Keanekaragaman Dan Pemanfaatan Paku (pteridophyta) Di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Cianjur.

Peneliti: Syafrudin, Yudi

Topik : Flora

Tahun : 2013

No. Pustaka:

Abstrak
Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat keanekaragaman hayati yan tinggi, sehingga dikenal sebagai salah satu megabiodiversiti country. Kawasan hutan Indonesia umumnya merupakan hutan hujan tropis. Hutan hujan tropis terkenal dengan keanekaragaman flora termasuk di dalamnya jenis paku-pakuan. Tumbuhan paku merupakan suatu divisi tumbuhan berkormus, artinya tubuhnya dengan nyata dapat dibedakan antara akar, batang dan daun, namun demikian, tumbuhan paku belum menghasilkan biji, sehingga reproduksinya masih melalui pembentukan spora, tetapi pada organ batangnya sudah terbentuk jaringan pengangkut. Oleh sebab itu ahli taksonomi mengelompokkan tumbuhan paku ke dalam tumbuhan vaskuler.
Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan pemanfaatan paku di Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Metode yang digunakan berupa metode survey sampling pada 3 ketinggian yang berbeda, yaitu 1600, 1900, 2200 m dpl.
Dari hasil penelitian diperoleh 56 spesies paku yang termasuk ke dalam 21 familia. Pada ketinggian 1600 m dpl Sellaginela wildonewi paling banyak ditemukan, yaitu sebanyak 52 individu, ketinggian 1900 m dpl jenis Davalia trichomanoides paling banyak ditemukan, yaitu sebayank 22 individu, dan pada ketinggian 2200 m dpl jenis Davalia pyxidata paling banyak ditemukan, yaitu sebanyak 45 individu. Frekuensi Relatif tertinggi pada ketinggian 1600 m dpl diperoleh pada jenis Nephrolepis cordifolia yaitu sebesar 15%, pada ketinggian 1900 yaitu Pityrogramma calomelanos dengan nilai sebesar 11%, pada ketinggian 2200 yaitu Davalia pyxidata dengan nilai sebesar 16%. Kerapatan Relatif tertinggi pada ketinggian 1600 yaitu Selaginella wildonewi dengan nilai sebesar 16%, pada ketinggian 1900 yaitu dengan nilai sebesar 14%, pada ketinggian 2200 yaitu dengan nilai sebesar 21%. Indeks Nilai Penting tertinggi pada ketinggian 1600 m dpl adalah Nephrolepis cordifolia dengan nilai sebesar 29%, pada ketinggian 1900 m dpl adalah Trichomanes teysmanii dengan nilai sebesar 24%, dan pada ketinggian 2200 m dpl yaitu davalia pyxidata dengan nilai sebesar 24%. Keanekaragaman pada ketinggian 1600 m dpl dan 1900 m dpl tergolong sedang yaitu dengan nilai 1,48 dan 1,02, sedangkan kenaekaragaman pada ketinggian 2200 m dpl keanekaragaman rendah dengan nilai sebesar 0,93.