<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Taman Nasional Gunung Gede Pangrango [National Park]</title>
	<atom:link href="http://www.gedepangrango.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gedepangrango.org</link>
	<description>The Oldest Tropical Mountain Rain Forest of Java</description>
	<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 07:31:07 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Rencana Umum Pengadaan Barang dan Jasa TNGGP TA 2012</title>
		<link>http://www.gedepangrango.org/rencana-umum-pengadaan-barang-dan-jasa-tnggp-ta-2012/</link>
		<comments>http://www.gedepangrango.org/rencana-umum-pengadaan-barang-dan-jasa-tnggp-ta-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 07:31:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gedepangrango.org/?p=2822</guid>
		<description><![CDATA[Satuan Kerja Balai Besar Taman Nasional Gn Gede Pangrango Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam yang berkedudukan di Jalan Raya Cibodas Cipanas-Cianjur melalui DIPA APBN BA.29 tahun anggaran 2012 akan merencanakan pelaksanaan kegiatan Pengadaan Barang dan Jasa, dengan paket-paket pekerjaan sebagai berikut :dapat di lihat di SINI 
Demikian Pengumuman ini disampaikan, dan sewaktu-waktu masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span>Satuan Kerja Balai Besar Taman Nasional Gn Gede Pangrango Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam yang berkedudukan di Jalan Raya Cibodas Cipanas-Cianjur melalui DIPA APBN BA.29</span><span> </span><span>tahun anggaran 2012 akan merencanakan pelaksanaan kegiatan Pengadaan Barang dan Jasa, dengan paket-paket pekerjaan sebagai berikut :</span>dapat di lihat di <a href="http://www.gedepangrango.org/wp-content/uploads/2012/01/surat_rencana_kerja_pengadaan_2012_2.pdf">SINI </a></p>
<p><span>Demikian</span><span lang="EN-US"> Pengumuman ini</span><span lang="EN-US"> </span><span>disampaikan,</span><span lang="EN-US"> dan sewaktu-waktu masih dapat berubah sesuai dengan kebutuhan. Untuk lebih jelasnya dapat menghubungi panitia /pejabat pengadaan Balai </span><span lang="EN-US"> </span><span lang="EN-US">Besar TNGGP</span><span>. </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gedepangrango.org/rencana-umum-pengadaan-barang-dan-jasa-tnggp-ta-2012/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Penutupan sementara obyek wisata alam Air terjun Cibereum - Cibodas</title>
		<link>http://www.gedepangrango.org/penutupan-sementara-obyek-wisata-alam-air-terjun-cibereum-cibodas/</link>
		<comments>http://www.gedepangrango.org/penutupan-sementara-obyek-wisata-alam-air-terjun-cibereum-cibodas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 08:10:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gedepangrango.org/?p=2816</guid>
		<description><![CDATA[Sehubungan dengan informasi pemantauan cuaca dari BMG dan LAPAN pada daerah Jawa Barat pada akhir bulan Januari hingga awal Februari 2012 yang diperkirakan akan mengalami cuaca ekstrim (potensi hujan lebat disertai kilat/ petir dan angin kencang serta dengan beberapa kejadian kecelakaan yang terjadi pada pengunjung dan kejadian bencana alam (longsor) pada seminggu terakhir di kawasan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span>Sehubungan dengan informasi pemantauan<span> </span>cuaca dari BMG dan LAPAN pada daerah Jawa Barat pada akhir bulan Januari hingga awal Februari 2012 yang diperkirakan akan mengalami cuaca ekstrim (potensi hujan lebat disertai kilat/ petir dan angin kencang serta dengan beberapa kejadian kecelakaan yang terjadi pada pengunjung dan kejadian bencana alam (longsor) pada seminggu terakhir di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, maka dengan ini dikeluarkannya surat keputusan dari Kepala Balai Besar TNGGP Nomor: SK.27/11-TU/3/2012 tentang penutupan sementara objek wisata alam air terjun Cibereum dalam rangka antisipasi cuaca ekstrim di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dari tanggal 25 Januari s.d 8 Februari 2012.<span id="more-2816"></span></span></p>
<p><span>Untuk selengkapnya bisa dibaca disini :</span></p>
<p><a href="http://www.gedepangrango.org/wp-content/uploads/2012/01/pdf116.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-2818" title="pdf116" src="http://www.gedepangrango.org/wp-content/uploads/2012/01/pdf116.jpg" alt="" width="120" height="140" /></a></p>
<p><a href="http://www.gedepangrango.org/wp-content/uploads/2012/01/pdf117.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-2819" title="pdf117" src="http://www.gedepangrango.org/wp-content/uploads/2012/01/pdf117.jpg" alt="" width="120" height="140" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gedepangrango.org/penutupan-sementara-obyek-wisata-alam-air-terjun-cibereum-cibodas/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Selama 12 Tahun Penutupan Hutan TNGGP Semakin Membaik</title>
		<link>http://www.gedepangrango.org/selama-12-tahun-penutupan-hutan-tnggp-semakin-membaik/</link>
		<comments>http://www.gedepangrango.org/selama-12-tahun-penutupan-hutan-tnggp-semakin-membaik/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jan 2012 13:31:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gedepangrango.org/?p=2728</guid>
		<description><![CDATA[Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) merupakan salah satu dari taman nasional tertua di Indonesia dan termasuk kedalam 21 Taman Nasional Model yang ditetapkan oleh Menteri Kehutanan. Saat ini TNGGP merupakan perwakilan hutan hujan pegunungan di pulau Jawa yang paling utuh, untuk itu diperlukan upaya khusus untuk mengetahui keutuhan dan atau kelestarian TNGGP.
Untuk mengetahui keutuhan kawasan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoTitle"><a href="http://www.gedepangrango.org/wp-content/uploads/2012/01/tutupan-lahan.jpg"><img class="size-medium wp-image-2729 alignleft" style="margin: 2px;" title="tutupan-lahan" src="http://www.gedepangrango.org/wp-content/uploads/2012/01/tutupan-lahan-240x148.jpg" alt="" width="192" height="118" /></a></p>
