Antara Batu Koplak Dan Batu Reok

Badak, harimau, dan banteng, nyata-nyata sudah lenyap dari kawasan hutan Gunung Gede Pangrango. Menyusul pecuk ular, rangkong, dan beberapa jenis lain dari kelompok burung migran, sepertinya juga tak sabar ingin mengikuti jejak tiga jenis satwa pendahulunya. Kawasan ini memang “ba’ pulau ekosistem di tengah lautan pembangunan” terisolasi dari areal hutan konservasi lainnya, jadi lalu-lintas satwa dari dan ke kompleks hutan Gunung Gede Pangrango sangat terbatas, dengan resiko laju kepunahan satwa cenderung lebih tinggi. Wajar, kalau sejak tahun 1993 sudah diwacanakan pembuatan koridor satwa.

Ancaman Serius

Ekosistem hutan hujan tropis pegunungan di kompleks Gunung Gede dan Pangrango ini benar-benar merupakan pulau ekosistem di tengah lautan pembangunan yang semakin mengganas.  Padahal menurut para akhli, laju kepunahan jenis (species) hayati akan lebih dipercepat dengan terpisah-pisah (terpragmentasi) nya  habitat eksositem.

Untuk menjamin kelestarian satwa liar di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), sangat diperlukan penghubung dengan ekositem esensial disekitarnya.  Karena pembangunan yang memagari eksositem kawasan ini semakin hebat.  Jalan raya yang mengelilingi kawasan ini semakin ramai (bahkan setiap hari lalu lintas mengalami macet),  jalan tol akan membentang mulai Ciawi sampai Sukabumi.   Perumahan semakin padat, toko, hotel, dan pabrik terus menjamur.

Ancaman lain datang dari aktifitas gunung api yang telah lama tidak meletus.   Riwayatnya menunjukkan, bila Gunung Gede istirahat 32 tahun, letusan selanjutnya terjadi dengan dahsyat.  Saat ini Gunung Gede sudah istirahat selama 60 tahun.  Bisa dibanyangkan apa akibatnya bila mereka tidak bisa mengungsi (evakuasi).

Pada saat ini, di kawasan TNGGP tercatat hidup lebih dari 100 jenis binatang menyusui (mamalia), lebih dari 260 jenis burung (aves), lebih dari 300 jenis serangga (insekta), lebih dari 20 jenis binatang yang hidup di dua alam (amfibia), sekiar 70 jenis binatang melata (reftilia), lebih dari 10 Jenis ikan (piskes), belum lagi jenis-jenis molusca, jasad renik, dan lain-lain.  Semua asset ini perlu kita amankan.

Babi Dibidik Macan Jadi Korban

Paling tidak tercatat dua peristiwa macan tutul mati terjerat di Blok Batu Reok dan Batu Koplak, pinggir Sungai Cisarongge,  tidak jauh dari jembatan Cibeureum jalan nasional (KM 8,1  Cianjur).  Diduga dua macan tutul yang terjerat tersebut bermaksud hijrah dari kawasan taman nasional ke hutan yang berada di sebelah utara, seberang jalan raya Cipanas-Cianjur, melalui sungai Cisarongge yang bermuara di Sungai Cibeureum.

Sungai Cibeureum mengalir dari Bukit Manangel yang merupakan kompleks Hutan Lindung Gunung Geulis dan Gunung Kasur. Sehingga masuk akal bila banyak orang menduga macan muda yang melintas di daerah ini berasal dari TNGGP menuju Bukit Manangel di seberang jalan raya Cianjur.

Peristiwa pertama tercatat pada tahun 1990, dengan ditemukannya bangkai macan tutul dewasa di Blok Batu Koplak.  Bangkai yang ditemukan sudah membusuk itu langsung dikubur.  Tahun 2010 muncul pula laporan dari masyarakat tentang penemuan bangkai macan tutul di Blok Batu Reok (tidak jauh Blok Batu Koplak), juga terevakuasi sudah membusuk.

Masyarakat menduga, matinya macan tutul di atas, karena masuk jerat yang dipasang untuk menangkap satwa hama yaitu babi hutan,  namun yang terjerat macan tutul. Sungai Cisarongge memang banyak dilaporkan masih sering dikunjungi berbagai satwa liar, terutama babi hutan.  Di sekitar Batu Reok juga masih ditemukan elang jawa bersarang pada pohon besar pinggiran Sungai Cibeureum.

Berbagai dugaan muncul, macan tutul turun gunung karena mengikuti satwa mangsa (babi hutan) yang sering turun ke kebun di sekitar hutan. Namun karena tidak ada laporan babi hutan kena jerat, muncul dugaan lain, sebenarnya macan tutul sedang mencari daerah baru di luar daerah  (home range) tetuanya dan pilihannya jatuh pada hutan yang paling dekat dan terhubung oleh sungai dengan  TNGGP, yaitu Bukit Manangel. Hal ini diperkuat dengan kenyataaan bahwa macan yang ditemukan mati di blok Batu Reok masih termasuk berumur muda.

Sigung Bingung Monyet Terseret

“Melintaslah di jalan raya Puncak perbatasan Bogor Cianjur, pasti akan melihat bangkai sigung atau ganggarangan korban kekejaman pembangunan”, demikian celoteh seorang Bapak tua di angkot Cipanas-Cimacan, di awal tahun 80-an.  Memang sampai awal dekade ini, di Blok Seger Alam, Puncak, hampir bisa dipastikan ada saja satwa liar yang menyebrang jalan terlindas kendaraaan.

