“fasilitasi Kelompok Tani Hutan (kth) Binaan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Melalui Pelatihan Business Plan”

Cibodas (15/11/17) dilaksanakan kegiatan Pelatihan Business Plan yang dibuka oleh Plt. Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Ir. Herry Subagiadi, M.Sc. bertempat di Ruangan Aula Edelweiss, Balai Besar TNGGP. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa Kelompok Tani Hutan (KTH) yang merupakan perwakilan dari masyarakat diharapkan berperan sebagai agen dari TNGGP selain memberdayakan diri dalam kegiatan peningkatan usaha ekonomi  tetapi juga dapat berperan dalam upaya pelestarian hutan konservasi mengingat kawasan TNGGP merupakan asset umum (public good) yang dikelola untuk kepentingan umum dengan segala potensi hayati dan non hayati yang terkandung di dalamnya.

Pelatihan bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan KTH binaan. Peserta merupakan anggota-anggota KTH binaan Balai Besar TNGGP yang telah dibentuk pada tahun 2016 berdasarkan hasil identifikasi potensi SDA dan ekonomi di seluruh desa penyangga TNGGP yang berjumlah 65 desa yang tersebar di tiga kabupaten yaitu Cianjur, Sukabumi, dan Bogor. Peserta kegiatan pelatihan terdiri dari: KTH Gerbi Lestari (Desa  Cimacan, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur), KTH Hejo Cipruk (Desa Gekbrong, Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur), KTH Tunas Bangsa (Desa Cihanjawar, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Bogor), KTH Lestari Alam Sejahtera (Desa Ambarjaya, Kecamatan Ciambar, Kabupaten Sukabumi), KTH Tunas Harapan (Desa Pasir Buncir, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor), dan KTH LBC Lestari (Desa Cileungsi, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor). Jumlah peserta sebanyak 40 orang. Kegiatan ini salah satu usaha menuju KTH yang mandiri.

Setiap kelompok binaan memiliki karakteristik, potensi, dan permasalahan yang berbeda-beda dengan kesamaan latar belakang kelompok eks. penggarap di lahan TNGGP. Potensi usaha ekonomi yang akan dikembangkan kelompok berdasarkan hasil identifikasi tipologi masyarakat terutama di kelompok binaan bergerak di bidang perikanan, peternakan, pertanian holtikultur, dan wisata sesuai dengan potensi yang ada. KTH yang akan mengembangkan usaha perikanan berasal dari KTH Gerbi Lestari dan KTH Tunas Harapan, bidang peternakan dengan jenis ternak bebek pada KTH Tunas Bangsa, pertanian dengan jenis komoditi paprika pada KTH Hejo Cipruk, serta terakhir jasa wisata pada KTH LBC Lestari dan KTH Lestari Alam Sejahtera.  Karateristik dan potensi yang berbeda dengan tujuan yang sama yaitu adanya peningkatan pendapatan dan pelibatan masyarakat dalam upaya konservasi hutan secara berkelanjutan perlu adanya perencanaan usaha yang tepat sehingga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan kawasan terjaga.

Konsep perencanaan usaha yang disampaikan oleh RARE mengacu pada metode bisnis kanvas yang dipopulerkan oleh Doktor Pauli. Variabel yang diperhatikan dalam perencanaan usaha (business plan) yaitu jenis pelanggan, nilai yang akan ditawarkan, saluran pemasaran, hubungan pelanggan, aliran pendapatan, sumberdaya alam kunci, kegiatan kunci, mitra kunci dan struktur biaya.  Komponen tersebut yang akan pertimbangan dalam pengembangan usaha. Pelaku usaha akan dapat menaksir kebutuhan biaya dan sumber pendapatan sehingga usaha yang dijalankan tidak sia-sia.

Pelatihan business plan sangat penting diterapkan dalam tahap perencanaan usaha kelompok binaan TNGGP. Dalam pelatihan yang berlangsung selama dua hari tanggal 15 sampai 16 November 2017, masyarakat bersama dengan pendamping/ penyuluh dapat menyusun perencanaan usaha di masing-masing KTH  dan diberikan informasi koridor-koridor yang dapat dilakukan dan tidak boleh dilakukan di kawasan TNGGP. Metode penyampaian materi dilakukan dengan ceramah, diskusi dua arah, dan praktek penyusunan business plan.

Pada hari pertama yaitu praktek penyusunan business plan, anggota KTH diarahkan mengidentifikasi variabel dalam metode bisnis kanvas berdasarkan jenis usaha yang akan dikembangkan. Output dari perencanaan tersebut yaitu kebutuhan biaya dan gambaran keuntungan yang akan diperoleh. Dari business plan yang disusun, anggota KTH didampingi penyuluh diarahkan menyusun rencana kerja dalam 1 tahun ke depan (2018) berdasarkan kegiatan kunci yang akan dilakukan sebagai tindaklanjut dari perencanaan tersebut. Selain itu, menyusun pembagian peran antara kelompok, TNGGP dan pihak lain yang dapat mendukung pengembangan usaha kelompok seperti dinas, lembaga, dan mitra terkait.

Pada hari kedua, anggota KTH diajak menganalisa keterkaitan business plan yang mereka susun dengan keberadaan TNGGP dengan tujuan agar anggota menyadari bahwa keberdaaan TNGGP sebagai potensi kunci bagi keberlanjutan usaha mereka sehingga dapat timbul perlu menjaganya kelestarian hutan TNGGP baik dari potensi wisata, keberadaan air yang menunjang usaha perikanan dan peternakan yang akan mereka jalankan. Selain itu juga, anggota KTH diarahkan untuk membuat bahan promosi dari produk yang mereka buat.

Respon anggota KTH sangat baik dengan adanya pelatihan tersebut harapannya agar penyuluh terus mendampingi dan membimbing mereka di lapangan. Dalam penyampaian pesan dan kesan, anggota KTH juga mengharapkan agar pihak TNGGP dapat membantu KTH dalam menjalankan usaha mereka.  Perencanaan usaha yang telah disusun akan dijadikan dasar mereka dalam menjalankan langkah-langkah di lapangan. Segala sesuatu diperlukan perencanaan terutama perencanaan usaha sehingga tidak akan menjadi sesuatu yang sia-sia.

Sumber: Penyuluh Balai Besar TNGGP