<p class="MsoTitle">Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) merupakan salah satu dari taman nasional tertua di Indonesia dan termasuk kedalam 21 Taman Nasional Model yang ditetapkan oleh Menteri Kehutanan. Saat ini TNGGP merupakan perwakilan hutan hujan pegunungan di pulau Jawa yang paling utuh, untuk itu diperlukan upaya khusus untuk mengetahui keutuhan dan atau kelestarian TNGGP.</p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-2728"></span><span>Untuk mengetahui keutuhan kawasan TNGGP diperlukan sebuah pemetaan landuse dari tahun ke tahun dengan teknik interpretasi Citra dan pembuktian melalui sample lapangan.</span><span lang="EN-US">Dengan demikian dike</span>tahui dinamika tutupan lahan dan perubahannya dari tahun ke tahun selama 12 tahun (dari 1999 s/d 2011). Pemetaan tutupan lahan dilakukan dengan melakukan klasifikasi terhadap Citra Landsat TM 7 tahun 1999, 2003, 2006 dan 201<span lang="EN-US">1</span>. Setelah dilakukan klasifikasi maka dilakukan penghitungan luas dan analisa luasan. Adapun cara klasifikasi tutupan lahan adalah sebagai berikut:</p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>a. Pemulihan Citra (<em>image restoration</em>)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pemulihan citra merupakan prosedur operasi yang bertujuan untuk memperoleh data permukaan bumi sesuai dengan aslinya atau tanpa distorsi (Purwadhi 2001). Adapun langkah yang dikakukan meliputi koreksi geometri yang bertujuan untuk memperbaiki distorsi geometri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong>b. Pemotongan citra (<em>subset image</em>)</strong></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pemotongan citra bertujuan untuk membatasi wilayah, yaitu dengan memotong batas wilayah mengunakan peta batas Taman Nasional dengan menggunakan Software ArcGis 9.3.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong>c. Klasifikasi citra (<em>image classification</em>)</strong></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pada proses ini tiap piksel dievaluasi dan ditetapkan pada suatu kelompok informasi. Pembagian kelas klasifikasi dibuat berdasarkan kondisi penutupan lahan di lapangan dan dibatasi menurut kebutuhan pengklasifikasian. Klasifikasi merupakan tahap dimana citra satelit diklasifikasikan dengan teknik <em>supervised classification </em>sehingga diperoleh peta penutupan lahan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dilakukan ground check terhadap klasifi</span><span lang="EN-US">k</span><span>asi yang telah dilakukan, terutama pada titik-titik yang meragukan seperti semak belukar, lahan terbuka, bayangan awan dan bayangan dari lembah serta spektrum warna-warna lain yang tidak dapat di prediksi.</span><span> </span><span>Dihitung perubahan luasan lahan dan kemudian dilakukan analisa pixel. Untuk Citra landsat TM7, setiap pixel mewakili luas 900 m<sup>2</sup> dilapangan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Tabel 1</span><span>. Luasan Tutupan Lahan /Landuse TNGGP tahun 1999, 2003, 2006, 2011 adalah </span></p>
<p><span style="font-size: xx-small; font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><span style="line-height: normal;"><a href="http://www.gedepangrango.org/wp-content/uploads/2012/01/tabel.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-2733" title="tabel" src="http://www.gedepangrango.org/wp-content/uploads/2012/01/tabel-240x83.jpg" alt="" width="240" height="83" /></a></span></span></p>
<p class="MsoNormal">Tutupan Lahan berdasarkan hasil klasifikasi terlihat bahwa luasan Hutan Primer dan Hutan Sekunder adalah relatif stabil sejak 1999-2011 berkisar <span lang="EN-US">kurang lebih </span>18.000 ha<span lang="EN-US"> atau 80% dari total luasan TNGGP</span>. Untuk semak belukar dalam kenyataannya berupa tumbuhan/tanaman muda, paku anam, dan lain sebaginya terus meningkat, hal ini menunjukan bahwa proses rehabilitasi lahan sejak tahun 2004 telah terlihat makin baik. Hal ini diperkuat dengan kondisi areal terbuka yang terus berkurang sejak tahun 1999 seluas 1.707,74 ha menjadi seluas 983,39 ha pada tahun 2011. Pemulihan kawasan terlihat jelas pada areal kebakaran tahun 1997 di puncak Gunung Geger yang terus mengalami pemulihan menjadi semak belukar, termasuk di areal Adopsi Pohon di Sarongge, juga rehabilitasi lahan di daerah Nagrak dan Pasir Hantap. Areal terbuka permanen di TNGGP pada kenyataannya adalah Alun-alun Suryakencana, Puncak Pangrango, Kawah Gede, dan Bumi Perkemahan, sedangkan areal terbuka yang temporal dan cenderung melakukan pemulihan adalah areal alih fungsi dari Perum Perhutani ke hutan Konservasi. Hasil klasifikasi ini dapat dijadikan acuan dalam program pengembangan Restorasi Kawasan TNGGP kedepan.</p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://www.gedepangrango.org/wp-content/uploads/2012/01/klas_11_kcl.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-2730" style="border-image: initial; margin: 2px; border: 2px solid black;" title="klas_11_kcl" src="http://www.gedepangrango.org/wp-content/uploads/2012/01/klas_11_kcl-240x169.jpg" alt="" width="240" height="169" /></a></p>
<p class="MsoNormal">Hal-hal yang dapat mengurangi tingkat keakuratan data berupa awan, bayangan awan, waktu pengambilan citra juga cahaya matahari, mengingat hal tersebut maka data tahun 2003 kurang begitu akurat. Data tahun 2003 dengan jumlah Tidak Ada Data/Awan paling tinggi, selain itu kedudukan awan paling banyak di wilayah nagrak yang merupakan basis areal perambahan, dengan demikian untuk pengukuran Open Area tahun 2003 tidak dapat dijadikan acuan.</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa : </span></p>
<p class="MsoNormal">
<ol>
<li><span lang="EN-US">Tutupan lahan sejak tahun 1999-2011 untuk hutan primer dan sekunder relatif stabil yakni rata-rata 18.000 ha atau 80% dari total luasan.</span></li>
<li><span lang="EN-US">Untuk semak belukar jumlahnya terus meningkat, hal ini menunjukan bahwa proses rehabilitasi lahan sejak tahun 2004 telah terlihat makin baik.</span></li>
<li><span lang="EN-US">Areal terbuka terus berkurang sejak tahun 1999 seluas 1.707,74 ha dan menjadi 983,39 ha pada tahun 2011.</span></li>
<li><span lang="EN-US">Pemulihan kawasan alami terlihat jelas pada areal kebakaran tahun 1997 di puncak Gunung Geger, areal Adopsi Pohon di Sarongge, juga rehabilitasi lahan di daerah Nagrak dan Pasir Hantap.</span></li>
</ol>
