Identifikasi Tipologi Masyarakat Desa Binaan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) telah melaksanakan kegiatan identifikasi tipologi masyarakat desa binaan pada tanggal 16 sampai 30 Mei 2017, identifikasi dilaksanakan untuk enam desa yang berbatasan langsung dengan kawasan dan merupakan desa binaan TNGGP. Sampai tahun 2017 Balai Besar TNGGP telah menetapkan dua desa binaan di masing-masing Bidang PTN Wilayah, yaitu Desa Cimacan dan Desa Gekbrong (Bidang PTN Wilayah I Cianjur), Desa Cihanyawar dan Desa Ambarjaya (Bidang PTN Wilayah II Sukabumi), serta Desa Pasir Buncir dan Desa Cileungsi (Bidang PTN Wilayah III Bogor).

Identifikasi tipologi masyarakat desa binaan ini didasarkan pada ikatan kekerabatan, hamparan wilayah, pola pemukiman, mata pencaharian, perkembangan desa, dan kegiatan desa. Selain itu, hasil dari kegiatan identifikasi tipologi masyarakat desa binaan diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan rencana pemberdayaan masyarakat desa yang berbatasan langsung dengan kawasan TNGGP.

Kegiatan ini dilaksanakan Penyuluh Kehutanan Balai Besar TNGGP dibantu beberapa petugas dari masing-masing resort dimana desa tersebut berada, juga aparat desa setempat. Sedangkan sasaran identifikasi yaitu masyarakat desa yang diwakili Kelompok Tani Hutan (KTH) yang dibentuk pada tahun 2016.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan identifikasi tipologi masyarakat desa binaan tidak terlepas dari bimbingan para pakar/ tenaga ahli. Pada kesempatan kali ini, Universitas Padjadjaran (Unpad) yang menjadi pakar/ tenaga ahli untuk kegiatan identifikasi tipologi desa. Kegiatan identifikasi tipologi masyarakat desa binaan dilaksanakan dengan metode Participatory Rural Appraisal  (PRA) sehingga sasaran dapat ikut berperan aktif dalam proses tersebut.

Sasaran identifikasi mengikuti kegiatan dengan penuh antusias, mereka mengemukakan ide/ pendapat, menggali serta memberikan informasi berupa potensi dan masalah, baik itu dilakukan secara lisan, tulisan, maupun gambar/ mapping. Berdasarkan informasi serta data yang telah dikemukakan dan digali sendiri oleh sasaran, mereka juga diarahkan untuk dapat merencanakan sendiri kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam KTH tersebut apa yang akan dikerjakan ke depannya dalam memanfaatkan potensi yang ada untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.

Wita Puspita Ningrum (Penyuluh Kehutanan – Balai Besar TNGGP)