengan Badak Jawa, Badak Sumatera, Harimau Sumatera, Gajah Sumatera dan Orang Hutan. Popularitas ini menobatkan Elang Jawa menjadi satwa nasional sejak tahun1993. Namun jika kita bertanya siapakah penemu Elang Jawa? Bagaimaan kisah hidupnya? dimanakah hasil karya-karyanya? Sumbangsih apa yang telah diberikan bagi dunia ilmu pengetahuan Indonesia? Tentu sangat sedikit yang tahu.

Bartels merupakan nama (keluarga) dari penemu Elang Jawa yang ternyata telah menemukan 21 species baik berupa burung, kelelawar, dan tikus, 7 diantaranya masuk dalam Red List IUCN, serta 2 genus tikus-tikusan. Selain itu, ribuan specimen dan telur burung koleksi pribadi “dirampok” oleh  Ilmuwan Belanda dengan menggunakan jasa tentara Jepang, saat ini koleksi tersebut berada National Museum of Natural History (NMNH) Leiden, The Netherlands.

Hingga, Bartels Junior meninggal sebagai Rhomusa di Burma dengan meninggalkan anak perempuannya yang baru berumur 5 tahun dan baru diketahui makamnya 50 tahun kemudian.

Seluruh kisah tersebut tidak terlepas dari lokasi musium sekaligus rumah oleh keluarga Bartels di Pasir Datar Sukabumi yang saat ini menjadi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).

Saat ini terjadi salah persepsi tentang siapakah Bartels atau Max Bartels, yang ternyata merupakan dua orang yang berbeda yakni Max Eduard Gottlieb Bartels (24 January 1871-7 April 1936) atau MEG Bartels (ayah) dan Dr. Max Bartels (anak) (7 Juni 1902 - 6 Oktober 1943). Pada mulanya nama Max Bartels digunakan oleh MEG Bartels sang ayah dalam jurnal-jurnal ornitologinya sebagai nama singkatnya, namun setelah anak pertamanya lahir nama itu diberikan kepada anak tertuanya. Untuk membedakan hasil karya ayah dan anak, beberapa peneliti terkenal seperti Edwin Stresemann, HJV Sody dan JH Becking membedakan mereka sebagai Max Bartels Sr (MEG) dan Max Bartels Jr. Didalam tulisan ini akan digunakan MEG Bartels sebagai Max Bartels Senior dan Dr. Max Bartels sebagai Max Bartels Junior.

  • Max Eduard Gottlieb Bartels (24 January 1871-7 April 1936)

MEG Bartels, berkebangsaan Jerman, adalah seorang Ornitholog yang dilahirkan di kota Bielefeld Jerman dari seorang ayah yang bekerja sebagai arsitek. Ia merupakan anggota Deutsche Ornithologische Gesellschaft (Jerman Ornitolog Society) yang berpusat di Boon sejak tahun 1903. Pada tahun 1895, MEG Bartels (usia 24 tahun) hijrah ke Pulau Jawa untuk menghindari Wajib Militer di Jerman, selain itu MEG Bartels sangat tertarik pada kehidupan alam liar terutama burung.

MEG Bartels bekerja pada Perkebunan Teh “Pangrango” dengan lokasi pada Resort Pasir Datar, Sukabumi hingga pada tahun 1898 MEG Bartels telah menjadi Kepala Perkebunan tersebut.

Pada tanggal 19 Agustus 1901, MEG Bartels menikah dengan Angeline Cardine Henriette Maurenbrecher orang Belanda yang memiliki keahlian sebagi pelukis dan salah satu lukisannya berada di National Museum of Natural History Leiden. Hasil pernikahannya terlahir Dr. Max Bartels Jr (1902-1943), Ernst Bartels (1904-1976), dan Hans Bartels (1906-1997).

MEG Bartels memiliki kegemaran mengoleksi specimen satwa terutama berbagai jenis burung dan telurnya, harimau jawa, macan tutul, tikus, tulang banteng dll tercatat sebagai koleksi Keluarga Bartels yang kini berada di National Museum of Natural History (NMNH) Leiden. Berkat kegemarannya tersebut, beberapa nama burung, tikus dan tupai berhasil diidentifikasi berdasarkan koleksinya oleh karena itu nama Bartels (2)/Max (3) /Angeline (4) digunakan dalam nama latin satwa tersebut. Untuk menampung koleksinya tersebut MEG Bartels membangun sebuah museum koleksi di Pasir Datar, Sukabumi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

MEG Bartels meninggal pada tanggal 7 April 1936 dan dimakamkan di Pasir Datar sesuai surat wasiat yang disampaikan kepada anak sulungnya, Dr Max Bartels, yang mengharapkan dimakamkan berdekatan dengan museum dan pegunungan.