<p><span lang="EN-US">Rekomendasi dari kegiatan berupa </span>Monitoring dan Evaluasi tutupan lahan sangat diperlukan untuk mengetahui keberhasilan restorasi dan management pengelolaan taman nasional, oleh karena kegiatan seperti ini dapat dijadwalkan setiap 3 tahun sekali<span lang="EN-US">, selain itu p</span>embangunan fasilitas wisata, sarana perlindungan, juga distribusi jumlah personil TNGGP hendaknya mengacu pada <span lang="EN-US">hasil kajian seperti ini.</span></p>
<p><span>[ teks © TNGGP 012012 | P3- red ]</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gedepangrango.org/selama-12-tahun-penutupan-hutan-tnggp-semakin-membaik/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Penandatanganan Perjanjian Kerjasama antara Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dengan Kejaksaan Negeri Cibinong</title>
		<link>http://www.gedepangrango.org/penandatanganan-perjanjian-kerjasama-antara-balai-besar-taman-nasional-gunung-gede-pangrango-dengan-kejaksaan-negeri-cibinong/</link>
		<comments>http://www.gedepangrango.org/penandatanganan-perjanjian-kerjasama-antara-balai-besar-taman-nasional-gunung-gede-pangrango-dengan-kejaksaan-negeri-cibinong/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 19:26:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gedepangrango.org/?p=2723</guid>
		<description><![CDATA[Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) merupakan salah satu taman nasional tertua di Indonesia dengan luasan saat ini adalah 22.851,03 ha. TNGGP terletak di 3 (tiga) kabupaten yakni Cianjur, Sukabumi dan Bogor merupakan perwakilan hutan tropis pegunungan Pulau Jawa yang paling utuh dengan potensi keanekaragaman hayati yang tertinggi di Jawa. Selain keanekaragaman hayati flora dan fauna, TNGGP [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) merupakan salah satu taman nasional tertua di Indonesia dengan luasan saat ini adalah 22.851,03 ha. TNGGP terletak di 3 (tiga) kabupaten yakni Cianjur, Sukabumi dan Bogor merupakan perwakilan hutan tropis pegunungan Pulau Jawa yang paling utuh dengan potensi keanekaragaman hayati yang tertinggi di Jawa. Selain keanekaragaman hayati flora dan fauna, TNGGP juga menghasilkan potensi jasa lingkungan yang tinggi seperti air, karbon, dan bentang alam sebagai objek wisata. Khusus potensi air,  TNGGP memiliki peranan penting mengingat TNGGP merupakan hulu dari 3 (tiga) Daerah Aliran Sungai (DAS) yakni DAS Citarum, DAS Cimandiri, DAS Cisadane dan DAS Ciliwung yang menghasilkan 213 milyar liter air pertahun. <span id="more-2723"></span> Sehingga secara langsung maupun tidak langsung TNGGP bermanfaat bagi lebih dari 30 juta penduduk di wilayah Bogor, Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).</p>
<p class="MsoNormal">Namun sayangnya tekanan terhadap TNGGP juga semakin besar terutama perambahan kawasan, penguasaan kawasan dari berbagai pihak baik dari oknum masyarakat maupun instansi lainnya serta tingginya penggunaan kawasan hutan untuk pembangunan, maka diperlukan upaya pengamanan dan perlindungan kawasan baik oleh Balai Besar (BB) TNGGP maupun dengan instansi penegak hukum dimana salah satunya adalah Kejaksaan Negeri Cibinong.</p>
<p class="MsoNormal">Tanggal 29 Desember 2011 bertempat di Gedung PHKA Jl. Juanda 15 Bogor merupakan tonggak sejarah baru dalam upaya penegakan hukum di Kementerian Kehutanan, dimana telah ditandatangani Perjanjian Kerjasama antara BB TNGGP dengan Kejaksaan Negeri Cibinong tentang Penanganan Masalah Hukum Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara (TUN) dengan nomor: 496/11-TU/2/2011 - B.5112/02.33/GS/12/2011. Maksud perjanjian kerjasama ini adalah mengisi kesenjangan kewenangan pada BB TNGGP dalam mewujudkan percepatan penanganan permasalahan hukum di TNGGP. Sedangkan tujuan kerjasama ini adalah dalam upaya penyelesaian permasalahan hukum di bidang Perdata dan Tata Usaha Negara yang dihadapi BB TNGGP baik di dalam maupun di luar pengadilan<span lang="EN-US"> serta s</span>inergi lembaga penegak hukum dalam penyelesaian kasus-kasus hukum kehutanan dan konservasi sehingga hak-hak negara atas hutan dan hasil hutan terjaga. Ruang lingkup kerjasama ini <span lang="EN-US">berupa </span>bantuan hukum, pertimbangan hukum dan tindakan hukum lainnya di bidang perdata dan tata usaha negara.</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Kerjasama ini tentunya menguntungkan kedua belah pihak dimana </span>BB <span lang="EN-US">TNGGP dalam menghadapi masalah hukum dibidang perdata dan TUN maka dapat memberikan kuasa kepada Kejaksaan Negeri Cibinong untuk mewakili </span>BB <span lang="EN-US">TNGGP baik yang bersifat litigasi maupun yang bersifat non litigasi, dengan demikian Kejaksaan Negeri Cibinong dapat mewujudkan peran dan fungsi kejaksaan di bidang Perdata dan dalam memberikan bantuan dan pelayaan hukum terhadap Negara/Pemerintah khususnya </span>BB <span lang="EN-US">TNGGP.</span><span lang="EN-US"> </span><span lang="EN-US">Naskah Perjanjian Kerjasama ini merupakan payung hukum dan sekaligus titik awal untuk langkah-langkah hukum tahap berikutnya yakni Surat Kuasa Khusus apabila BB</span><span lang="EN-US"> </span><span lang="EN-US">TNGGP menghadapi masalah dibidang perdata dan TUN</span> khususnya di wilayah admistratif Bogor, dan selanjutnya akan dikembangkan kerjasama ke wilayah administratif lainnya yaitu Cianjur dan Sukabumi.</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Semoga dengan Perjanjian Kerjasama ini upaya-upaya </span>BB <span lang="EN-US">TNGGP selama ini dalam menjaga keutuhan dan potensi kawasan T</span>N<span lang="EN-US"> Gunung Gede Pangrango dapat lebih terjamin demi kepentingan masyarakat lebih luas.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>[ teks © TNGGP 012012 | P3- red ]</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gedepangrango.org/penandatanganan-perjanjian-kerjasama-antara-balai-besar-taman-nasional-gunung-gede-pangrango-dengan-kejaksaan-negeri-cibinong/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Gunung Gede-Pangrango National Park : The Most Visited National Park in Indonesia</title>
		<link>http://www.gedepangrango.org/gunung-gede-pangrango-national-park-the-most-visited-national-park-in-indonesia/</link>
		<comments>http://www.gedepangrango.org/gunung-gede-pangrango-national-park-the-most-visited-national-park-in-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 00:22:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuswandono</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<category><![CDATA[Gunung Gede Pangrango]]></category>

