Gangguan Satwa Liar Mamalia Besar Dan Nilai Kerugianya Di Daerah Penyangga Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Jawa Barat.

Peneliti: Suprapto

Topik : Flora

Tahun : 2000

No. Pustaka:

Abstrak
Penelitian ini diharapkan dapat mengetahui gangguan satwaliar terhadap kondisi fisik dan fsikologis penduduk di sekitar TNGP. Disamping itu juga ingin mengetahui gangguan satwaliar terhadap komoditas budidaya di sekitar taman nasional meliputi kerusakan taman budidaya, pemangsaan ternak dan ikan, serta nilai kerugiannya secara financial. Tujuan penenelitian ini secara umum adalah mengetahui nilai kerugian secara ekonomis terhadap kerusakan/pemangsaan komoditas budidaya yang di timbulkan oleh satwaliar TNGP di daerah penyangga dan secara khusus bertujuan mengetahui jenis satwa liar mamalia. mengetahui nilai kerugian secara ekonomis terhadap kerusakan/pemangsaan komoditas budidaya yang di timbulkan oleh satwaliar TNGP di daerah penyangga dan secara khusus bertujuan mengetahui jenis satwa liar mamalia. Besar penghuni taman nasional yang memasuki daerah penyangga, mengetahui keamanan gangguan fisik dan fsikologis penduduk akibat satwa liar yang keluar kawasan dan memasuki pemukiman dan sekitarnya, mengetahui besarnya kerusakan komoditas budidaya akibat gangguan satwa liar perkejadian gangguan dan waktu gangguan satwa liar dan gangguan satwa liar terhadap komoditas Budidaya. Data di analisis secara dekskriptif dengan tabulasi dan grafik, jenis satwa liar mamalia besar yang sering keluar dari kawasan TNGP adalah babi hutan (Sus scrofa), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), kijang (Muntiacus muntjak), macan tutul (Panthera pardus), musang (Paradoxurus hermaprodictus), dan sero berang-berang (aonyk cinerea). Keluarnya satwa liar di duga karena daerah jelajahnya telah berubah menjadi lahan budidaya dan  pemukiman di sekitar kawasan TNGP. Penilaian responden atas gangguan satwaliar secara umum yaitu 69.48 % (menggangu), 14.85 % (tidak mengganggu) dan 16.44 % (tidak tahu). Berdasarkan presentasi ini, menunjukan bahwa hadirnya satwaliar di sekitar pemukiman dapat mengganggu keamanan penduduk baik secara fisik maupun psikologis. Dampak fisik yang di maksud adalahterlukanya penduduk oleh serangan satwa liar. Dampak psikologis yang di maksud yaitu hilangnya rasa aman penduduk untuk menjalankan pekerjaan sehari-hari dan rasa resah/ takut yang penduduk alami jika melihat atau mendengar satwaliar tadi di daerah penyangga. Penilaian responden terhadap gangguan satwaliar secara lebih rinci berdasarkan jenis pertanyaan dan jenis satwaliar adalah satwaliar yang pernah melukai penduduk di sekitar TNGP yaitu babi hutan (5.06%), satwaliar yang menyebabkan penduduk menghentukan pekerjaannya sehari-hari bila melihat/mendengar satwaliar memasuki daerah penyangga adalah macan tutul (68.54%), sedangkan satwaliaryang menyebabkan penduduk merasa takut dan was-was bila satwaliar memasuki daerah penyangga TNGP adalah macan tutul (96.24%) dan monyet ekor panjang (44.60%). Selama penelitian, babi hutan merupakan satwaliar yang lebih banyak menimbulkan kerusakan komoditas pertanian seperti tanaman padi sawah, padi ladang, jagung, singkong dan pisang dengan nilai kerugian ± sebesar Rp. 15.863.192,-. Nilai kerugian terbesar berikutnya ditimbulkan oleh musang yang memangsa ikan sebesar Rp. 5.330.375,-. Nilai kerugian ekonomis yang berbeda-beda, disebabkan perbedaan frekuensi serangan satwa liar terhadap komoditas budidaya. Penyebab perbedaan nilai ekonomis lainnya adalah topografi tepi batas kawasan TNGP, penutupan vegetasi tepi batas TNGP, jarak jangkauan satwa liar (jarak kejadian), jumlah satwa liar setiap kejadian gangguan dan wakttu kejadian gangguan. Pengendalian gangguan satwa liar terhadap komoditas budidaya dapat dilakukan pihak pengelola TNGP dan penduduk di sekitarnya adalah pemagaran, saluran, parit dan selokan, zona penyangga, pola ganti rugi, penempatan lokasi tanam yang jauh dari hutan, pengubahan jenis-jenis komoditas yang ditanam yaitu jenis tanaman yang tidak disukai oleh satwa liar dan menjaga lahan garapan serta menghalau satwaliar ke dalam kawasan taman nasional menjelang musim panen.