  • Hasil penelitian MEG Bartels

Hingga saat ini MEG Bartels tidak diketahui tingkat pendidikannya, namun ia menghasilkan jurnal jurnal ilmiah yang diterbitkan di Jerman maupun di Belanda. Tulisan ilmiahnya yang sangat berpengaruh bagi perkembangan burung di Pulau Jawa adalah ”Zur Ornis Javas” (1901) yang berisi katalog 239 spesies terutama dari Jawa Barat. Dari katalog spesies tersebut, Crithaga estherae Finsch, Caprimulgus bartelsi Finsch, dan Syrnium bartelsi Finsch dideskripsikan sebagai spesies baru oleh Finsch, ”Zur Lebens- und Nistweise Javanisches Vogel” (1903, 10 spesies dari Jawa Barat), ”Systematische Übersicht meiner Java-Vogel” (1906). Jurnal yang berhasil di tulis sepanjang tahun 1901 hingga 1923 sebanyak 19 jurnal.

Nama MEG Bartels diabadikan dalam beberapa nama satwa yakni :

  1. Bartels’ Nightjar (Caprimulgus pulchellus bartelsi Finsch, 1902),
  2. Burung Hantu Bartels, Bertels’s wood Owl Strix (Strix leptogrammica bartelsi Finsch, 1906),
  3. Burung Hantu (Syrnium bartelsi Finsch, 1906),
  4. Burung Kacamata Kuning, Yellow-bellied White-eye (Zosterops chloris maxi Finsch 1907),
  5. Tikus bartels, Bartels’s Spiny Rat (Maxomys bartelsii Jentink, 1910),
  6. Golden Winged Bat (Chtysopteron bartelsii Jentink 1910),
  7. Myotis formosus bartelsii Jentink 1910,
  8. Rattus bartelsii Jentink 1910,
  9. Sunda Mountain Shrew (Crocidura monticola Peters, 1870 sinonim dengan Crocidura Bartelsii Jentink 1910),
  10. Celepuk Jawa (Otus angelinae, Finsch, 1912),
  11. Elang Jawa, Javan Hawk Eagle (Spizaetus bartelsi , Stresemann,1924).
  12. Collocalia inexpectata bartelsi Stresemann sinonim dengan Collocalia francica bartelsi Stresemann
  13. Collocalia fuciphaga bartelsi , sub species dari Collocalia fuciphaga

  • Dr. Max Bartels (7 Juni 1902 - 6 Oktober 1943)

Dilahirkan di Pasir Datar, Sukabumi sebagai anak pertama dari MEG Bartels, ia dikenal telah menyukai berburu sejak kecil. Dr. Max Bartels mendapatkan pendidikan Eropa dan pada bulan Mei 1932 mendapatkan gelar Dr/PhD dari Bern Switzerland dalam bidang Zoology. Dr. Max Bartels menikah dengan seorang perempuan pribumi yang bernama Ipitsari A, dari hasil pernikahannya mendapatkan seorang putri bernama Helma Victoar Bartels atau Iece Maryati (16/11/1936) yang kini tinggal di Sukabumi.

Setelah menyelesaikan pendidikannya Dr. Max Bartels bergabung dengan Earns Bartels adiknya yang berkerja di perkebunan teh Tjiboeni di Gn Patuha Bandung Jawa Barat. Pada tahun 1932-1937, Dr. Max Bartels banyak berkolaborasi dengan HJV Sody (5), dan melakukan ekpedisi ke Gunung Ciremai, Gunung Lawu, dan Pananjung Pangandaran juga Nusakambangan. Pada periode ini Dr. Max Bartels menghasilkan seri Mamalia Pegunungan Jawa.