		<category><![CDATA[Taman Nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gedepangrango.org/?p=2690</guid>
		<description><![CDATA[Because of its easy access, the Mount  Gede-Pangrango National Park with its spectacular panorama is a  favourite site with visitors.  Located in the province of West Java this  Park encompasses the peaks of Mt. Gede, Mt. Pangrango.  Around these  peaks are tea plantations, recreation parks, waterfalls, hot springs,  lakes and [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class=" alignleft" style="margin: 2px;" title="vv" src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/_big_paper-article3166-img4154_Pangrango1.jpg" alt="vv" width="185" height="156" /></p>
<p style="text-align: justify;">Because of its easy access, the Mount  Gede-Pangrango National Park with its spectacular panorama is a  favourite site with visitors.  Located in the province of West Java this  Park encompasses the peaks of Mt. Gede, Mt. Pangrango.  Around these  peaks are tea plantations, recreation parks, waterfalls, hot springs,  lakes and accommodation facilities within the park as around its  periphery. The Park was declared nature conservation area in 1889,  although prior to this the Cibodas Botanical Gardens was already  established here in 1830, where cinchona (quinine) and coffee were first  cultivated to become Java’s most prominent exports in the 19th  century.<span id="more-2690"></span><br />
Most notable about the Gede-Pangrango Park are its  three very distinct ecosystems: a sub-montane ecosystem (1,000 m to  1,500 m altitude), a montane ecosystem (1,500 m - 2,400 m) characterized  by large tall trees, and a sub-alpine ecosystem (2,400 m. and higher),  characterized by grassy meadows where the Java edelweiss grows in  abundance. It also has a savanna as well as marshland ecosystems.</p>
<p style="text-align: justify;">In 1977 UNESCO declared the Gunung Gede-Pangrango National Park a <a href="http://ekowisata.org/cagar-biosfer/" target="_blank">Biosphere Reserve</a>.</p>
<p style="text-align: justify;">Today  the Gunung Gede-Pangrango National Park covers 22.851,03 hectares that  include Cibodas, Cimungkat, the Gunung Gede-Pangrango Reserve , the  Situgunung recreation area, and the forests on the slopes centered on  two volcanoes. These are Mt. Gede, (2,958m ) with its gaping crater and  fumaroles, and  Mt. Pangrango (3,019 m). The two are connected by a high  saddle at 2,500 m above sea level.</p>
<p style="text-align: left;">For more information on eco-tours in Indonesia, please open <a href="http://www.indonesiaecotravel.com/" target="_blank">www.indonesiaecotravel.com</a></p>
<p style="text-align: left;"><span style="color: #808080;">[source: <a href="http://www.indonesiaecotravel.com/" target="_blank">www.indonesiaecotravel.com</a> | <a title="kus" href="http://www.facebook.com/kuswandono.tedjosiswojo" target="_blank">kus</a>]</span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.indonesiaecotravel.com/" target="_blank"></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gedepangrango.org/gunung-gede-pangrango-national-park-the-most-visited-national-park-in-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menikmati Pesona Bawah Laut Tulamben</title>
		<link>http://www.gedepangrango.org/menikmati-pesona-bawah-laut-tulamben/</link>
		<comments>http://www.gedepangrango.org/menikmati-pesona-bawah-laut-tulamben/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 09:45:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kuswandono</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gedepangrango.org/?p=2669</guid>
		<description><![CDATA[NEGERI “Para Dewa” ini memang tak akan pernah habis untuk  diceritakan. Pesona alamnya yang begitu indah, serta ragam budayanya,  membuat Bali selalu menarik untuk diceritakan. Bali adalah “surga’ yang membuat kita selalu rindu. Rindu untuk kembali menjelajahi seluruh  persona budaya dan alamnya.
Atas undangan Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan  Konservasi dan Hutan Lindung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" style="margin: 2px;" title="nn" src="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/393287_201211783299463_187924827961492_414352_156378076_n.jpg" alt="mm" width="296" height="100" /></p>
<p>NEGERI “Para Dewa” ini memang tak akan pernah habis untuk  diceritakan. Pesona alamnya yang begitu indah, serta ragam budayanya,  membuat Bali selalu menarik untuk diceritakan. Bali adalah “surga’ yang membuat kita selalu rindu. Rindu untuk kembali menjelajahi seluruh  persona budaya dan alamnya.</p>
<p>Atas undangan <a href="http://jasling.dephut.go.id/" target="_blank">Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan  Konservasi dan Hutan Lindung</a> (PJLK2HL), Kementerian Kehutanan, Liputan  ekowisata kali ini berbeda dari biasanya. <em>TROPIS</em> berkesempatan meliput  langsung kegiatan dan pemanfaatan jasa Iingkungan di area Taman Nasional  dan Cagar Alam yang ada di Pulau Dewata ini. Melihat, bagaimana sebuah  konsep wisata dikemas, menjadi sebuah kegiatan pariwisata yang indah dan  beda dari biasanya.</p>
<p><span id="more-2669"></span></p>
<p>Bersama dengan Direktur (PJLK2HL), Sumarto Suharno, dan Kasubdit  Pemanfaatan Jasa Lingkungan, Puspa Dewi Liman, kami menuju Bali dengan  pesawat Garuda. Bersyukur kali ini Garuda tidak delay dan tepat waktu.  Setelah menempuh waktu penerbangan sekitar satu setengah jam, kami tiba  di Bandara Ngurah Rai, Bali. Dari situ kami segera menuju Hotel Puri  Ayu, yang terletak di salah satu pojok kota Denpasar. Hotel ini menjadi  tempat kami bermalam di Denpasar.</p>
<p>Beristirahat sejenak, tak sampai sepuluh menit, kami diajak Sumarto,  menikmati makan malam. Malam itu kami menikmati sajian ayam Taliwang,  yang kami temui tak jauh dari hotel tem pat kami menginap. Makan  berempat, dengan Sumarto, Puspa Liman, dan Djati Wicaksono, Kepala Balai  Besar Taman Nasional Teluk Cendrawasih. Selesai menyantap hidangan ayam  Taliwang yang terkenal lezat dan pedas itu, kami bergegas kembali ke  hotel, untuk akhirnya terlelap dalam tidur malam yang nyenyak.</p>
<div class="mceTemp">
<dl class="wp-caption alignright" style="width: 216px;">
<dt class="wp-caption-dt"><img title="nn" src="http://ekowisata.org/wp-content/uploads/2011/12/tulamben2-206x300.jpg" alt="vv" width="206" height="300" /></dt>
</dl>
</div>
<p>Di Pulau Dewata ini, obyek wisata yang pertama kami kunjungi adalah  Tulamben. Sekitar pukul 10 waktu Bali, kami meninggalkan Hotel Puri Ayu.  Sepanjang perjalanan menuju Tulamben, terhampar sawah-sawah indah  bertingkat khas Bali. Meski musim kemarau, sawah di Bali terlihat tidak  mengalami kekeringan. Wajar saja, lantaran Bali sudah sejak dulu  mempunyai sistem pengairan air yang baik atau dikenal dengan istilah  SUBAK.</p>
<p>Menjelang siang, kami mampir makan di sebuah rumah makan, yang khas  menyajikan makanan serba ikan. Mampir di sebuah tempat bernama  “pesinggahan klunghkung”. Kami menikmati sajian sate lilit, pepes ikan,  dan sajian khas ikan lainnya. Selera makan pun bertambah dengan sambal  mata, sambal khas Bali yang mirip dengan sambal dabu-dabu-nya Manado.</p>
<p>Perjalanan dilanjutkan. Sepanjang jalan kami menikmati pesona laut  Bali yang begitu mempesona. Mendekati Tulamben, di kiri-kanan jalan,  kami menemukan sisa-sisa bongkahan lahar yang sudah mengeras, bekas  lahar Gunung Agung, yang meletus pada tahun 1963. Diantara tanah-tanah  tandus itu, terdapat kumpulan ilalang kuning yang begitu menggoda mata,  yang belum pernah saya temui di daerah lain.</p>
<p>Menjelang pukul 12.00 WITA, kami akhirnya sampai di Tulamben. Malam  ini kami menginap di Puri Nyoman Madha. Kamipun dimanjakan dengan pesona  laut Tulamben yang begitu menawan. Lantaran letak kamar langsung  menghadap laut, saya dapat melihat deburan ombak yang memecah di pantai.</p>
<p>Matapun seakan terpesona dengan keindahan laut Tulamben yang begitu  bersih dan jernih. Sambil duduk-duduk di tepi pantai, TROPIS pun seakan  ingin terus menikmati semua pesona itu. Beberapa turis terlihat hendak  menyelam, sementara lainnya melakukan snorkling. Sedang, Sumarto dan  beberapa teman lainnya telah turun menyelam. Keindahan laut Tulamben,  memang menggoda para penggila selam untuk segera terjun ke dasar  lautnya.</p>
<p>BANGKAI KAPAL USAT LIBERTY</p>
