Ditemukan Kembali Lokasi Baru Sang Bunga Langka Di TNGGP

Tanggal 13 September 2018 lokasi baru sebaran bunga langka yaitu Rafflesia rochussenii ditemukan kembali di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Momen menggembirakan ini ditemukan pertama kali oleh personil Resort Cimande yang sedang melaksanakan patroli bersama masyarakat. Ade Frima seorang Polhut Resort Cimande tidak sengaja melihat knop yang awalnya tidak yakin bahwa itu merupakan knop dari Rafflesia rochussenii. Setelah diperhatikan, Ade dan tim meyakini bahwa itu merupakan bunga langka yang selain ditemukan di TNGGP juga pernah ditemukan di Gunung Salak dan Gunung Leuser (Zuhud dkk, 1998). Ade mencatat terdapat 7 knop hidup, 2 knop busuk, dan 1 mekar busuk di lokasi baru tersebut. Pada tahun sebelumnya tepatnya awal bulan Juli 2017 di wilayah Resort Tapos telah ditemukan juga lokasi baru Rafflesia rochussenii. Pertama kali ditemukan oleh Komar yang sedang melaksanakan kegiatan patroli bersama tim. Komar secara tidak sengaja terpeleset dan jatuh disekitar lokasi dimana ditemukannya Rafflesia rochussenii.

Menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi menyebutkan bahwa jenis Rafflesia rochussenii statusnya adalah dilindungi bersama dengan 12 jenis Rafflesia lainnya. Rafflesia rochussenii memiliki sejarah panjang. Tahun 1941 sempat dinyatakan punah karena sering terjadi pengambilan di alam. Pada tahun 1990 jenis ini ditemukan kembali oleh sekelompok mahasiswa pencinta alam dari IPB (Lawalata IPB) di Gunung Gede. Pernah juga ditemukan di Gunung Salak dan Gunung Leuser (Zuhud dkk, 1998). Jenis ini mempunyai sedikit informasi struktur morfologi dan populasinya. Jenis inupun paling dikhawatirkan sedang menuju kepunahan. Pertumbuhan Rafflesia rochussenii diperkirakan membutuhkan waktu selama 27,3 bulan untuk sebuah kuncup sampai mekar dengan waktu mekar yang singkat yaitu selama 7 hari (Zuhud dkk, 1994).

Monitoring Rafflesia rochussenii di TNGGP dilakukan secara rutin setiap tahun khususnya oleh Bidang PTN Wilayah III Bogor. Keberadaan bunga langka ini tidak menutup kemungkinan untuk dijadikan sebagai objek wisata minat khusus seperti yang sudah dilakukan di Bengkulu yang melibatkan masyarakat lokal sebagai interpreter.

Dengan menggeliatnya kembali skema RBM (Resort Based Managament) yang menuntut eksplorasi pada grid-grid pengelolaan, diharapkan tidak ada sejengkalpun kawasan yang tidak terdata baik data pamhut, potensi alam, dan keanekaragaman hayati. Semoga akan terus menemukan sesuatu yang baru dan menggembirakan lagi di TNGGP dan di kawasan konservasi lainnya.

“Jadikan Biodiversitas sebagai panglima untuk kesejahteraan masyarakat”

Salam konservasi!
Sumber informasi: Ade Frima Nurcahya Intan (POLHUT TNGGP)
Tulisan: Agung Gunawan (PEH TNGGP)