Dari hasil penelitiannya Max Bartel tercatat banyak menorehkan namanya pada Rodentia :

  1. Javan Giant Rat Rattus maxi Sody 1932 atau Sondamy maxi Sody 1932,
  2. Rattus bartelsi tjibuniensis Sody 1933,
  3. Hylomys suillus maxi Sody 1933,
  4. Ratus bartelsii obscuratus Bartels 1938,
  5. Tupai terbang Sumatera (Petaurista bartelsi Sody 1936),
  6. Max Bartels’s Shrew (Crocidura maxi Sody 1936),
  7. Rattus infraluteus maxi Bartels 1937,
  8. Hylopetes bartelsi Chasen 1939,

Dari hasil kolaborasi dengan Sody menghasilkan dua genus Rodentia yakni yakni Maxsomys dan Kadarsanomys. Selain itu Dr. Max Bartels juga memberi nama species tikus yang hanya hidup di Gunung Gede Pangrango dengan nama Rattus canus sodyi Bartels 1937 sebagai penghormatan kepada Sody setelah melakukan pendiskripsian jenis tikus ini dari koleksi milik Max Bartels Sr.

Selain itu, Dr. Max Bartels dan Sody juga bekerja sama dengan Dr. Sampurno Kadarsan, dan menghasilkan satu genus tikus arboreal yang hidup di bambu pada Gunung Gede Pangrango dengan nama Genus Kadarsanomys dan jenisnya adalah Kadarsanomys sody. Penelitian ini berdasarkan koleksi tikus yang dimiliki oleh Keluarga Bartels yang dikumpulkan dari Gunung Gede Pangrango. Kolaborasi ini merupakan kolaborasi unik dari tiga orang ilmuwan yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda yakni Dr. Max Bartels, seorang keturunan Belanda-Jerman yang dibesarkan di Jawa; Sody Seorang Belanda yang dibesarkan di Belanda; dan Dr. Sampurno Kadarsan seorang Java dengan pendidikan Eropa. Data mengenai Kadarsanomys sody sangatlah minim disinyalir hanya hidup di Gunung Gede Pangrango oleh karena itu jenis ini oleh IUCN dimasukan dalam Red List of Threatened Species.

Namun sepak terjang Dr. Max Bartels terhenti ketika Perang Dunia ke II terjadi dan melanda Indonesia.  Pada tahun 1941, di rumah yang berada di Cisureuh Sukabumi didatangi oleh tentara Jepang. Kedatangan tentara Jepang pada saat sore hari itu sangat singkat, dan Dr. Max Bartels tidak sempat mempersilahkan masuk dan hanya didepan pintu saja. Keesokan paginya, Dr. Max Bartels meninggalkan rumah dengan menggunakan delman menuju Camp tawanan perang Cimahi.

Sebelum dikirim menuju Burma untuk membangun Jalan Kereta Api, Dr. Max Bartels ditampung pada Prisoner-of-war camp (POW) Cimahi dan bertemu dengan Prof. Dr. Rudolf (Rudi) Willem Becking (6) (1922-2009) selama 8 bulan. Rudi menceritakan bahwa sebelum dikirim ke Burma Dr.Max Bartels mengalami depresi dan mengharapkan agar tidak dikirim menuju Burma, namun sayang pada pengiriman tawanan berikutnya Dr. Max Bartels dikirim ke Burma. Didalam kesaksiannya Rudi menyatakan bahwa Dr. Max Bartels menyerahkan seluruh hidupnya kepada Allah SWT apapun yang terjadi adalah terbaik untuknya. Dr. Max Bartels meninggal di Burma tanggal 6 Oktober 1942 dan dimakamkan pada Tempat Pemakaman Korban Perang Chungkai Burma. Ibu Ieuce yang pada saat itu masih berusia 5 tahun baru mengetahui bahwa ayahnya meninggal di Burma 50 tahun kemudian setelah salah seorang staff Palang Merah Internasional memberikan kalung prajurit Dr. Max Bartels. Dan pada tahun 1994, Ibu Ieuce dapat mengunjungi makam Dr. Max Bartels di Burma.

Selama di POW Cimahi, Dr. Max Bartels menceritakan seluruh pengalaman dalam penelitiannya ke Rudi termasuk koleksi telur yang dimilikinya dan pada saat itu berada di Museum Zoology Bogor (MZB) namun belum sempat diteliti lebih mendalam. Ketertarikan Rudi dalam meneliti telur koleksi Dr. Max Bartels membuat mereka merencanakan penelitian bersama jika perang telah usai.

Sepanjang perang, beberapa peneliti Belanda tetap bekerja untuk Jepang seperti ayah dan adik Rudi yakni Dr. Johannes Hendrik Becking sebagai Kepala Kehutanan Hindia Barat, dan Jan Hendrik (JH) Becking pada MZB. Peneliti lainnya yakni Dr. A Hoogerwerf, Dr. EG Van Steenis, HJV Sody juga bekerja pada MZB yang pada saat itu dirubah menjadi Dobutsu Hatsu Butsukan.