<p>Tulamben adalah salah satu tempat rekreasi penyelaman yang sudah  sangat terkenal, baik pecinta kegiatan menyelam domestik maupun  mancanegara. Apa yang membuat Tulamben begitu terkenal? Tak lain adalah  kemudahan dan kekayaan biota laut yang ditawarkan oleh tempat penyelaman  ini. Apalagi, di sekitar lokasi penyelaman terdapat bangkai kapal USAT  Liberty (sebuah kapal angkut tentara angkatan darat Amerika Serikat yang  tenggelam, setelah ditorpedo oleh kapal selam Jepang tahun 1942).</p>
<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_1383" class="wp-caption alignleft" style="width: 218px;">
<dt class="wp-caption-dt"><a rel="attachment wp-att-1383" href="http://www.gedepangrango.org/release-owa-jawa-di-tnggp/1370-revision-10/"><img class="size-medium wp-image-1383" title="tulamben" src="http://ekowisata.org/wp-content/uploads/2011/12/tulamben-208x300.jpg" alt="" width="208" height="300" /></a></dt>
</dl>
</div>
<p>Lokasi penyelaman ini merupakan areal termudah untuk dinikmati.  Penyelam dari semua tingkatan keahlian, bisa melakukan penyelaman di  tempat ini. Lokasi ini bisa dicapai langsung dari bibir pantai dan  terletak sekitar 25 meter dari pesisir dengan kedalaman antara 5 meter  hingga 30 meter di bawah permukaan laut. Selama musim Iiburan, lebih  dari 100 penyeiam mendekati bangkai kapal ini tiap hari.</p>
<p>Keindahan Tulamben juga ditambah dengan biota bawah lautnya, mulai  dari yang kecil seperti siput laut, kepiting dan udang, ghost pipefish  dan pygmy seahorse sampai yang besar, seperti hiu, ikan Mola, dan  lainnya. Tulamben menawarkan situs penyelaman yang sesuai untuk kursus  penyelaman, penyelaman santai (fun dive) dan fotografi bawah air.</p>
<p>Nama Tulamben sendiri berasal dari batulambih, yang berarti “banyak  batu”, merujuk pada letusan Gunung Agung yang mempengaruhi tempat ini  dari waktu ke waktu. Nama ini berubah menjadi Batulamben, dan akhirnya  Tulamben.</p>
<p>Saat malam beranjak datang, seluruh peserta yang sebagian besar  adalah Kepala Balai Tarnan Nasional seluruh Indonesia, kembali  berkumpul. Di bawah temaram sinar bulan dan indahnya laut Tulamben,  dibukalah secara simbolis kegiatan “Pelatihan Pemandu dan Interpreter  Wisata Alam Angkatan II”. Saat itu juga dijelaskan lebih detil tata cara  dan aturan menyelam yang baik.</p>
<p>“Tulamben menjadi contoh swadaya masyarakat yang menjaga alam.  Bagaimana sebuah kawasan di luar kawasan konservasi, mempunyai tempat  begitu indah. Bagaimana mensinergikan semua sumber daya alam yang ada  untuk bersama-sama membangun jasa lingkungan dengan berbagai cara,” ujar  Sumarto. Di Tulamben, para nelayan tidak ada yang memancing, sesuai  adat mereka. “Tulamben juga contoh nyata bagaimana sebuah ekosistem laut  yang sangat sehat, dengan adanya sinergi pemda, pusat, adat,  masyarakat, pemandu dan pihak swasta,” tambah Sumarto.</p>
<p>Malam itu, peserta diingatkan agar mereka dapat bangun pagi sekali  dan dan menyelam sebelum pukul enam pagi. Sebab dengan melakukan  penyelaman di waktu itu, dapat menyaksikan ribuan ekor ikan yang sangat  cantik, khususnya ketika ikan baru bangun dari tidurnya.</p>
<p>“Silakan enjoy saja menikmati indahnya dasar laut Tulamben,” pesan  Martin, salah seorang Instruktur selam dan kecelakaan kerja, yang juga  motivator pelatihan lapangan, sekaligus pelatih manajemen pemandu  bahari.</p>
<p>Karenanya, keesokan harinya, pagi sekali para peserta sudah Iengkap  dengan pakaian selamnya. Sesuai dengan kelompok yang telah dibagi tadi  malam, satu-persatu kelompok penyelam ini terjun ke dasar laut Tulamben.  Dan bisa ditebak, semua penyelam sangat mengagumi keindahan dasar laut  Tulamben yang sangat terjaga ekosistemnya.</p>
<p>Setelah puas menyelam, tak banyak waktu istirahat, rombongan segera  bergegas menuju tempat selanjutnya. Perjalanan kami kali ini menuju  Taman Nasional Bali Barat (TNBB), yang juga sudah sangat tersohor  keindahannya.</p>
<p>MENJANGAN RESORT</p>
<p>Lepas tengah hari kami sampai di TN Bali Barat. Menuju Menjangan  Resort, yang berada di dalam kawasan taman nasional ini. Memasuki area  wisata, saya melihat hutan wusu yang begitu kering dan tandus, lantaran  sudah sangat lama tak turun hujan. Namun, tak berapa lama kemudian,  pemandangan mengagumkan tersaji di depan kami, yaitu kawasan wisata alam  yang sangat asri.</p>
<div class="mceTemp">
<dl class="wp-caption alignleft" style="width: 310px;">
<dt class="wp-caption-dt"><img title="bb" src="http://ekowisata.org/wp-content/uploads/2011/12/menjangan-300x198.jpg" alt="mm" width="300" height="198" /></dt>
</dl>
</div>
<p>Menjangan Resort, merupakan sebuah areal wisata alam yang dikelola  oleh PT Trimbawan Swastaman Sejati (PT TSJ), yang merupakan BUMS  pernegang izin usaha penyediaan sarana wisata alam di TN Bali Barat.  Kegiatan utamanya adalah menyediakan berbagai sarana dan jasa wisata  alam kepada para wisatawan, seperti penginapan, restoran, dan fasilitas  lainnya.</p>
<p>“Tersedia pula stasiun riset konservasi, yakni fasilitas penelitian  yang disediakan oleh pemegang izin bagi tamu-tamu peneliti dengam tarif  tertentu,” ujar Sadtata, salah seorang pemandu di Menjangan Resort.  Pemberlakuan tarif merupakan hak pemegang izin, sementara pemerintah  hanya memungut tarif masuk kawasan dan pungutan hasil usaha, sesuai PP  No.59 sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).</p>
<p>Selain stasiun riset konservasi, pengelola Menjangan Resort juga  menyediakan fasilitas kegiatan menanam atau adopsi pohon. Kegiatan ini  dilakukan untuk mendukung program pengelola kawasan, yakni pihak Balai  TN Bali Barat, khususnya dalam menjalankan fungsi pelestarian. Dari  kegiatan ini, pemegang izin juga diperkenankan mengutip pungutan kepada  orang tua asuhnya.</p>
<p>Adopsi pohon dilakukan dengan menawarkan paket kegiatan penanaman  jenis pohon tertentu (endemik), kepada tamu. Untuk selanjutnya, pohon  tersebut dirawat selama jangka waktu tertentu oleh pemegang izin, serta  dilengkapi report perkembangannya secara periodik.</p>
<p>“Ada sekitar 150 pohon yang sudah ditanam oleh para pengunjung. Kami  mengklasifkasikan beberapa jenis pohon yang ada. Misal, kategori gold  untuk pohon sejenis sawo kecik. Kategori silver, untuk beberapa tanaman  buah, “ ujar Sadtata.</p>
<p>Selain itu, ada pula adopsi satwa. Di mana pemeliharaan hingga  pelepasan satwa (endemik), hasil penangkaran ditawarkan sebagai paket  kegiatan kepada tamu dengan tarif tertentu. Tamu tersebut juga  memperoleh report perkembangan satwa itu secara rutin. Salah satu satwa  yang dapat diadopsi adalah burung jalak Bali hasil penangkaran.</p>
<p>Di lokasi ini, kami sempat mengunjungi beberapa bangunan yang ada,  sebelum akhirnya singgah di sebuah rumah panggung khas Minahasa, yang  terletak persis di tengah lokasi. Di dalamnya, kami melihat ruang tidur  yang nyaman, dapur dan kamar mandi dengan desain “hotel bintang”. Kami  juga melihat laboratorium yang menyediakan semua fasilitas penelitian  lengkap dan ruang meeting yang tertata sempurna.</p>
<p>Dengan luas bangunan sekitar 380 hektar, Menjangan Resort menyajikan  sebuah paket wisata alam yang begitu eksostis. Meski berada di tengah  hutan, tapi semua bangunan yang ada didesain dengan konsep elegan dan  mewah.</p>
<p>Di sini terlihat jelas, bagaimana pihak pengelola mampu memadukan  unsur alam dan gaya modern. Menjadikan Menjangan Resort sebagai pilihan  lain dalam paket wisata yang ditawarkan di Bali. Areal ini juga menjadi  contoh, pengusahaan wisata alam yang sudah go green, dengan bangunan  dari kayu, hemat Iistrik, dan pemanfaatan sampah. Karenanya, dengan  semua konsep yang dikembangkan ini, Trimbawan Menjangan Resort, terpilih  sebagai salah satu dari 3 objek pariwisata alam terbaik tahun 2010,  oleh Kementerian Kehutanan.</p>
<p>[Sumber: TROPIS | Edisi 08 Tahun IV-2011 | <a href="http://jasling.dephut.go.id/" target="_blank">Egar</a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gedepangrango.org/menikmati-pesona-bawah-laut-tulamben/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Keluarga Bartels, Kisah Hidup Keluarga Penemu Elang Jawa Dari Pasir Datar Ciparay Sukabumi,  Sebuah Tragedi Ilmu Pengetahuan</title>
		<link>http://www.gedepangrango.org/keluarga-bartels-kisah-hidup-keluarga-penemu-elang-jawa-dari-pasir-datar-ciparay-sukabumi-sebuah-tragedi-ilmu-pengetahuan/</link>
		<comments>http://www.gedepangrango.org/keluarga-bartels-kisah-hidup-keluarga-penemu-elang-jawa-dari-pasir-datar-ciparay-sukabumi-sebuah-tragedi-ilmu-pengetahuan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Dec 2011 09:16:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<category><![CDATA[elang jawa]]></category>