Namun seiring dengan semakin intensifnya pemanfaatan lahan di wilayah Puncak, korban kecelakaan lalu-lintaspun terus berkurang.  Diduga karena pepohonan sepanjang koridor di lereng Pasir Sumbul, sudah banyak ditebang, dan lahan diolah menjadi lahan usahatani. Sampai awal tahun 2000-an, di wilayah ini kadang  masih ditemukan satwa liar mati terlindas mobil, seperti sigung, musang, atau ganggarangan, terkadang monyet. Mereka tertabrak mobil saat menyeberang jalan dari arah Gunung Gede ke Talagawarna atau sebaliknya. Saat ini paling hanya monyet yang sedang “bernostalgia” yang masih sering jadi korban lalu lintas di sekitar Blok Seger Alam.

Koridor Pasir Sumbul – Seger Alam ini menghubungkan ekosistem TNGGP dengan Cagar Alam Talagawarna dan Taman Wisata Jember serta Hutan Lindung Megamendung.

Ayam Selamat Macan Tersekap

Hari sudah malam (sekitar jam 23.30 WIB), Hendi Suhendi alias Goci (53 tahun)  seorang warga Kampung Perbawati dibangunkan oleh bau Sigung yang menyengat  dan suara ayam yang berisik. Saat  keluar rumah (untuk memeriksa lingkungan), kesan pertama yang dirasakan Goci ada sesuatu yang lari, kabur ke arah hutan, ayam berhamburan dari kolong rumah. Beberapa saat kemudian lampu senternya menumbuk sesuatu yang ternyata seekor anak macan tutul (Panthera pardus melas) yang langsung lari ke kolong rumah dan terjebak di sana.

Setelah bermalam dikeremangan kolong rumah orang, sekitar jam 12.15 WIB, ”calon penguasa rimba” itu  berhasil dievakuasi.  Setelah melalui berbagai pemeriksaan dan diskusi panjang, akhirnya “calon pesaing sang ayah” ini diantar pulang pada jam 23.35 WIB.

Tiga bulan berlalu, si “dede matul” tidak kelihatan batang hidungnya, padahal di sekitar tempat pelepasan sudah dipasang beberapa kamera trap.  Kabar baik datang dari beberapa warga yang  melapor pernah melihat macan tutul melintas pinggiran sungai Cipada. Dilihat dari jejaknya kemungkinan si “dede” dikawal “bundanya” kembali ke rumah asal di Blok Baru Benteng lewat koridor berupa sungai sejauh lebih kurang 5 km dari tempat pelepasan.

Si tutul masuk Kampung Perbawati kali ini (paling tidak) merupakan lawatan keempat.  Sebenarnya si penguasa rimba ini tidak bermasud menyatroni perkampungan, mereka hanya ingin lintas saja dari taman nasional ke hutan di Blok Baru Benteng (milik PT Perkebunan Nusantara VIII Goalpara). Namun karena dipinggiran habitatnya ada sesuatu yang menarik maka dengan terpaksa mampir, sekedar untuk mencicipi kambing atau ayam.

Akhir-akhir ini muncul desas-desus bahwa kebun teh akan berubah menjadi tempat wisata karena HGU oleh PT Perkebunan Nusantara VIII menjelang habis. Sebagian penduduk menghkhawatirkan koridor Cipada ini kedepan akan hilang atau rusak sehubungan dengan perubahan pengunaan lahan.

Optimislah Saudaraku!

Melihat peristiwa diatas mungkinkah jalur-jalur tersebut bisa berfungsi sebagai koridor satwa antar ekosistem?  Mungkinkah bisa berperan sebagai pembuka isolasi pergerakan satwa dengan aman dan nyaman?  Banyak orang optimis bisa diwujudkan.  Ada juga orang yang berpendapat susah untuk mewujudkannya karena terkait kepemilikan lahan oleh banyak pihak.

Dengan penuh semangat, kelompok optimis mengatakan, “susah atau mudah koridor hidupan liar itu tetap harus diusahakan”. Sehingga kegiatan yang sudah diwacanakan Konsorsium Gede Pahala sejak tahun 1993 ini bisa terwujud. 

Tahun 2006, TNGGP berhasil menginventarir ekosistem esensial yang berdekatan.  Di wilayah Bogor ada Leuweung Larangan, Hutan Lindung Megamendung, dan Cagar Alam Talagawarna.  Di wilayah Cianjur  ada Taman Wisata Jember dan Hutan Lindung Gunung Kasur/ Gunung Geulis.  Di arah selatan (Sukabumi) ada Hutan Pendidikan Gunung Walat.

Tahun 2017 telah dilakukan pembinaan daerah penyangga untuk Pertimbangan Habitat Satwa Sebagai Koridor.  Kegiatan ini dimaksudkan untuk sosialisasi dan pembinaan masyarakat di daerah penyangga tentang ekosistem yang memiliki nilai konservasi tinggi dan kemungkinan sebagai koridor habitat satwa tertentu.

Sumber Informasi:  Dadang Sonandar (Polisi Kehutanan Pelaksana – BBTN Gunung Gede Pangrango)