Atas anjuran Dr. A Hoogerwerf (7), pasukan Jepang “mengambil secara paksa” seluruh koleksi keluarga Bartels untuk di pindahkan ke Museum Zoologi Bogor (MZB) dengan alasan bahwa koleksi itu sangat dibutuhkan untuk proses pembuatan 3 buah buku tentang telur burung-burung di Kebun Raya dan Burung-Burung Cibodas, bukunya adalah De Avifauna van de Plantentuin te Buitenzorg (Java) 1949, De Avicfauna van Tjibodas en omgeving (1949) dan Een bijdrage tot de oologie van het eiland Java (1949). Pengambilan koleksi ini dilakukan bukan hanya satu kali namun berkali kali oleh Dr. A Hoogerwerf, termasuk ketika tahun 1946 ketika terjadi agressi militer Belanda ke II. Selain Dr. A. Hoogerwerf, Sody juga melakukan “penyelamatan” koleksi Bartels sepanjang tahun 1946 baik secara sendiri maupun ditemani oleh staf MZB.

Hampir seluruh koleksi dari keluarga Bartels saat ini telah berada NMNH Leiden yang berdasarkan keterangan Rudi bahwa khusus untuk koleksi telur dikirim ketika perang kemerdekaan pada tahun 1946, sedangkan secara keseluruhan dikirim pada tahun 1948 dan kemudian di catat di NMNH Leiden secara resmi tahun 1954. Koleksi keluarga Bertels tersimpan dalam beberapa ruangan khusus dalam 5 lantai di gedung NMNH Leiden sedangkan koleksi telur berada di gedung yang berbeda.

Untuk koleksi telur milik keluarga Bartels saat ini terjadi banyak pengakuan baik yang di lakukan oleh Dr. A Hoogerwerf maupun J.H. Becking. Berdasarkan pengakuan dari Becking bersaudara bahwa Dr. A Hoogerwerf telah membuat buku tentang telur yang berdasarkan koleksi Bartels dengan ilustrasi berwarna tanpa menyebut nama Dr. Max Bartels. Perselisihan ini juga diakui oleh Dr. A Hoogerwerf dalam suratnya kepada Ieuce anak dari Dr. Max Bartels bahwa ia telah dituduh oleh J.H. Becking pada bulan Februari 1969 mencuri hasil karya Dr. Max Bartels.

  • Koleksi Keluarga Bartels di NMNH Leiden

Berdasarkan penelusuran penulis ke NMNH Leiden pada tanggal 7 Desember 2010 mendapatkan keterangan bahwa sebagian besar koleksi Bartels tersimpan di NMNH Leiden termasuk catatan/note milik MEG Bartels dan Dr. Max Bartels seperti buku berjudul Aufzeichnungen jilid I sampai V, Javan Vogel yang berisi catatan expedisi dan pengamatan burung sebanyak 12 buku, Buku Harian dari tahun 1895-1928, Katalog Burung di Jawa sebanyak 9 jilid. Beberapa surat penting pun tersimpan seperti surat dari Hans Bartels tanggal 19 Juli 1983 yang menyatakan menyerahkan lukisan milik ibunya kepada NMNH Leiden.

Secara garis besar koleksi keluarga Bartels dapat berada di NMNH Leiden melalui tiga cara yakni :

  1. Dikirim secara langsung oleh MEG Bartels dan Dr. Max Bartels untuk diidentifikasi oleh para ahli taxonomi.
  2. Dibawa dan diserahkan oleh Ernst Bartels /Hans Bartels.
  3. Dibawa ketika masa agresi militer ke I dan ke II 1946-1949 oleh Dr. A. Hoogerwerf.

Namun berdasarkan keterangan A. Hoogerwerf, Rudy Becking dan Steven van der Mije (8), pada tahun 1954, seluruh koleksi yang ada NMNH telah “dibeli ” oleh NMNH dari Ernst dan Hans Bartels.