		<category><![CDATA[Max Bartels]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gedepangrango.org/?p=2642</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ardi Andono, MSc (1)
 
Bagi masyarakat Indonesia, saat ini popularitas Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) sudah hampir sejajar dengan Badak Jawa, Badak Sumatera, Harimau Sumatera, Gajah Sumatera dan Orang Hutan. Popularitas ini menobatkan Elang Jawa menjadi satwa nasional sejak tahun1993. Namun jika kita bertanya siapakah penemu Elang Jawa? Bagaimaan kisah hidupnya? dimanakah hasil karya-karyanya? Sumbangsih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>Oleh Ardi Andono</span><span lang="EN-US">, MSc <strong>(1)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><a href="http://www.gedepangrango.org/wp-content/uploads/2011/12/dsc_7136.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-2646" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;" title="Dr. Max Bartels Jr" src="http://www.gedepangrango.org/wp-content/uploads/2011/12/dsc_7136-125x180.jpg" alt="" width="100" height="144" /></a>Bagi masyarakat Indonesia, saat ini popularitas <strong>Elang Jawa</strong> (<strong><span><em>Spizaetus bartelsi</em></span></strong>) sudah hampir sejajar dengan Badak Jawa, Badak Sum</span><span lang="EN-US">a</span><span>tera, Harimau Sumatera, Gajah Sumatera dan Orang </span><span lang="EN-US">H</span><span>utan. Popularitas ini menobatkan Elang Jawa menjadi satwa nasional sejak tahun1993. Namun jika kita bertanya siapakah penemu Elang Jawa? Bagaimaan kisah hidupnya? dimanakah hasil karya-karyanya? Sumbangsih apa yang telah diberikan bagi dunia ilmu pengetahuan Indonesia? Tentu sangat sedikit yang tahu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Bartels</strong> merupakan nama (keluarga) dari penemu Elang Jawa yang ternyata telah menemukan 21 species baik berupa burung, kelelawar, dan tikus, 7 diantaranya masuk dalam <em>Red List IUCN</em>, serta 2 genus tikus-tikusan. Selain itu, ribuan specimen dan telur burung koleksi pribadi “dirampok” oleh  Ilmuwan Belanda dengan menggunakan jasa tentara Jepang, saat ini koleksi tersebut berada <em>National Museum of Natural History</em> (NMNH) <em>Leiden, The Netherlands</em>. <span id="more-2642"></span>Hingga, Bartels Junior meninggal sebagai Rhomusa di Burma dengan meninggalkan anak perempuannya yang baru berumur 5 tahun dan baru diketahui makamnya 50 tahun kemudian.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Seluruh kisah tersebut tidak terlepas dari lokasi musium sekaligus rumah oleh keluarga Bartels di Pasir Datar Sukabumi yang saat ini menjadi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Saat ini terjadi salah persepsi tentang siapakah <strong>Bartels</strong> atau <strong>Max Bartels</strong>, yang ternyata merupakan dua orang yang berbeda yakni </span><span><strong>Max Eduard Gottlieb Bartels</strong> (24 January 1871-7 April 1936) atau <strong>MEG </strong></span><span><strong>Bartel</strong>s</span><span> (ayah) dan <strong>Dr. Max Bartels</strong> (anak) (7 Juni 1902 - 6 Oktober 1943). Pada mulanya nama Max Bartels digunakan oleh MEG </span><span>Bartels</span><span> sang ayah dalam jurnal-jurnal ornitologinya sebagai nama singkatnya, namun setelah anak pertamanya lahir nama itu diberikan kepada anak tertuanya. Untuk membedakan hasil karya ayah dan anak, beberapa peneliti terkenal seperti <strong>Edwin Stresemann</strong>, <strong>HJV Sody</strong> dan <strong>JH Becking</strong> membedakan mereka sebagai Max Bartels Sr (MEG) dan Max Bartels Jr. Didalam tulisan ini akan digunakan MEG Bartels sebagai Max Bartels Senior dan Dr. Max Bartels sebagai Max Bartels Junior.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<ul>
<li><span style="font-weight: bold;">Max Eduard Gottlieb Bartels (24 January 1871-7 April 1936)</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>MEG Bartels, berkebangsaan Jerman, adalah seorang Ornitholog yang dilahirkan di kota </span><span class="hps"><span>Bielefeld</span></span><span class="longtext"><span> </span></span><span>Jerman<span class="longtext"> dari seorang ayah yang bekerja sebagai arsitek. Ia</span> merupakan anggota <em>Deutsche Ornithologische Gesellschaft</em> (</span><em><span class="hps"><span>Jerman</span></span><span><span> </span></span><span class="hps"><span>Ornitolog</span></span><span><span> </span></span><span class="hps"><span>Society</span></span></em><span><span>) yang berpusat di Boon sejak tahun 1903. Pada </span></span><span>tahun </span><span class="hps"><span>1895, </span></span><span><span>MEG </span></span><span>Bartels (usia 24 tahun) hijrah ke Pulau Jawa untuk menghindari Wajib Militer di Jerman, selain itu MEG Bartels sangat tertarik pada kehidupan alam liar terutama burung. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>MEG Bartels bekerja pada Perkebunan Teh “Pangrango” dengan lokasi pada <strong>Resort Pasir Datar, Sukabumi</strong> hingga pada tahun 1898 MEG Bartels telah menjadi Kepala Perkebunan tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal">Pada tanggal 19 Agustus 1901, MEG Bartels menikah dengan <em>Angeline Cardine Henriette Maurenbrecher</em> orang Belanda yang memiliki keahlian sebagi pelukis dan salah satu lukisannya berada di <em>National Museum of Natural History Leiden</em>. Hasil pernikahannya terlahir <strong>Dr. Max Bartels Jr</strong> (1902-1943), <strong>Ernst Bartels</strong> (1904-1976), dan <strong>Hans Bartels</strong> (1906).</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal">MEG Bartels memiliki kegemaran mengoleksi specimen satwa terutama berbagai jenis burung dan telurnya, harimau jawa, macan tutul, tikus, tulang banteng <span lang="EN-US">dll </span>tercatat sebagai koleksi Keluarga Bartels yang kini berada di <em>National Museum of Natural History</em> (NMNH) Leiden. Berkat kegemarannya tersebut, beberapa nama burung, tikus dan tupai berhasil diidentifikasi berdasarkan koleksinya oleh karena itu nama<em> Bartels <strong>(2)</strong>/Max <strong>(3)</strong> /Angeline<span class="MsoFootnoteReference"> <strong>(4)</strong></span> </em>digunakan dalam nama latin satwa tersebut. Untuk menampung koleksinya tersebut MEG Bartels membangun sebuah museum koleksi di Pasir Datar<span lang="EN-US">, Sukabumi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango</span>.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>MEG </span><span>Bartels</span><span> meninggal pada tanggal </span><span>7 April 1936 </span><span>dan dimakamkan di Pasir Datar sesuai surat wasiat yang disampaikan kepada anak sulungnya, Dr Max Bartels, yang mengharapkan dimakamkan berdekatan dengan museum dan pegunungan.</span></p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gedepangrango.org/keluarga-bartels-kisah-hidup-keluarga-penemu-elang-jawa-dari-pasir-datar-ciparay-sukabumi-sebuah-tragedi-ilmu-pengetahuan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Penutupan Kegiatan Pendakian di TNGGP Pada Bulan Januari - Maret 2012</title>
		<link>http://www.gedepangrango.org/penutupan-kegiatan-pendakian-di-tnggp-pada-bulan-januari-2012-maret-2012/</link>
		<comments>http://www.gedepangrango.org/penutupan-kegiatan-pendakian-di-tnggp-pada-bulan-januari-2012-maret-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 02:20:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gedepangrango.org/?p=2596</guid>
		<description><![CDATA[Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Balai Besar TNGGP Nomor : SK.341/11-TU/3/2011 tanggal 8 Desember 2011 Tentang Penutupan Kegiatan Pendakian Dalam Rangka Pemulihan Ekosistem Hutandi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, maka pada tanggal 1 Januari sampai dengan 31 Maret 2012, kegiatan pendakian untuk umum di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) DITUTUP.

