Taman Nasional Gunung Gede Pangrango [National Park]

The Oldest Tropical Mountain Rain Forest of Java

Depan » Artikel » Keberadaan Kukang Jawa di TNGGP


Keberadaan Kukang Jawa di TNGGP

27.2.10Hits 5.513 views|ArtikelCetak

Kukang Jawa di TNGGP

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Javan Slow Loris Conservation Project (2006) dari Universitas Indonesia maka diketahui bahwa populasi kukang di kawasan hutan TNGGP adalah sebagai berikut : dari 8 (delapan lokasi yang dijadikan tempat penelitian terdapat sekitar 15 jumlah kelompok kukang dengan jumlah individu sekitar 21 ekor.

Penelitian yang dilakukan oleh Pusat Studi Biodiversitas & Konservasi Universitas Indonesia PSBKUI bekerjasama dengan Kelompok Studi Hidupan Liar COMATA ini merupakan survey perdana bagi keberadaan kukang di TNGGP dan hanya meliputi lokasi di Resort Bodogol pada Bidang Pengelolaan TN Wilayah III Bogor. Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Jarot Arisona (2007) mengenai Studi Populasi, Perilaku Dan Ekologi Kukang Jawa (Nycticebus Javanicus Geoffroy, 1812) Di Kawasan Hutan Bodogol Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Jarot Arisona ini maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut sebagai data awal keberadaan Kukang Jawa (Nycticebus Javanicus Geoffroy, 1812) di kawasan TNGGP :
1. Survei kukang jawa di hutan Bodogol TNGGP dilakukan sebanyak 66 kali (29 kali di hutan primer & 37 kali di hutan sekunder).
2. Survei di hutan primer dilakukan pada tujuh jalur pengamatan sedangkan di hutan sekunder dilakukan pada enam jalur transek.
3. Pengulangan survei dilakukan sebanyak tiga sampai empat kali untuk setiap transek.
4. Kukang jawa tidak tersebar merata. Ada individu-individu yang hidup dalam satu daerah jelajah sendiri dan ada individu-individu yang daerah jelajahnya saling tumpang tindih (overlap) satu sama lain.
5. Kepadatan kukang jawa di hutan primer lebih rendah (4,29 individu/km2) dibandingkan dengan kepadatan kukang jawa di hutan sekunder (12,16 individu/km2).
6. Komposisi kukang jawa yang diteramati di hutan primer dan di hutan sekunder menunjukkan bahwa jumlah individu dewasa lebih banyak daripada individu muda.
7. Kukang jawa dapat dijumpai sebagai individu soliter maupun sebagai kelompok.
8. Setiap kelompok kukang yang dijumpai terdiri dari dua individu dengan komposisi masing-masing kelompok bervariasi yaitu pasangan yang terdiri atas 1 individu jantan dewasa dengan 1 individu betina dewasa atau pasangan yang terdiri atas 2 individu pradewasa atau betina dewasa dengan bayinya.
9. Kukang jawa lebih sering menunjukkan respon netral (58,33%) daripada respon negatif (41,67%). Hal tersebut dapat menjadi indikasi bahwa gangguan manusia di hutan Bodogol masih rendah.
10. Pola aktivitas kukang jawa di hutan primer berbeda nyata dengan pola aktivitas kukang di hutan primer.
11. Kukang betina lebih aktif daripada jantan.
12. Meski pergerakannya lambat, kukang memiliki berbagai macam posture pergerakan dengan persentase sebagai berikut, sit 24%, climb down 12%, sleeping ball 12%, quadropedal walk 10%, upside down quadropedal walk 10%, climb up 9%, quadropedal stand 6%, bridge 6%, quadropedal hang 5%, bipedal hang 4%, tripedal hang 2%.
13. Kukang jawa paling sering menggunakan ranting atau cabang berdiameter 5—10 cm (36,11%), selanjutnya ranting kecil berdiameter <1cm (25%), cabang atau batang berdiameter >10 cm (22,22%), ranting besar berdiameter 1—5 cm (13,89%), dan liana (2,76%).
14. Tingkat vegetasi yang digunakan adalah tingkat tiang diameter 5-35 cm (52,78%), pohon diameter >35cm (30,56%), dan pancang diameter 5-10 cm (16,67%).
15. Jenis pohon yang teramati digunakan kukang jawa untuk beraktivitas adalah Rasamala (Altingia excelsa), Pinus (Pinus perkusii), Pasang (Quercus lineata), Rotan (Calamus sp.), Mangong (Macaranga rhizinoides) dan Kaliandra (Caliandra calothryrsus).

Kukang Terancam Punah

Berdasarkan suvey dan monitoring yang dilakukan ProFauna sejak tahun 2000 hingga 2006, diperkirakan setiap tahunnya ada sekitar 6000 hingga 7000 ekor kukang yang ditangkap dari alam di wilayah Indonesia untuk diperdagangkan. Ini menjadi ancaman serius bagi kelestarian kukang di alam, mengingat perkembangbiakan kukang cukup lambat, yaitu hanya bisa melahirkan seekor anak dalam satu tahun setengah. Permasalahan lain adalah belum adanya data ilmiah yang pasti mengenai populasi liar kukang di alam. Kukang yang aktif di malam hari dengan pergerakannya yang lambat membuat sangat sulit untuk menemui kukang di alam. Anehnya para penangkap kukang dengan mudah bisa menemukan kukang di alam. Dikuatirkan tanpa disadari populasi kukang di alam akan turun drastis akibat penangkapan untuk diperdagangkan. Meski kukang telah dilindungi, namun upaya penegakan hukumnya mesti ditingkatkan. Perlindungan di tingkat internasional yang lebih ketat dengan memasukan kukang ke dalam apendix I CITES akan membantyu kukang untuk tetap lestari. Karena kukang telah dilindungi oleh undang-undang Republik Indonesia, maka sudah sepatutnya pemerintah Indonesia juga mendukung upaya menaikan status kukang untuk masuk dalam apendix I CITES. Dengan demikian perdagangan internasional kukang tidak akan boleh lagi hasil penangkapan dari alam.

[ teks & gambar © TNGGP | 022010 | lenni ]

Halaman: 1 2 3