Pasir Datar lokasi dimana rumah dan museum keluarga Bartels tinggal saat ini termasuk dalam kawasan Taman Nasional Gn Gede Pangrango. Kondisi rumah tersebut hanya tersisa pondasi-pondasi, anak tangga teras rumah serta makam MEG Bartels yang sederhana. Tutupan lahan kawasan tersebut berupa pohon damar dan semak belukar. Akses menuju lokasi tersebut cukup baik, baik dari arah Sukabumi maupun Bogor, namun 4 km sebelum mencapai lokasi kondisi jalan berbatu dengan lebar 4 m dan cukup sulit dilalui oleh kendaraan roda empat yang tidak memiliki empat roda penggerak. Lokasi berdekatan dengan Obyek Wisata Situ Gunung dengan kondisi hutan yang cukup baik bagi pengamatan burung.

Sangat disayangkan koleksi keluarga Bartels yang sangat berharga dari kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia tersimpan di NMNH Leiden bukan di Indonesia padahal teknologi dan gedung penyimpanan yang berada di LIPI Cibinong saat ini berstandard internasional. Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Ieceu anak tunggal Dr Max Bartels, beliau mengharapkan agar kekayaan biodiversitas tersebut dapat dibawa ke Indonesia (LIPI) untuk kepentingan ilmu pengetahuan putra putri Indonesia, oleh karena diharapkan adanya upaya repatriasi koleksi Bartels ke Indonesia.

Repatriasi merupakan salah satu upaya untuk mengembalikan koleksi Bartels, upaya ini dapat dilakukan oleh pemerintah Indonesia dan juga dukungan Ibu Ieuce selaku ahli waris keluarga Bartels di Indonesia mengingat cara perpindahan koleksi Bartels tersebut yang tidak mengindahkan hak pemilik atau ahli waris. Tidak selamanya Repatriasi kekayaan Indonesia dari Negara lain berhasil namun usaha ini perlu dilakukan dan perlu didukung demi kemajuan ilmu pengetahuan Indonesia. Salah satu keberhasilan repatriasi adalah kembalinya Orang Hutan dari Thailand ke Indonesia.

[ teks © TNGGP 122011 | Ardi - red ]

  1. Penggiat Konservasi di  TNGGP
  2. Bartels dimodifikasi menjadi bartelsi/bartelsii banyak digunakan untuk nama burung, tikus dan tupai
  3. Max dimodifikasi menjadi maxi digunakan untuk nama latin tikus Bartels dan burung kacamata kuning dan Maxomys untuk genus rodentia.
  4. Angeline dimodifikasi angelinae adalah nama Istri MEG yang digunakan untuk nama latin burung hantu Jawa
  5. Seorang biolog professional yang berkontribusi bagi sejarah alam dan taxonomi untuk mamalia-mamalia Indonesia sepanjang decade 1940’s dalam Bemmel, A. C. V. Van, 1960. In memorian H. J. V. Sody. — Lutra, 2: 1-5, pi. 1.
  6. Rudi Becking adalah seorang  Belanda yang dilahirkan di Jawa, menjadi tawanan perang Jepang dan setelah Agustus 1945 Rudi melanjutkan study di Wageningen Belanda S2 dan Doktor pada University of Washington USA. Terakhir beliau adalah professor di Humboldt State University dan merupakan saudara kandung dari J.H. Becking penulis buku Henri Jacob Victor Sody, 1892-1959: His Life and Work .
  7. 1931 Andreas Hoogerwerf  adalah seorang peneliti Belanda, pada 1931 datang ke Jawa dan bekerja pada  Bogor Botanical Gardens/ Kebun Raya Bogor.  Dia ditunjuk sebagai Petugas Perlindungan Alam pada Kawasan Suaka Alam di Koloni Belanda hingga tahun 1935 terutama di Taman Nasional Ujung Kulon untuk konservasi Badak Jawa. Hoogerwerf kembali ke Belanda pada th 1957. http://en.wikipedia.org/wiki/Andries_Hoogerwerf diakses tanggal 7 Januari 2011
  8. Senior Collection Manager Mammal And Bird-NMNH Leiden


Article printed from Taman Nasional Gunung Gede Pangrango [National Park]: http://www.gedepangrango.org

URL to article: http://www.gedepangrango.org/keluarga-bartels-kisah-hidup-keluarga-penemu-elang-jawa-dari-pasir-datar-ciparay-sukabumi-sebuah-tragedi-ilmu-pengetahuan/

URLs in this post:
[1] Image: http://www.gedepangrango.org/wp-content/uploads/2011/12/dsc_7136.jpg

Hak cipta & copy; 2008 gedepangrango.org. Dilindungi undang-undang.