Untuk Selengkapnya bisa dibaca pengumuman/ SK KaBabes [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span>Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Balai Besar TNGGP Nomor : SK.341/11-TU/3/2011 tanggal 8 Desember 2011 Tentang Penutupan Kegiatan Pendakian Dalam Rangka Pemulihan Ekosistem Hutandi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, maka pada tanggal <strong><span style="color: #0000ff;">1 Januari sampai dengan 31 Maret 2012</span></strong>, kegiatan pendakian untuk umum di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) <strong>DITUTUP</strong>.</span></p>
<p><span id="more-2596"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span>Untuk Selengkapnya bisa dibaca<strong><a href="http://www.gedepangrango.org/wp-content/uploads/2011/12/penutupan_pendakian_2011.pdf"> pengumuman/ SK KaBabes No.SK.341/11-TU/3/2011 versi pdf</a><a href="http://www.gedepangrango.org/wp-content/uploads/2011/12/pengumuman211.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-2625" title="pengumuman211" src="http://www.gedepangrango.org/wp-content/uploads/2011/12/pengumuman211-159x180.jpg" alt="" width="143" height="162" /></a></strong> :</span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">[ teks © TNGGP 082011 | ME - red ]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gedepangrango.org/penutupan-kegiatan-pendakian-di-tnggp-pada-bulan-januari-2012-maret-2012/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kondisi gunung Gede sesuai laporan bulan Nopember dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi</title>
		<link>http://www.gedepangrango.org/kondisi-gunung-gede-sesuai-laporan-bulan-nopember-dari-pusat-vulkanologi-dan-mitigasi-bencana-geologi/</link>
		<comments>http://www.gedepangrango.org/kondisi-gunung-gede-sesuai-laporan-bulan-nopember-dari-pusat-vulkanologi-dan-mitigasi-bencana-geologi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Dec 2011 23:16:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<category><![CDATA[kondisi gunung gede]]></category>

		<category><![CDATA[Nopember]]></category>

		<category><![CDATA[vulkanik]]></category>

		<category><![CDATA[vulkanologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gedepangrango.org/?p=2681</guid>
		<description><![CDATA[Berdasarkan hasil laporan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Pos Pengamatan Gunungapi Gede yang berada di Desa Ciloto Kecamatan Cipanas Telp (0263) 511343 Kabupaten Cianjur Jawa Barat sesuai  Surat Nomor : 11/43.02/BGV.P.GDE/2011 Tanggal 1 Desember 2011 perihal Laporan Kegiatan Gunung Gede dijelaskan, bahwa dalam bulan Nopember kegiatan Gunung Gede dalam keadaan normal.

Kondisi normal Gunung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; "><span>Berdasarkan hasil laporan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Pos Pengamatan Gunungapi Gede yang berada di Desa Ciloto Kecamatan Cipanas Telp (0263) 511343 Kabupaten Cianjur Jawa Barat sesuai  Surat Nomor : 11/43.02/BGV.P.GDE/2011 Tanggal 1 Desember 2011 perihal Laporan Kegiatan Gunung Gede dijelaskan, bahwa dalam bulan Nopember kegiatan Gunung Gede dalam keadaan normal.<span id="more-2681"></span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; "><span>Kondisi normal Gunung Gede tersebut dapat terdeteksi dari keadaan visual, kegiatan Gunungapi itu sendiri dan kondisi kegempaannya, yang tergambar sebagai berikut :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; "><strong><span>Keadaan Visual</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; ">
<ul>
<li>Cuaca di sekitar pos pengamatan dalam bulan ini, umumnya cerah dari pagi hari sedang siang sampai sore hari cuaca mendung serta hujan.</li>
<li>Hujan yang tercatat sebanyak 41 kali, hujan gerimis sampai lebat.</li>
<li>Hembusan angin umumnya tenang kadang bertiup lemah dari tenggara.</li>
<li>Suhu udara tercatat maksimum 23 <sup>0</sup>C dan Minimum 19 <sup>0</sup>C</li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; "><span style="font-weight: bold;">Keadaan Kegiatan Gunungapi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; ">
<ul>
<li>Kegiatan yang dapat diamati dari pos pengamatan, tidak menunjukkan suatu perubahan permukaan yang mencolok.</li>
<li>Puncak gunung gede sering terlihat jelas pada waktu pagi hari dan tidak terlihat kepulan asap di atas kawahnya. Pada siang sampai sore hari sering tertutup kabut 0 – I s.d 0 - III.</li>
<li>Pemantauan lain yang terkait erat hubungannya dengan aktivitas vulkanik gunung gede tidak ada.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; "><span style="font-weight: bold;">Kegempaan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; "><span>Pada Pesawat radio telemetri seismograf PS-2 terlihat beroperasi normal dan merekam gempa sejumlah 49 kali terdiri dari : 16x gempa vulkanik  A, 4x gempa tektonik lokal, 29x gempa tektonik jauh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; "><span>Sehingga status kegiatan Gunung Gede dapat disimpulkan masih dalam keadaan NORMAL.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; ">[ teks © TNGGP 092011 | ME - red ]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gedepangrango.org/kondisi-gunung-gede-sesuai-laporan-bulan-nopember-dari-pusat-vulkanologi-dan-mitigasi-bencana-geologi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bank Mandiri Selamatkan Hutan Melalui Program Adopsi Pohon di TNGGP.</title>
		<link>http://www.gedepangrango.org/bank-mandiri-selamatkan-hutan-melalui-program-adopsi-pohon-di-tnggp/</link>
		<comments>http://www.gedepangrango.org/bank-mandiri-selamatkan-hutan-melalui-program-adopsi-pohon-di-tnggp/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Nov 2011 22:46:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tangguh Triprajawan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>

		<category><![CDATA[adopsi pohon]]></category>

		<category><![CDATA[bank mandiri]]></category>

		<category><![CDATA[gede]]></category>

		<category><![CDATA[pangrango]]></category>

		<category><![CDATA[penanaman]]></category>

		<category><![CDATA[pohon]]></category>

		<category><![CDATA[taman nasional gunung gede pangrango]]></category>

		<category><![CDATA[TNGGP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gedepangrango.org/?p=2708</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu 26 November 2011, sekitar 40 orang dari Bank Mandiri melakukan penanaman 800 pohon atau sekitar 2 ha di Blok Pasir Ipis, Resort Cimande, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).Penanaman tersebut dilakukan melalui Program Adopsi Pohon yaitu program penanaman pohon dengan pemeliharaan selama 3 tahun termasuk didalamnya terdapat kegiatan pemberdayaan dan bantuan modal usaha terhadap masyarakat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_2711" class="wp-caption alignleft" style="width: 164px"><a href="http://www.gedepangrango.org/wp-content/uploads/2012/01/pb171220.jpg"><img class="size-medium wp-image-2711  " title="Mandiri menanam" src="http://www.gedepangrango.org/wp-content/uploads/2012/01/pb171220-240x180.jpg" alt="Mandiri menanam" width="154" height="115" /></a><p class="wp-caption-text"> </p></div></p>
<p style="text-align: justify;">Sabtu 26 November 2011, sekitar 40 orang dari Bank Mandiri melakukan penanaman 800 pohon atau sekitar 2 ha di Blok Pasir Ipis, Resort Cimande, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).Penanaman tersebut dilakukan melalui Program Adopsi Pohon yaitu program penanaman pohon dengan pemeliharaan selama 3 tahun termasuk didalamnya terdapat kegiatan pemberdayaan dan bantuan modal usaha terhadap masyarakat sekitar kawasan TNGGP.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-2708"></span></p>
<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_2712" class="wp-caption alignright" style="width: 202px;">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://www.gedepangrango.org/wp-content/uploads/2012/01/pb171194.jpg"><img class="size-medium wp-image-2712 " title="Simbolis Mandiri" src="http://www.gedepangrango.org/wp-content/uploads/2012/01/pb171194-240x180.jpg" alt="Simbolis Mandiri" width="192" height="144" /></a></dt>
</dl>
</div>
<p style="text-align: justify;">Kawasan hutan TNGGP merupakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciwilung, Cimandiri, Cisadane &amp; Cimandiri  yang berada di bagian hulu. Kegiatan menanam pohon yang dilakukan BankMandiri di kawasan TNGGP secara otomatis turut menyumbang kebutuhan air bagi sekitar 20 juta penduduk yang tinggal di sekitar Jawa Barat dan Jakarta  dengan ikut menjaga kelestarian hutan yang menjadi sumber air dan daerah tangkapan air. Hal ini diperkuat dengan  penelitian yang pernah dilakukan oleh Otto Soemarwoto (1994) yang menyatakan bahwa TNGGP menghasilkan air sebanyak 231 Milyar liter/tahun.</p>
<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_2713" class="wp-caption alignleft" style="width: 202px;">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://www.gedepangrango.org/wp-content/uploads/2012/01/pb171268.jpg"><img class="size-medium wp-image-2713 " title="Seremonial Mandiri" src="http://www.gedepangrango.org/wp-content/uploads/2012/01/pb171268-240x180.jpg" alt="Seremonial Mandiri" width="192" height="144" /></a></dt>
</dl>
</div>
<p style="text-align: justify;">Kepedulian Bank Mandiri terhadap kelestarian hutan patut kita hargai. Diharapkan kepedulian tersebut menular ke seluruh masyarakat Indonesia untuk ikut berperan serta dalam menjaga kelestarian hutan Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #7f7f7f;">[teks &amp; gambar | tangguh &amp; R. Cimande]</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gedepangrango.org/bank-mandiri-selamatkan-hutan-melalui-program-adopsi-pohon-di-tnggp/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

