Iskandar, Mukhlis. 2012. Analisis Kerapatan Vegetasi Menggunakan Teknik Penginderaan Jauh Sebagai Basis Evaluasi Kerusakan Hutan Di Taman Nasional Gunung Gede Pangrano. Semarang; Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang.

Peneliti: Mukhlis Iskandar

Topik : Flora

Tahun : 2012

No. Pustaka:

Abstrak
Ekosistem Taman Nasional Gunung Gede Pangrango terancam rusak dan menghadapi beberapa permasalahan yang terkait dengan sistem pengelolaan berdasarkan zonasi terutama di kawasanalih fungsi hutan produksi tetap dan hutan produksi terbatas. Perubahan tersebut disebabkan oleh perbedaan prinsip berdampak adanya program sumber daya alam bersama masyarakat (PHBM), pengambilan getah (damar dan pinus), tumpangsari, terjadi tindak pidana bidang kehutanan terutama pencurian kayu, pengarnagan dan perambahan. Pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah: 1) bagaimana tingkat kerapatan vegetasi di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, 2) bagaimana persebaran dan luasan kerusakan hutan di Taman Nasional tahun 1999, tahun 2005 dan tahun 2010 dengan menggunakan teknik penginderaan jauh. Penelitian ini bertujuan: 1) mengetahui tingkat kerapatan vegetasi, 2) mengetahui persebaran dan luasan kerusakan hutan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango tahun 1999, tahun 2005 dan tahun 2010 dengan menggunakan teknik penginderaan jauh.
Populasi dalam penelitian ini adalah kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Sampel didasarkan pada kelas kerapatan vegetasi yang berada di kawasan taman nasional. Ada dua variable dalam penelitian ini, yaitu: kerapatan vegetasi dengan nilai NDVI dan persebaran luasan kerusakan hutan. Teknik pengambilan sample ini berdasarkan proporsional area sampling. Data yang digunakan terdiri atas data primer yaitu data pengukuran lapangan dan data sekunder, data primer berupa data citra satelit landsat 1999, citra satelit landsat 7 ±ETM tahun 1999, citra satelit landsat 5 – TM tahun 2005, citra landsat 7 ±ETM tahun 2010, peta RBI wilayah penelitian tahun 2001 dari Bakosurtanal, peta topografi dari Jantop TNI-AD, data laporan kerusakan taman nasional dan data sekunder berupa pengukuran tingkat kerapatan vegetasi, persebaran luasan kerusakan hutan. Teknik pengumpulan data berdasarkan interpretasi peta dan citra penginderaan jauh, observasi lapangan, dan dukumentasi. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis NDVI dan analisis deskriptif yang memanfaatkan teknik penginderaan jauh dan Sistem Infromasi Geografis.
Hasil penelitian menunjukan bahwa Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango mengalami penurunan kerapatan vegetasi, berdasarkan kelas kerapatan vegetasi terbagi menjadi tiga kelas yaitu kerapatan vegetasi sangat rapat, rapat dan tidak rapat. Citra Landsat tahun 1999 mempunyai luas sangat rapat 23.748 Ha, rapat 1.096 Ha dan tidak rapat 69 ha. Landsat 2005 mempunyai luas sangat rapat 24.660 Ha, rapat 160 Ha dan tidak rapat 83 Ha. Citra Landsat 2010 memiliki luas sangat rapat 21.948 Ha, rapat 2.119 dan tidak rapat 196 Ha. Kelas kerusakan hutan yang ada di taman nasional hasil dari pengolahan citra satelit landsat 7 ±ETM tahun 2010 menghasilkan 3 kelas kerusakan hutan yaitu kerusakan berat, sedang, dan tidak rusak dengan nilai kisaran NDVI (Indeks Vegetasi). Perkembangan luasan kerusakan hutan pad ataman nasional meningkat hal itu bias dilihat dari perkembangan luasan dari tingkat kerusakan berat dengan kisaran nilai NDVI -1 sampai dengan 0.32 tahun 2010 mempunyai luas 196 Ha, tingkat kerusakan sedang dengan kisaran nilai 0.32 sampai dengan 0.42 mempunyai luasan 2.119 Ha, dan tingkat kerusakan tidak rusak dengan kisaran nilai 0.42 sampai dengan 1 mempunyai luas 21.948 Ha. Berdasarkan hasil interpretasi dan analisis sistem informasi geografis maka dapat diperoleh persebaran dan luasan kerusakan hutan pada tahun 2010. Wilayah yang mengalami kerusakan hutan meliputi beberapa Resort yang memiliki wilayah yang luas. Sedangkan luas hutan terbesar yang mengalami kerusakan hutan yaitu di Resort Nagrak sebesar 112 Ha, sedangkan luas hutan terkecil yang mengalami kerusakan yaitu di Resort Selabintana sebesar 38 Ha. Hasil uji keakuratan citra dihasilkan tingkat kesesuaian sebesar 84% dimana dari 95 lokasi uji kesesuaian terdapat 15 lokasi yang tidak sesuai.
Dapat disimpulkan bahwa kerusakan kawasan terjadi pada daerah penyangga sesuai interpretasi citra, persebaran yang terjadi terbesar di beberapa titik di kawasan daerah penyangga taman nasional, seperti terjadinya penebangan liar di daerah Ciambar Kabupaten Sukabumi, penambangan pasir yang semakin mengancam daerah penyangga taman nasional di daerah Cugenang Kabupaten Cianjur dan illegal loging yang semakin tinggi intensitasnya di Nagrak Kabupaten Sukabumi. Saran saya sebagai penulis adalah perlu adanya pengamanan dan tindakan tegas secara optimal untuk kawasan penyangga taman nasional serta terjalinnya komunikasi yang baik antara masyarakat dan petugas Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP)